Kamis, 21 Februari 2013

Perjalanan Estafet via Jalur Pantai Selatan Jawa



Cerita berawal dari awal tahun 2013, dimana sudah direncanakan kalau adik ibu saya yang paling muda mau merrid. Lha... terus... tidak ada omong-omongan, tau-tau orangtua sudah membelikan saya tiket Kereta Ekonomi Bengawan, untuk tanggal 9-10 Februari, Pulang-Pergi (PP), sedangkan orangtua saya berangkat tanggal 7, pulangnya tanggal 11 Februari. Karena sudah terlanjur dibelikan, ya saya segan untuk menolak, kecuali untuk pemberangkatannya, terlalu mepet sama jadwal pulang. Akhirnya tiket keberangkatan dikembalikan walau kena charge sekitar 25%, dan saya memeilih untuk naik bus, dan berangkat satu hari lebih awal.

Walaupun berencana untuk naik bus, tapi sampai mau dekat hari-H nya pun saya masih belum memutuskan mau naik apa. Ada ide dalam benak saya untuk turing estafet, yang akhir tahun kemarin gagal terlaksana. Turing estafet menjelajahi jalur pantai selatan Jawa. Tapi, saya juga belum memutuskan naik apa dari Jakarta, yang jelas inti perjalanan kali ini adalah menjajal Efisiensi, terutama Efisiensi Royal Class super executive.


Kamis, 7 Februari
Saya berangkat ke kantor naik Transjakarta alias busway, karena saya berencana berangkat malam ini juga. Berbekal report turing salah satu member Forbiscom, saya berencana naik Doa Ibu tujuan Cilacap. Eh... tauk-tauk, siangnya, teman-teman band saya minta ketemuan malam ini, karna ada job baru. Wah... saya jadi bimbang nan galau saudara. Tapi apa mau dikata, keberangkatan harus saya tunda jadi besok pagi... yah, karena Wedding Band ini termasuk salah satu sumber devisa sampingan bagi saya, dan saya juga harus menunjukkan profesionalisme. Pulang kerja, saya balik lagi ke rumah, naik busway. Bagi saya yang masih merasakan naik busway itu benar-benar melelahkan, tetap memilih busway sebagai angkutan paling efisien, mudah dan murah, dibanding angkutan lain dan Commuter Line (KRL).

Jumat, 8 Februari
Pagi jam setengah 6, saya berangkat dari rumah, kemudian naik ojek ke jalan akses UI. Dari situ, saya naik angkot 112 tujuan Kp. Rambutan. Turun di Terminal Kp. Rambutan, dan langsung berjalan kaki ke pemberangkatan bis AKAP. Di parkiran bus, ada beberapa bus yang siap untuk diberangkatkan. Ada Budiman tujuan Banjar, Primajasa tujuan Tasik dan Merak, dan lain-lain ke tujuan lainnya. Saya berjalan lagi ke tempat peristirahatan bus Budiman, dan ada banyak bus Budiman parkir di sini, salah satunya yang menjadi inceran saya sebenarnya yaitu Budiman vialli tujuan Banjar. Saya bertanya kepada kernet yang ada di situ, kapan bus ini berangkat. Dia menjawab, kira-kira jam 11 siang. Wah, kalau jam 11 siang kelamaan, takut kemaleman sampai Cilacap, coz, ini perjalanan perdana saya ke Cilacap, saya gak mau ambil resiko dulu. So, tanpa pikir panjang saya kembali lagi ke pemberangkatan bis AKAP. Budiman tujuan Banjar masih seti menanti penumpang, dan kebetulan bisnya juga masih kinyis-kinyis, Mercedes-Benz OH 1526, Jetbus HD. Kebetulan juga seat depan kosong, dan saya langsung naik dan menempati seat itu.

Nggak lama setelah saya naik, bus berangkat sekitar jam 7 pagi. Bis berjalan merayap, lambat hingga putaran Pasar Rebo dan pintu masuk Tol. Setelah masuk Tol, supir mulai menaikan kecepatan bus.

Sampai di Cikunir dan masuk Tol Cikampek, perjalanan terhambat, jalan Tol macet. Sang supir berusaha melewati kemacetan dengan menerobos lewat bahu jalan. Selepas Bekasi, lalu Cikarang, dan seterusnya, jalan Tol berangsur-angsur lancar, dan sampai di mulut jalur Cipularang, Tol menjadi lengang.

Saya menikmati perjalanan ini dengan melihat pemandangan yang ada di sekitar jalur Cipularang ini. Bus Budiman dikendarai dengan kecepatan yang biasa saja... yah standarnya Budiman lah saya rasa... kisaran 90-100 km/jam, sesekali di atasnya. Bagian yang paling saya suka adalah ketika bis ini dengan entengnya berjalan mendaki jalur yang penuh dengan tanjakan ini, sementara ada truk dan bis yang berjalan "ngeden" atau lamban.

