Senin, 02 Juli 2012

Ngantri Tiket Kereta Ekonomi

Menjelang 1 Juli 2012, tepat 2 jam sebelum itu, saya dan Bapak saya tiba di Stasiun Pasar Senen. Kami berniat untuk membeli tiket Kereta Ekonomi untuk Bapak saya pulang kampung ke Klaten dan mengantarkan adik saya yang kebetulan masih sekolah SD di kampung. Kenapa kami berdua datang malem-malem karna menurut info yang Bapak saya dapat, pembelian tiket KA baru dibuka jam 12 malam nanti. Paling nggak dengan datang 2 jam lebih awal, kami tidak mengantri panjang.

Sayangnya, perkiraan itu meleset jauh. "Buset!" Ternyata antriannya sudah panjang banget, mungkin kalo diukur ada sekitar 50-100 meter panjangnya. Loket belum dibuka aja, antriannya sudah segini panjangnya. Ada kemungkinan orang-orang ini sudah mengantri dari sore atau siang. 

Kata Bapak, "Mau gak mau". Ada banyak hal kenapa kami memilih kereta api dibandingkan bus. Pertama, jauh lebih murah. Tidak penjelasan karna kereta ekonomi dari dulu memang paling murah dari yang lain, dan mau ada event apapun entah itu Liburan sekolah atau Lebaran, tarifnya tidak naik. Unik bukan... ? Apalagi, tiketing untuk kelas ekonomi sekarang lebih rapih, yang artinya tidak ada desak-desakan lagi dan tidak ada yang berdiri. Saya jadi bertanya-tanya, lalu apa bedanya kelas ekonomi dengan kelas bisnis yang harganya bisa beda 3-6 kali lipat. Lha wong sama-sama non AC. Entahlah, yang jelas hal-hal itu yang menjadikan Kereta kelas Ekonomi menjadi favorit masyarakat umum. Saya katakan umum karena yang ikut ngantri gak hanya golongan ke bawah tetapi ada golongan menengah. Makanya tidak heran kalau antriannya sudah sangat panjang.

Tetapi saya tetap merasa aneh, karna biarpun kelas ekonomi menjadi yang terfavorit, tapi antriannya gak gini juga kaleee... Akhirnya biar nggak bingung, kami bertanya ke Petugas keamanan. Ternyata, loket pemesanan yang dibuka pada pukul 00.00 tanggal 1 Juli 2012 nanti, adalah pemesanan untuk pemberangkatan sampai dengan 90 hari ke depan. Ini artinya tidak hanya untuk pulang Liburan sekolah saja, tetapi kita juga sudah bisa memesan tiket untuk Lebaran nanti. Wadouh... kok bisa digabung, padahal arus Liburan belum selese. Kami, salah satunya yang berniat untuk membeli tiket untuk pulang dari Liburan sekolah yang akan selesai 2 minggu lagi, terpaksa harus ikut mengantri dengan mereka yang rata-rata ingin membeli tiket Lebaran.

Di saat ikut ngantri, saya dikasih petunjuk untuk mengisi formulir. Hal ini untuk kemudahan pendataan, kata petugas keamanan. Di formulir, ada nama siapa saja yang akan naik kereta, beserta nomor identitas atau KTP. Mungkin dengan ini mengurangi adanya percaloan, karena pada waktu akan berangkat nanti, tiket penumpang akan diperiksa, sesuai atau tidak nama yang tertera di tiket dengan nama penumpang.  Masa iya sih, calo juga ikut naik kereta. wkwkwk. Dalam formulir hanya terdapat 4 baris nama yang artinya maksimal satu orang yang mengantri hanya dapat membeli untuk 4 orang saja.

Waktu sudah menunjukan pukul 00.00, dan loket mulai dibuka. Di loket sebelah selatan ini ada 5 loket yang dibuka untuk pemesanan kelas ekonomi, tetapi jumlah loket itu kelihatan tidak bisa memenuhi harapan orang-orang yang mengantri ini, yang menginginkan pelayanan yang cepat. Antrian maju begitu lambat, sementara antrian keliatan tidak teratur dan semerawut, ada yang duduk, ada yang tetap berdiri. Saya dan Bapak saya memilih bergantian, supaya yang satu bisa istirahat dan yang satu lagi ikut mengantri.

Tetapi ada hal-hal lucu dan menghibur saat mengantri. Mereka yang mengantri kadang-kadang berteriak "Maju!!!"... atau "Maju woy!!!"... pokoknya dengan kalimat dan logat mereka sendiri. Kadang ada orang yang baru datang dan tiba-tiba menyerobot. Beruntungnya ada yang berteriak... Woiii!!! Ngantri dari belakang, woi!!!... yang kemudian menyadari orang-orang untuk mengenali satu sama lain, paling gak orang di depan dan belakang kita sudah kenal. Pada akhirnya jadi hiburan tersendiri, saat ada yang nyerobot lagi... langsung diteriakin, langsung rame.

Lama sudah mengantri, gak sadar kalo sudah subuh. Sekitar jam 4 pagi, antrian sudah maju dan saya tinggal sekitar 12 meter lagi sampai di loket. Walaupun sedikit terhibur dengan teriakan orang-orang, tapi pelayanan yang lambat membuat saya cukup kesal. Apalagi barisan saya yang paling lambat. Jangan-jangan petugas loketnya baru training kali... Rasa lelah dan kesal bercampur satu, tapi tetap berpikir maju terus, karna sudah tanggung. Capek capek sekalian. Lalu pagi pun datang, jam 6 pagi masih sekitar 30an orang lagi dan masih dengan pelayanannya yang lambat.

Kesabaran kami membuahkan hasil. Akhirnya lega juga, sekitar jam setengah 8 tinggal 3 orang lagi di depan. Sementara saya menikmatinya dengan melihat antrian yang masih ramai dan panjang, dan memperhatikan orang-orangnya dengan ekspresinya masing-masing. Mereka yang sudah memegang tiket karna mengantri sejak malam tadi memancarkan ekspresi muka yang sumringah, lega dan tentunya pasti senang. Mereka yang berada sekitar 3 orang dari depan, kelihatan berharap-harap cemas dan dengan muka yang sedikit lega dan sumringah. Sementara mereka yang berada di tengah antrian, masih merasa galau, gundah, antara dapat atau tidak tiketnya. Mereka yang berada di barisan paling belakang, merasa tidak yakin untuk ikut mengantri atau tidak, maju terus atau mundur. Dan... mereka yang baru datang, terlihat bingung,,, sambil bertanya kepada Petugas Keamanan, ini antrian apakah, bagaimana bisa mendapatkan tiket dan seterusnya... Lucu juga orang-orang yang baru di tahap ini, karna mereka akan melanjutkan ke tahap-tahap selanjutnya. Pasti akan lebih berat, karna hari sudah terang, dan siang hari akan panas terik.




Tiket sudah kami peroleh, dan sebelum kami pulang, kami duduk istirahat dulu. Sampai rumah, rasa lelah dan pegal-pegal terbayarkan dengan tidur hingga siang hari...