Minggu, 14 November 2010

Ke Jepara dan Solo, Perjalanan yang "Menyenangkan"



Ini tentang pengalaman saya naik bus ke kota Solo. Memang ini bukan yang pertama kalinya, hanya saya ingin mensharingkan tentang sekilas dunia per-bis-an melalui apa yang saya alami, dan kebetulan saya juga seorang penggemar bis. Pada awal Oktober lalu, saya memutuskan 'secara mendadak' pagi harinya untuk pergi ke Solo. Saat itu juga saya langsung menelpon ke agen bus di Terminal Lebak Bulus. Saya memilih PO Shantika dengan mesin Scania. Bus ini akan mengantar saya ke Jepara via Semarang, nanti dari Semarang baru disambung lagi dengan Patas tujuan Solo. Inilah cara menyenangkan buat saya untuk jalan-jalan.
Kembali saat saya menelpon agen, saya tanya apakah saya bisa memesan seat terdepan. Pihak agen pun menyanggupi dan saya 'deal' dengan agen untuk datang jam 16.30. Sebuah pelayanan yang cukup memuaskan ditambah dengan keberuntungan saya sehingga saya mendapat seat nomor 1.

Saya tiba di terminal Lebak Bulus jam 4 lebih 15 menit, yang saya tempuh dengan naik bus Deborah dari Depok. Saya langsung menuju tiket dan menukarkan uang sejumlah 130 ribu rupiah dengan selembar tiket. Pihak agen kemudian memberitahu saya bahwa bus sudah ada di tempat dan saya bisa langsung masuk ke dalam. Lalu saya menuju ke tempat dimana bis itu berada. Saya senang ketika melihat bis yang saya naiki ini. Ini termasuk armada terbaru yang dimiliki PO ini. Bus dengan mesin Scania K380IB yang dibajukan dengan karoseri Scorpio King pabrikan dari Tentrem, berwarna putih dengan garis-garis dinamis. Bis ini menjadi bahan perbincangan para penggemar bis belakangan ini. Selain karena power-nya yang paling besar saat ini, yaitu 380 HP, di Jawa sendiri hanya 2 PO yang setahu saya baru memiliki mesin tipe ini.

Pukul 17.45, bus berangkat meninggalkan terminal, dan langsung masuk Tol JORR tanpa 'ngetem' lagi di pinggir jalan. Ketika sampai di Jati Asih, bus ini keluar Tol. Saya juga kurang tahu apakah di daerah ini ada agen atau tidak. Bus berhenti sekitar 10 menit, dan menaikkan 1 atau 2 orang penumpang. Kebetulan bus tidak penuh dan masih tersisa beberapa kursi kosong. Setelah itu, bus berjalan lagi dan masuk Tol Cikampek.
Bus kelas eksekutif ini tentunya dapat fasilitas, selain AC dan toilet seperti Reclining seat, leg rest, bantal, selimut, TV LCD dan musik (saat itu TV musik tidak dinyalakan karna tertulis ada masalah dengan sistem audio-nya), dan yang pastinya saya mendapat servis makan prasmanan. PO ini bekerja sama dengan RM. Barokah Indah yang ada di daerah Indramayu (kalau tidak salah). Menu makanan malam ini cukup enak walau terlihat biasa-biasa saja bagi saya. Saya sampai di rumah makan ini sekitar jam 9 kurang, dan penumpang diberi waktu untuk makan, istirahat, dan lain-lain selama 30 menit, setelah itu melanjutkan perjalanan.

Waktu makin malam, dan bagi penumpang lain ini waktunya tidur yang nyenyak. Perut sudah kenyang, AC cukup dingin, ditambah suspensi udara yang nyaman biasanya akan membuat penumpang tertidur nyenyak, cepat atau lambat. Tapi tahukah Anda, bahwa ketika para penumpang tertidur, para sopir bus akan memacu bus-nya lebih cepat dan kadang lebih gila. Inilah pertempuran malam dimulai. Bus berjalan terasa halus, tapi diam-diam angka di speedometer sudah menujukkan 125 km/jam (angka maksimal di speedo). Bus-bus lain yang berada jauh di depan mampu dikejarnya dan disalip, bahkan bus-bus yang 30 menit lebih berangkat lebih dulu dari terminal Lebak Bulus pun sanggup disusulnya. Tapi, saya melihatnya masih wajar, lantaran mesin bus ini yang sanggung mengeluarkan power 380 HP sementara bus-bus lain hanya sekitar 180 HP, 210 HP, 250 HP, 260 HP saja, ditambah solar yang tidak dibatasi. Alhasil, apa yang terjadi semalam menjadi tontonan yang menarik buat saya.

Kekhawatiran mulai melanda karena sampai di tempat tujuan lebih pagi dari yang saya perkirakan. Jam 3 kurang sudah sampai di Semarang, dimana saya berencana turun di sini. Tapi, saya urungkan rencana itu dan saya lebih memilih melanjutkan sampai Jepara, demi keamanan. Lagi-lagi karena bus yang melaju cepat, Semarang - Jepara hanya ditempuh 1 jam kurang. Akhirnya saya meminta tolong kepada kru bus ini untuk diperbolehkan ikut sampai ke garasi sambil menunggu matahari terbit. Setelah menurunkan penumpang terakhir, bus menuju ke garasi yang berada di daerah Ngabul, Jepara. Saya pun diperbolehkan tidur di dalam bus.

Paginya, saya bangun dan meninggalkan garasi. Saya mengurus pertiketan dahulu untuk saya pulang ke Jakarta sebelum beranjak ke Solo, yang ternyata ujung-ujungnya tidak berhasil dan saya putuskan untuk langsung ke Solo. Saya berangkat dari Jepara jam 11 siang, naik bus 3/4 ke Semarang. Waktu saya naik, bis tidak terlalu penuh, dan saya memilih duduk di belakang, dekat pintu belakang. Bus lambat laun dipenuhi orang-orang yang baru masuk/pulang kerja. Mereka kebanyakan adalah para wanita dari pabrik rokok Djarum, terlihat dari topi khas yang mereka pakai. Beruntung saya memilih tempat duduk yang pas, jadi saya tidak ikutan desak-desakan seperti yang lain, lega dan tidak panas. Kalo pagi tadi naik bus besar, Semarang - Jepara bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 1 jam, lain halnya dengan bus reguler ini. Dari Jepara ke Semarang via Demak ditempuh sampai 2 jam lamanya.

Sampai di terminal Terboyo Semarang jam 1 siang. Kebetulan ada Patas Safari ke Solo yang barusan ke luar terminal, lalu saya berlari dan saya cegat di putaran. Ada pengalaman yang menarik selama naik bus ini. Awak bus ini berseturu dan merasa kesal dengan bus beda PO di depannya yang melayani trayek yang sama, lantaran mereka berjalan lebih dulu. Alhasil jalur Semarang Solo menjadi jalur yang terpanas dari yang pernah saya temui. Mereka saling kejar-kejaran, dan biarpun hujan deras, sopir Safari ini tetap melajukan bus ini dengan kencangnya, yang sempat membuat saya was-was. Kemelut antara dua bus dua PO berakhir di terminal Bawen, saat bus yang saya naiki masuk ke terminal sementara sasarannya jalan terus. Tapi, ternyata hal itu tidak membuat sopir bus Safari ini menjadi tenang, dia tetap 'panas' mengendarai bus ini, bahkan sampai mendahului sesama Patas Safari lain, yang berhasil tersusul di daerah Boyolali. Beruntung, saya sampai di Solo dengan selamat.