Selepas tol Purbaleunyi, ketemu Budiman jurusan Depok - Tasik, Jetbus, Mercedes-Benz OH 1521 Intercooler. Di Jalur Rancaekek ini sesekali menurunkan penumpang. Jalur ini juga padat dan beberapa titik macet karena ada luapan saluran air alias banjir.

Sampailah di tempat peristirahatan bus Budiman. Di sini ada bus Budiman yang lain. Sebelum memburu foto, saya masuk ke dalam untuk makan dulu, karna waktu pas tengah hari, supaya di perjalanan nanti nggak kelaparan. Sebenarnya pikir-pikir juga mau makan di sini, coz duit di dompet sisa kurang lebih 45rb. Tapi, daripada daripada... ya nggak, mending keyang di jalan daripada kelaperan trus beli yg aneh-aneh di tengah jalan. 

Oke, makan siang habis 20rb, dengan menu nasi+sayur asem+ayam goreng+teh manis, lumayan mahal memang. Setelah makan, saya keluar menikmatir jejeran bus Budiman dari berbagai kelas, ada yang non AC, Bisnis AC, sampai Eksekutif. Dilanjut melihat-lihat jalur Bandung-Tasik, dan gak sengaja melihat rombongan bis Arjuna Samba di rumah makan seberang.



Setelah puas foto-foto, perjalanan dilanjutkan. Perjalanan menelusuri jalur Malangbong ini, supir mengendarai dengan agak santai, lebih santai dari sebelumnya. Kayaknya supirnya kekenyangan nih. Saya menyaksikan beberapa kali bis ini disalip bus lain dan bahkan truk berukuran sedang. Tercatat, bus Gapuraning Rahayu tujuan Cilacap dan bis Mandala yang saya lihat selalu goyang kanan (bis ini jadi target saya selanjutnya, kalo turing jalur pansel). Walaupun berjalan sedikit santai, saya tetap menikmatinya, karena jalur malangbong ini sangat menyejukan mata, dan sesekali pak supir memanfaatkan power bis untuk mendaki tanjakan-tanjakan dan mendahului kendaraan yang lebih lambat.

Sekitar jam 2 siang waktu Tasikmalaya, saya turun di Terminal Tasikmalaya. Di sini saya mulai spontanitas, mau naik apa, ya seketemunya.  Kebetulan saya turun di luar terminal, dan melihat beberapa bis kecil lagi ngetem, kebanyakan tujuan banjar. Lalu saya berjalan masuk ke Terminal, baru sampai di gapuranya, saya melihat bis 3/4 berjalan keluar, yang di depan kacanya tertulis Tasik-Majenang-Wangon-Cilacap. Wah, kebetulan nih... Tanpa sempat melihat nama bis nya, saya langsung naik.

Akhirnya, perjalanan paling lama pun dimulai. Hehehe... Lama perjalanan tasik - Cilacap sekitar 5 jam. Bus berjalan rata-rata 60km/jam.  Tapi karna ini pertama kalinya saya melewati jalur ini pada siang hari dan pertama kali ke kota Cilacap, saya tetap 'eksiting'. Terlepas hal itu, perjalanan dari Tasik ke Majenang adalah bagian yang paling menyiksa, karena apa? Karena saya sambil menahan kecing. Saya sedang bukan naik bis pariwsata, dan kondisi bis lagi penuh sesak, jadi saya nggak enak untuk minta berhenti. Sempet kebayang untuk nahan kencing sampe Cilacap. Untungnya bis berhenti di SPBU di Majenang. Detik-detik itu merupakan momen yang paling melegakan.

Plus, ada satu hal yang bikin panik, yaitu ongkos, coz saya cuma megang duit kurang dari 30rb... paling2 cuma ada 28rb, itu pun sama receh-recehannya. Pas diminta sama kernet, saya kasih 5000, karna saya dengernya 3000, heh gak taunya 30rb. Spontan uhuy... saya langsung panik, mana mbak2 di sebelah saya ngliatin saya mulu lagi... Ni orang pasti tau kalo saya kurang ongkosnya... Akhirnya saya kasih 20rb, dan deal sama kernetnya kalau sisanya saya bayar di Cilacap. Kernet bilang gak apa2, saya langsung lega. Lalu cerita selanjutnya nahan kencing sampe Majenang yang tadi. Perjalanan ini memang bener2... sesuatu gituh.

