Kamis, 12 Juli 2012

JJS TransJakarta Koridor XI


Hari Rabu tanggal 11 Juli 2012 dicanangkan sebagai hari libur se-DKI dalam rangka pemilihan calon Gubernur DKI. Bahkan diperkuat dengan dikeluarkannya SK dari Gubernur, dan mau gak mau perusahaan yang ada di wilayah Jakarta wajib diliburkan kecuali beberapa instansi penting. Kantor saya yang biasanya paling rajin, hari cuti bersama pun kadang-kadang tetep masuk, kali ini hari Rabu diliburkan. Lumayan bro... libur sehari untuk bersantai ria. 

Nah, singkat cerita di hari libur bingung mau ngapain, nonton TV bosen, beberapa pose duduk di sofa untuk mendapatkan posisi yang wuenak... tetep aja gak PW. "Ah bosen, keluar rumah aja ah" Tapi kemana? Kebetulan di sini juga ada adek saya yang lagi liburan SD dari kampung. Kenapa gak saya ajak aje adek saya jalan-jalan naik TransJakarta... Murah meriah tapi udah bisa keliling Jakarta. Sekalian saya juga pengen nyobain koridor XI yang baru dibuka dan bus nya baru.

Jadilah kami JJS alias Jalan-Jalan Siang naik TransJakarta. Karena posisi kami ada di Klender jadi perjalanan dimulai dengan naik angkot menuju Kampung Melayu. Biar berasa naik bus nya harus dimulai dari awal. Dalam sekejap kami sampai di Halte TransJakarta Kampung Melayu. Dengan membayar tiket 2x 3500 rupiah, kami bisa masuk ke dalam peron halte. Hal yang pertama kami lihat, peron halte ini lumayan luas. Kedua, kami melihat ada kerumunan yang cukup padat di pintu halte khusus koridor VII jurusan Matraman-Ancol. Untungnya di pintu koridor XI malah sepi, jadi nyaman kalau masuk bus gak berdesak-desakkan.

Bus TJ karoseri Tri Sakti
Baru sampai di pintu halte, bus yang ditunggu udah dateng. Sebelum kita masuk, bus menurunkan penumpang terlebih dahulu di pintu yang berbeda. Bus yang hadir berbalut karoseri dari Tri Sakti. Sekedar info saja, untuk koridor yang baru ini disediakan bus baru dengan warna merah. Sebagian berbalut body dari karoseri Tri Sakti dan sebagian dari karoseri Laksana. Kalau melihat dari review yang sudah ada, saya lebih suka body dari Laksana karena sedikit terlihat rapih finishingnya.

Kami masuk dari pintu belakang, sengaja soalnya mau merasakan dulu kenyamanan seat paling belakang ini. Saat kami duduk kami langsung merasakan getaran mesin. Wadouh... berarti peredamnya gak bekerja donk... atau memang gak ada peredamnya??? Seat paling belakang ini lebih tinggi dari seat yang lainnya karena posisinya berada di atas mesin. Enaknya seat belakang ini karena selain lebih tinggi, seat belakang sejajar dengan arah jalan. Coba dibandingkan seat yang lain, tegak lurus dengan arah jalan dan penumpang saling berhadapan. Jadi segen kalo mau menikmati pemandangan di luar.

Interior TJ karoseri Tri Sakti
Ngomong-ngomong konfigurasi seat, ada yang tahu kenapa bus TransJakarta memakai setingan seat saling berhadapan. Itu karena untung memaksimalkan ruang tengah yang dapat digunakan untuk penumpang berdiri. Sama seperti Commuter Jabodetabek, setingan kursinya saling berhadapan semua. Tapi kalo boleh jujur, setingan seat seperti itu kurang nyaman. Selain karena tidak bisa melihat ke luar, seat yang tidak searah dengan arah jalan membuat pandangan penumpang menjadi kabur dan lama-lama menjadi pusing. Secara logisnya, kalo kita melihat benda bergerak dengan cepat (objek di luar bus seolah-olah bergerak) maka ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, mata kita mengikuti gerak objek-objek itu dan kalau hal itu dilakukan dalam waktu yang cukup lama maka mata kita akan kelelahan (pusing). Kemungkinan yang kedua adalah kita mengabaikan objek di luar yang seolah-olah bergerak, tapi mata kita tetap dapat melihat objek yang bergerak itu sebagai objek yang blur yang lama-kelamaan tetap membuat tidak nyaman (pusing). Itulah mengapa kendaraan jarak jauh menggunakan konfigurasi seat yang searah dengan jalan.

Back to The Topic. Penumpang ternyata tidak ramai, namun bus tidak menunggu lama karena mereka mempunyai time schedule. Jadi mau ramai atau sedikit bus tetap berjalan sesuai dengan yang dijadwalkan. Bus mulai berjalan, dan getaran yang terasa di seat belakang ini makin menjadi-jadi. Terutama ketika bus melaju meningkatkan rpm dan kecepatannya. Saya merasakan mesin bus ini bener-bener kasar. Nggak tau ya... apa emang mesinnya yang kasar atau cara sopir mengendarainya yang kasar. Bus ini menggunakan mesin import dari negara gingseng, kemudian oleh perusahaan lokal bus dirakit dan dirancang dengan persneling automatic dan menggunakan bahan bakar gas (CNG). Mungkin yang perlu dipertanyakan adalah masalah maintenance atau perawatannya. 