Perjalanan selanjutnya benar2 nikmat, apalagi setelah Karang Puncung turun hujan deras. Saking derasnya, jarak pandang ke depan sangat minim, padahal saya duduk di depan samping supir. Supir kemudian menjalankan bis dengan lebih lambat. Sampai di Wangon, hujan masih lebat. Hujan mulai mereda ketika sampai di daerah Jeruklegi, Cilacap.  Saya melihat awan di daerah selatan malah cerah, terlihat sinar matahari langsung berwarna kuning kemerah-merahan, tanda sebentar lagi akan terbenam dan hari mulai gelap alias malam.



Sekitar jam 6 lebih, saya mulai memasuki Kota Cilacap. Saya amati suasana dan lingkungan kota ini, tidak jauh berbeda dengan kota-kota lain di daerah jawa, walaupun saya belum melihat sampai ke pusat kota. Eh... ketemu juga Garasi Efisiensi, ada di sebelah kanan jalan arah kota. Nggak beberapa lama saya sampai di Terminal Cilacap. Ketika saya mau turun, saya langsung ingat kalau saya masih punya utang. Sebelumnya, di sepanjang perjalanan saya mencoba merogoh-rogoh tas, dompet dan kantong, siapa tau ada yang terisisa, dan didapatlah 8000rb. Nah, duit 8000 ribu itu buat jaminan saya kembali lagi, sementara saya mau mencari ATM. Tapi kata kernet, "udah ini juga gak apa-apa". Saya pun berterim kasih sama kernet dan pak supir, dan tetap merasa punya utang dengan mereka, walaupun cuma 2rb. Secepat kilat, saya langsung mencari ATM, karena dompet udah keroncongan dari tadi siang... hehehe. Beruntung ada ATM di dekat terminal.

Kembali ke Terminal Cilacap. Sekilas, terminal ini mirip dengan terminal kota kelahiran Raden Ajeng Kartini. Agen atau loket bis tidak banyak, hanya beberapa lantaran hanya segelintir PO saja yang memiliki trayek ke daerah ini, salah satunya Efisiensi. Saat saya sampai di loket Efisiensi, saya ditanya "mau ke Jogja mas?" oleh mbak-mbak penjaga loket. Saya menjawab dengan jawaban positif, tapi mbak-nya bilang kalo bis yang ini adalah yang terakhir dan berangkat jam 7 nanti, dan sudah FULL SEAT. "Woow!"... saya sih nggak kaget2 amat. Lha wong udah niat berangkat besok kok. Di tempat pemberangkatan, sudah menunggu satu bus Efisiensi Royal Class tujuan Jogja. Saya lihat ke dalam memang masih banyak yang kosong. Tapi khan tempat menaikan penumpang nggak hanya satu atau dua tempat saja, di tempat-tempat lain juga ada, yang jelas bus Efisiensi menaikan penumpang dari agen Efisiensi yang resmi saja... katanya. Lalu saya tanya, apakah saya bisa beli tiket untuk besok dan ternyata bisa. Pemberangkatan pertama adalah jam 2 dini hari. Saya langsung To The Point, kalau saya mau naik yang SE. Lalu mbak-nya bilang, jadwal SE berangkat jam 10.30, lalu saya ditawari posisi tempat duduk dan yang terdepan adalah nomor 4. Ya, nomor 4 single seat, padahal seharusnya masih ada seat di depannya yaitu nomor 1, tetapi di kertas yang dia tunjukan seatnya tidak diberi nomor melainkan kosong. Saya tanya bagaimana dengan seat yang kosong paling depan ini (nomor 1), dia menjawab kalau itu jatah Garasi atau agen lain. Saya sebenarnya ingin ngotot minta di nomor 1, tapi karna tidak ada respon positif, ya sudahlah.

Tiket sudah saya dapatkan dan sudah diamankan, kemudian saya panggil tukang ojek untuk mencarikan saya hotel atau penginapan yang murah. Ojek memberikan harga 15rb, dan saya terima. Oleh tukang ojek, saya diantarkan ke suatu tempat, yang secara fisik bangunan memang kurang menyakinkan, seperti kurang terawat, dan dari jalan di luar, seolah-olah penginapan ini tersembunyi dan tertutup, walaupun ada plang kecil di depan yang sudah tertutup debu dan karat. Saya sudah menduga-duga, biasa untuk apa penginapan seperti ini. Ketika saya dengar harganya, untuk kamar biasa ber-kipas angin cuma 60rb (tanpa TV) dan 80rb (dengan TV), ternyata murah banget, ya sudah saya ambil yang pake TV. Saya ditunjukan kamar oleh pengurus hotel, dan ciri-ciri kamar semakin mempertegas dugaan saya. Satu kamar dengan kamar mandi, berisi satu buah tempat tidur tapi yang berukuran besar dengan 2 buah bantal dan guling. Kamar ini memiliki satu pintu dan satu jendela, dimana tidak ada ventilasi, jendela ditutup rapat dengan gordyn sampai ke atas (ventilasi jendela). Jadi... benar-benar tertutup, dan akibatnya pasti bakalan sumpek. Adanya kipas angin sedikit membantu, paling tidak ada udara yang mengalir.

Saya bayar tunai kamar itu dan saya taruh tas saya, dan saya keluar. Dan satu lagi... kamar ini ternyata tidak punya kunci tersendiri, layaknya hotel-hotel pada umumnya. Kalau mau dikunci ya pakai gembok. Wah...dugaan saya tentang hotel ini semakin jelas. Jangan-jangan ni hotel sering digunakan untuk tempat mesum atau lebih parahnya untuk sarana prostitusi. Ah... bodo amat, yang penting saya berniat baik. Saya berjalan keluar hotel, melihat-lihat kok gak ada angkot ya. Toko-toko juga pada tutup, di dekat situ cuma ada gerobak nasi goreng. Saya berjalan karena angkutan gak ada yang kelihatan. Berjalan-jalan tak terasa sudah jauh dari hotel, tapi akhirnya ketemu Indomaret. Saya membeli beberapa barang untuk kebutuhan primer. Lalu saya melanjutkan acara berjalan-jalan, dan ketemulah Alfamart. Di sini, saya jadi inget garasi Efisiensi, rasanya gak jauh dari sini. Saya berjalan lagi, dan memang sekitar 200 meter setelah itu ada garasi Efisiensi. Mumpung di sini saya sekalian minta pindah seat. Sayangnya, saya nggak bawa kamera dan hp waktu ke sini. Saya masuk ke bagian reservasi atau pembelian tiket, dan ketemu 2 manusia cantik yang menjaga meja pemesanan tiket. Tanpa basa-basi saya langsung utarakan maksud saya. Setelah diamati tiket saya, saya nggak bisa pindah seat lantaran saya membelinya di terminal. Katanya, "Beda mas, karna catatan kami juga terpisah, terminal ya terminal, garasi ya garasi". Sungguh aneh, tapi mungkin sudah seperti ini manajemennya. Saya cuma pergi meninggalkan garasi dengan rasa kecewa. Saking kecewanya, bikin saya lapar. Saya makan di dekat Alfamart tadi. Warung yang keliatannya ramai benar. Saya makan burung dara goreng khas Cilacap, ya... karna saya makan di Cilacap. Setelah memendam kekecewaan dengan burung dara goreng. Saya balik ke hotel dan langsung mandi lalu tidur. Sebelum saya tidur, saya mendengar percakapan di luar, seperti menanyakan kamar. Karena penasaran, saya coba lihat, dan ternyata ada sepasang... cowok dan cewek, entah mereka masih pacaran atau sudah sah suami istri. Yang jelas ketika mereka merujuk kamar yang saya tempati, dan pengurus hotel bilang sudah terisi, dan mereka pun langsung pergi, apalagi ketika tahu saya memperhatikan mereka. Malam yang berat, saya berkali-kali terbangun karna udara di dalam ruangan begitu sumpeknya, berkali-kali saya coba cara, dan akhirnya saya buka jendela dan gordyn sedikit, dan kebetulan juga lagi hujan deras. Jendela saya buka dan gordyn saya buka sedikit, supaya ada udara dingin dari luar yang masuk. Cara ini cukup berhasil dan saya bisa tidur lagi.

Sabtu, 9 Februari
Satu-satunya hal yang paling saya tunggu adalah datangnya pagi hari. Saya setel TV, beberapa channel stasiun TV tidak terdapat di sini, jadi saya cuma 'stay' di channel yang paling jelas siarannya, yaitu RCTI. Saya mandi kemudian sarapan roti yang saya beli semalam (kebutuhan primer jek...). Sambil menunggu waktu yang tepat, saya buka pintu, membiarkan udara bebas keluar masuk, sambil menonton TV. Di luar ada seorang ibu-ibu yang sedang bersih-bersih halaman. Mungkin ibu ini termasuk pengurus atau staff di sini, pikir saya. Sembari bersih-bersih, sesekali ibu-ibu melihat saya yang sedang asik menonton TV, kebetulan yang saya tonton adalah Doraemon: Petualangan di Negeri Angin.... hehehe. Akhirnya ibu-ibu ini membuka obrolah dengan bertanya-tanya, saya dari mana, mau kemana, sendirian?, kenapa gak ajak istri atau pacar?... Muke gile kali nih ibu-ibu, emangnya gw tega ngajak cewek gw ke tempat beginian...