Bus melaju dari satu halte ke halte berikutnya, jalur koridor XI saat ini cukup lengang, hanya sedikit terhambat di sekitar pasar jatinegara. Jalannya juga cukup halus, hanya terasa getaran sedikit ketika melewati jalan yang tidak rata. Mungkin ini berkat suspensi udara yang bekerja dengan cukup baik. Perjalanan sampai ketika bus menaiki sebuah fly over melewati jalan dan jalur rel kereta api. Kalo dihitung di peta yang ada, berarti tinggal 3 halte lagi yaitu Penggilingan, Kantor Walikota Jaktim dan Pulo Gebang. Kebetulan saya belum pernah jalan-jalan di sekitar daerah ini. Sampailah kami di sebuah halte yang cukup besar dan keren dan melihat papan dengan nama PT Jaya kontruksi sebagai pembangun halte ini. Sebenarnya cukup tergoda untuk turun di sini, tetapi melihat masih ada satu halte lagi... jadi tanggung.

Peron
Ternyata oh ternyata... ini adalah perhentian yang terakhir. Saya jadi ingat kenapa bus ini tidak mengantarkan sampai ke Pulo Gebang. Itu karena Terminal Pulo Gebang belum selesai dibangun. Terminal yang rencananya menjadi terminal terbesar di Jakarta untuk menggantikan Terminal Pulo Gadung ini belum kelar dan masih dalam tahap pembangunan. Mungkin sekitar tengah tahun atau akhir tahun ini, terminal itu bisa dinikmati. Kemungkinan yang terjadi jika terminal itu sudah dibuka adalah load penumpang di koridor XI ini akan semakin meningkat. Sekarang jelas mengapa koridor XI semuanya memakai bus gandeng, itu karena untuk persiapan menghadapi load penumpang saat Terminal Pulo Gebang dibuka.

Toilet dan Mushola
Taman Halte
Biarpun nggak sampe Pulo Gebang, sampe di halte TJ Kantor Walikota Jakarta Timur juga cukup puas. Haltenya keren dan cukup besar, walaupun nggak sebesar Kampung Melayu tapi fasilitasnya cukup lengkap. Ada toilet dan mushola, bahkan di tengah-tengah ada taman, lumayan buat penyegar kru dan penumpang saat di teriknya matahari. Setelah puas menikmati halte ini, saya bersiap naik TransJakarta kembali. Di jalur sebelah sudah menunggu 2 bus, saya pilih bus yang terakhir saja soalnya bodynya dari Laksana. Gantian bro, tadi naik yang Tri Sakti sekarang yang Laksana punya.

Tanda Ruang khusus Wanita
Masuk ke bus berbody dari karoseri Laksana, interiornya lebih rapih dan modern. Kalo tadi berangkat saya duduk paling belakang, sekarang gantian duduk paling depan. Saya dan adik saya duduk tepat di belakang pask sopir. Belum ada semenit duduk, ada mbak-mbak di depan saya bilang. "Mas, bagian depan khusus wanita". Saya pun langsung kaget plus setengah gak percaya. "Masa mbak???" "Iya mas, gak apa2 sih duduk situ, paling nanti juga disuruh pindah sama petugas" .... eng ing eng... saya langsung angkat bokong saat itu juga sambil tersenyum malu sama si mbak tadi, termasuk adik saya, biarpun anak kecil tapi itungannya dia cowok juga. Saya memperhatikan interior di kabin depan, dan benar ada tandanya yang berukuran cukup besar. Mungkin karena saya masuk dari pintu depan jadi nggak sempet ngeliat tanda-tanda itu. Beruntung juga tadi masih sepi.

Interior TJ karoseri Laksana
Akhirnya kami duduk di deket poros kabin belakang. Bus berjalan dengan penumpang cukup penuh dan saya merasakan nyaman-nyaman saja. Getaran mesin tidak terasa dan suaranya masih terdengar sedikit. Ayunan suspensi juga lebih lembut. Semua itu wajar aja sih karna kami duduk di tengah, jadi terasa lebih nyaman. Perjalanan dari Penggilingan setelah melewati fly over cukup tersendat. Ini akibat dari arus kendaraan yang lumayan banyak, dan tidak ada jalur busway. Bus TransJakarta dari fly over sampai Cipinang tidak dipisah. Kalau lalu lintas macet, kami juga ikut macet. 


TJ karoseri Laksana
Kami turun di Halte Pasar Klender, tinggal jalan sebentar trus naik angkot, kami sampai di rumah. Perjalanan yang cukup singkat tapi cukup memuaskan, untuk bisa menikmati bus TransJakarta di koridor XI ini. Saya nggak sabaran menunggu dibuka terminal yang baru itu, Terminal Pulo Gebang.