Jam 8 lebih seperempat, saya yang sudah merasa yakin sudah mempersiapkan, barang-barang, hp yang fully charged, dan perut yang kenyang, akhirnya mulai melangkahkan kaki keluar hotel itu. Sammbil menyerahkan kunci gembok, saya mengucapkan terima kasih kepada pengurus hotel. Untuk menuju ke Terminal dari hotel ini, bisa menggunakan angkot. Tapi saya memutuskan untuk berjalan, supaya bisa menikmati kota Cilacap ini. Pagi hari yang cerah dan segar, suasana kota Cilacap tampak damai. Sampailah saya di sebuah perempatan, yang di salah satu sudutnya ada taman, dan di sudut lain ada Alfamart, dan juga ada lintasan rel KA. Saya berhenti sejenak di dekat taman, sambil membayangkan "coba ada kereta yang lewat". Tiba-tiba alarm pintu KA berbunyi, dan pintu penghalang diturunkan. "Berarti ada kereta yang mau lewat nih", pikir saya. Langsung saya ambil kamera saku. Set-set-set... kamera sudah siap. Dan saya melihat ada sebuah benda mendekat di salah satu ujung lintasan. Kemudian, benda itu mendekat, mendekat dan semakin mendekat. Eh... gak taunya cuma kepalanya aja, alias lokonya aja, dan sepertinya mau lansir. Tapi lumayan lah, biarpun gak dapet versi yang lengkapnya.

Saya melanjutkan perjalanan dan dalam beberapa saat sampai juga di Terminal. Di sini sudah ada patas Efisiensi berwarna biru dan putih, yang berangkat jam 09.00, dan ada satu lagi yang sedang menunggu di belakangnya, yang patas Efisiensi Mocchacinno, yang akan berangkat jam 09.30. Lalu saya duduk di ruang tunggu penumpang. Nggak lama patas biru Efisiensi diberangkatkan, dan si Mocchacinno masuk ke jalur pemberangkatan. Beberapa menit kemudian, datang bus Riyan Transport dan parkir di samping Mocchacinno. Bus ini akan berangkat jam 09.45. Bus Riyan Transport merupakan saingannya Efisiensi, tapi biarpun saingan tetap dengan cara yang sehat. Buktinya kru keduanya juga saling kenal dan akrab. Dan mereka punya jadwal yang berlainan dan tidak sama. Mocchacinno diberangkatkan sesuai jadwal, lalu bus Riyan Transport pindah ke jalur pemberangkatan. Oh iya, selain bus Riyan Transport dan Efisiensi, disini juga ada bus lain seperti bus-bus ekonomi PO. Merdeka. Ada juga PO Handoyo yang mau dicuci, juga ada bus Sinar Jaya.

Setelah Riyan Transport berangkat, datang lagi patas Efisiensi biru-putih. Lama juga saya menunggu dari jam 9 kurang, dan tiba-tiba saya merasa lapar. Jangan-jangan efek jalan kaki tadi nih. Saya cari warung terdekat, yang juga bisa memantau pergerakan bis. Saya makan di warung di areal terminal. Warung ini menjual menu standar layaknya warung nasi, dan ayam bakar/goreng. Saya pesan menu standar pula, yaitu nasi putih dengan sayur labu siem, sayur satu lagi saya lupa, dan telor dadar goreng. Nyam...nyam...nyam...rasanya memang khas daerah, dan masih hangat baru saja dimasak pagi tadi. Setelah kenyang, saya menambah daya baterai hp, mumpung masih ada waktu. Beberapa saat kemudian, saya melihat ada yang tidak asing datang. Ternyata itu bus Efisiensi Royal Class dan itu adalah bus yang akan saya naiki, super executive dengan pemberangkatan jam 10.30. Dengan semangat, saya langsung menghampiri bus itu.



WUIHH... adalah kalimat pertama yang saya ucapkan ketika melihat bus itu secara langsung. Maklum, setelah sekian lama hanya melihat lewat foto-foto, sekarang bisa langsung melihatnya bahkan mencicipinya, gak tanggung-tanggung, langsung kelas Super Executive. Saya perhatikan bis ini detail demi detailnya. Memang salah satu keistimewaan dari bus Efisiensi adalah spion tanduknya, yang menambah sempurna bodi JetbusHD keluaran Adiputro ini. Kedua, liverynya yang khas, simpel tapi keliatan elegan dan fresh banget. Ketiga, bis Efisiensi semua terawat, termasuk masalah dop roda, semuanya pasti pake, dan uniknya warnanya pasti senada dengan bodi di atasnya. Walaupun bodinya belang, depan ijo, belakang putih, dop roda juga akan mengikuti depan ijo belakang pun putih.

Saya pun memulai sesi fotonya. Sewaktu mengambil foto, saya dilihat oleh supir dan kru. Hehehe... jadi nggak enak, foto-foto nggak bilang dulu. Lalu masuk ke dalam minta ijin masuk sama kru nya. Saya masuk sekalian meletakkan tas saya, terus foto-foto interiornya. Jadi, Efisiensi Royal Class super executive ini, mempunyai konfigurasi seat 2-1, dan memakai seat seperti kelas SE yang lain, tapi tanpa leg-rest. Seatnya termasuk seat model baru, sayang saya nggak ngerti merk yang dipakai, dan tidak ditemukan emblemnya. Jarak antar seat cukup lebar, saya dengan ukuran badan yang cukup besar masih terasa leluasa. Kita pun bisa menaruh tas di bawah kaki kita, walau demikian foot-rest tidak akan bisa berfungsi. Namun, orang-orang lebih terbiasa tidak memakai foot-rest, termasuk saya sendiri, kalau tidak memakainya terasa lebih leluasa.

Jam 10.30, bus diberangkatkan dari Terminal Cilacap, dan langsung menuju garasi Efisiensi untuk menaikan penumpang. Di garasi ada satu bus Royal Class, mungkin lagi dibersihkan. Perjalanan berlanjut. Suspensi udara built-in Mercedes-Benz memang benar-benar maknyus. "Empuk tenan." Beda sama rakitan karoseri, hanya saja suspensi udara yang satu ini tidak ada kontrol, jadi nggak bisa dinaik-turunkan. Jika sedang berjalan kemudian berhenti mendadak, maka akan goyang-goyang. "Tapi goyang-goyang enak... alus banget."

Bus ini menaikan penumpang dari beberapa tempat, dan setiap tempat itu tertera plank Agen Efisiensi. Bus dikemudikan oleh pak supir yang mempunyai perawakan besar dan gemuk, serta berkumis. Beliau ditemani seorang kondektur wanita. O iya, satu lagi ciri khas Efisiensi, yaitu kondekturnya pasti perempuan muda. Supir menjalankan bus dengan kecepatan sedang. Setelah agen terakhir, sang kondektur membagikan roti dengan merk Efisiensi dan softdrink berupa minuman teh dalam kemasan botol plastik. Satu lagi tontonan TV yang ternyata di bus Efisiensi ini sudah menyiapkan tayangan yang sudah dibuat sendiri oleh management Efisiensi. Tayangan-tayangan itu antara lain Petunjuk bagi Penumpang, film-film dan video klip. Saya sangat menikmati sekali perjalanan ini, gimana nggak?... Bus nyaman, mental-mentul enak... seatnya lega, empuk... dapet roti, sama minuman... pemandangan indah, hutan, sawah... tontonan TV yang menarik, apalagi pas diputer video klip Kla Project, yang berjudul Yogyakarta... Pas bener nih, saya mau ke Jogja.

Setelah melewati sebuah sungai yang cukup lebar, saya benar-benar kehilangan record perjalanan... alias ketiduran. Ini saking nyamannya... Saya merasa tidur saya itu sangat pulas... dan ngorok pemirsa. Kenapa saya tahu saya ngorok... karena sesekali saya sadar dan lalu ngok... Dan saya tahu kalo dibelakang saya ada yang lagi ketawa cekikikan. Masih mending ketawa, di sebelah saya keliatannya terganggu. Gak kebayang gimana reaksi supir dan kondektur... geleng-geleng kepala kali. Tapi, untungnya belum ada peraturan Dilarang Ngorok bagi penumpang.

Saya benar-benar sadar dan melek setelah berada di daerah Kebumen. Kemudian, sang kondektur wanita naik ke atas dan memberikan informasi kepada penumpang, kalau kita sesaat lagi akan sampai di Rest Area Kebumen. Beberapa saat kemudian, bus sampai di Rest Area. Penumpang diberikan waktu 10 menit untuk sholat atau ke toilet. Saya... ke toilet dan cari makanan. Di sini ada banyak toko dan mini market, dan juga ada CFC. Saya beli satu paket CFC, yang tadinya mau dimakan di situ jadi dibungkus karna waktu terbatas. Waktu yang tersisa saya pakai untuk foto-foto Rest Area.

Perjalanan dilanjutkan. Saya membuka bungkusan CFC tadi untuk dimakan. Saya makan agak sembunyi-sembunyi, nggak enak ama sebelah. Lagi asik nguyah ayam goreng, bis yang lagi berjalan tiba-tiba rem mendadak. Wadouh.... sahut cuma dalam hati aja. Bukan apa-apa, ayam gorengnya jatoh ke bawah... wkwkwk. Malunya bukan maen... Secepat kilat langsung saya ambil tuh ayam, trus lanjut dimakan, dan dengan segera dihabiskan.

Makan selesai, perut kembali kenyang, tapi kali ini saya nggak tidur lagi. Saya menikmati perjalanan dengan mendengarkan lagu-lagu Kla Project lewat earphone hp dan sambil maen game pengasah otak. Mendengarkan lagu-lagu Klakustik sambil menikmati pemandangan asri nan menyegarkan, benar-benar nikmat. Itu Hidup... harus benar-benar dinikmati.

Sekitar jam 2 siang lebih sedikit, bus sudah memasuki wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berarti, sebentar lagi sampai nih. Jam 3 lewat 15 menit, sampai di daerah Ambarketawang. Kondektur cantik naik lagi untuk memberikan pengumuman. Di Ambarketawang ini juga ada Rest Area PO Efisiensi, tapi bus ini tidak masuk ke dalam, kemudian beberapa meter selanjutnya terdapat SPBU. Di SPBU inilah bus ini masuk, karna di dalamnya sudah menunggu beberapa shuttle bagi penumpang untuk tujuan Bandara dan Pusat Kota. Saya turun di sini, sekalian mencoba shuttlenya. Banyak penumpang yang juga memanfaatkan shuttle ini, saya rasa shuttle ini sangat berguna sekali, terutama buat penumpang yang ingin ke Bandara atau Pusat Kota. Kalau saya, selain ingin mencoba, juga menyingkat waktu, soalnya kalo naik bis Solo-Jogja dari Terminal Giwangan, terlalu lama ngetemnya.

Jam 15,30, shuttle diberangkatkan. Perjalanan jadi mudah karna shuttle ini, tapi sedikit terhambat saat di perempatan Jombor. Adanya pembangunan Fly Over, membuat lalu lintas menjadi kacau, dan macet parah. Semoga cepat selesai lah ini. Setelah melewati kemacetan, jalan kembali lancar. Saya turung di jalan Solo-Jogja, tepatnya sebelum bandara Adi Sucipto. Nah... kalau di sini khan, nunggu bis Soloan gak pake ngetem, langsung joss... Tapi agak lama juga, ketemu satu bis tapi nggak berhenti, karna udah terlanjur lari di  lajur kanan. Saya berjalan mendekati kerumunan, yang tampak seperti sedang menunggu bis juga. Walhasil, dateng bus Langsung Jaya, dan saya naik beserta rombongan tadi. Langsung joss tho... nggak pake lama. Menunggu bis seperti harus ditempat yang pas, yang bisa dilihat dari jauh. Kadang ada orang yang melambaikan tangan, tapi bus udah terlanjur kenceng, jadi gak jadi berhenti. Nggak pake lama, sampai juga di Gondang, Pabrik Gula. Di sini jemputan menunggu untuk mengantarkan saya sampai ke rumah Mbah.

Minggu, 10 Februari
Urusan dengan pernikahan saudara saya sudah kelar, lalu sorenya saya langsung pulang, karena besok saya harus bekerja kembali. Sayangnya, perjalanan kali ini saya menggunakan moda transportasi kereta. Kereta yang saya naiki pun bukan kereta kelas eksekutif melainkan kereta ekonomi, yaitu KA Bengawan. Cerita soal kereta ekonomi jadi teringat kereta yang penuh berdesak-desakan, apalagi kalo pas Lebaran. Tapi, itu dulu pemirsa... sekarang, kereta ekonomi sudah lebih tertib, tiket yang dijual berdasarkan jumlah seat yang tersedia. Jika seat sudah penuh, ya... berarti sudah habis, gak ada acara pake berdiri, atau duduk di toilet. Duduk di toilet itu namanya EEK.

Saya diantar ke Stasiun Klaten sekitar jam 5. Saya masuk ke stasiun, lalu ketika masuk ke peron, saya dihadang oleh 2 orang penjaga peron. Di sini saya diminta menunjukan tiket saya, dan KTP asli. Tiket diperiksa, karena disitu tertera nama saya, apakah sama dengan KTP-nya. Setelah lolos pemeriksaan, tiket saya dicap dan saya diperbolehkan masuk peron. Di ruang tunggu peron, sudah ramai. Akhirnya saya duduk di tepi rel yang sedang tidak aktif.


Waktu sudah menunjukan pukul 17:32 WIB, dimana seharusnya KA Bengawan dengan kode KA 125 sudah diberangkatkan dari stasiun ini. Tapi ini, keretanya malah belum keliatan. Berdasarkan pengumuman yang disampaikan lewat speaker stasiun, ada masalah  teknis di stasiun Solo Balapan sehingga mengakibatkan sejumlah rangkaian telat. Wah... kira-kira berapa lama nih telatnya. Telat berangkat, sampai di Jakarta pun pasti ikutan telat. Nggak berapa lama, datang sebuah rangkaian kereta mirip KRL tapi nggak ada pengait listriknya. Kereta ini termasuk commuter line yang menghubungi madiun dan jogja, namanya saya lupa. Setelah kereta itu meninggalkan stasiun, sekitar 5 menit kemudian datang yang saya sudah tunggu-tunggu, KA 125, Bengawan. KA ini ditarik oleh sebuah loco putih, dan saya gak sempet lihat kodenya. Mungkin kalau railfans langsung tahu begitu melihat wujud lokomotifnya saja.



Saya dapat tempat duduk di gerbong ke-3 atau K3, no seat 9B. Waktu saya datang, seat masih kosong, saya duduk aja di pinggir jendela. Toh, ntar juga bakalan pindah... kalau yang punya minta tempat ini. KA ekonomi ini semuanya memakai bangku yang tegak... kalau gini gimana bisa nyaman tidurnya... Kereta berjalan meninggalkan stasiun. Kereta terus berjalan, dan nggak ada yang boleh menghadang. Inilah asiknya naik kereta, nggak ada yang namanya macet. Kereta sudah berhenti beberapa kali, sampai isi gerbong sudah keliatan penuh alias full seat. Tapi, nggak ada yang minta saya pindah. Ada mas-mas dan juga seorang cewek. Seorang di sebelah saya mencoba membuka bagian atas jendela, tetapi gak bisa. Terus minta buka jendela yang bawah.  Jendela bisa dibuka, tapi harus diganjel. Entah kenapa, saya berinisiatif memberikan botol yang habis saya minum. Jendela terbuka lebar, angin pun masuk dengan leluasa. Enak... tapi lama-lama bikin ngap-ngap... bisa-bisa masuk angin nih. Kebetulan orang di depan saya lagi makan, saya pikir tunggu dia selesai makan aja kali ya, baru saya tutup nih jendela. Acara makannya akhirnya selesai, saya mencoba memperkecil bukaan. Angin yang masuk tetep kenceng. Lalu saya tutup sekalian, eh... orang di sebelah saya ikut bantuin, tandanya dia juga ikutan masuk angin tuh... hehehe. Sebenarnya nggak perlu dibuka pun tetep adem, selama kereta berjalan terus. Beberapa jendela atas ada yang terbuka, jadi gak semuanya tertutup.

Perjalanan sampai di Purworejo. Orang-orang di sekitar saya masih aktif, belum pada tidur. Adanya asik ngobrol, ada yang main hp, dan ada yang dengerin musik. Tapi mulai mendekati daerah Kebumen sampai Banyumas, semuanya bersiap untuk tidur.  Ternyata oh ternyata, posisi tidur mereka pada nggak karuan cuy... Jadi percuma itu no seat. Mereka ada yang tidur di tengah lorong, di bawah pake alas koran atau bawa dari rumah. Ada yang memakai satu bangku untuk tidur sendiri. Nah, orang di depan saya ini lebih lucu lagi, dia tidur di bawah bangku. Saya yang jarang naik kereta jawa, ketika melihat kayak gini, agak kaget juga. Tapi, saya rasa masih mending daripada kereta ekonomi sebelumnya. Waktu itu saya pernah naik progo, dan suasananya nggak setenang ini, banyak pedagang beralalu-lalang. Kalau yang ini, buset dah... pada anteng tidurnya. Ada juga yang masih melek, tapi tetap duduk anteng, mungkin lagi berusaha untuk tidur sama seperti saya.

Akhirnya saya mau ke toilet, karna udah nahan kencing dari tadi. Sebenarnya sih males, soalnya ngeliat jalan lorong, kaki berseliweran, ada badan pula, apalagi orang yang tidur di tengah lorong. Tapi karna nggak bisa ditahan, mau nggak mau. Saya pun harus jadi Spiderman dulu biar bisa ngelewatin itu semua. Tapi, nggak sia-sia, kalau udah keluar air seninya, udah lega dan kayaknya bisa tidur nih. Waktu kembali ke bangku, saya pun tidak duduk di pinggir jendela lagi. Si mbak-mbak nya tadi saya persilahkan duduk di pinggir jendela supaya dia dapet senderan. Wah... baik banget yah gw. Saya sendiri malah susah tidur. 

Setelah melewati daerah Purwokerto, saya sering mendengar suara roda kereta dan rel... cit-cit, seperti itulah. Gerbong sering meliuk-liuk. Wah... kayaknya lagi melewati pegunungan nih. Coba perjalanannya siang, jadi bisa menikmati pemandangan. Nah... kalau malam gini apa yang mau dilihat. Makanya kebanyakan orang tidur semua. Saya pernah naik kereta yang jalannya pagi dari Jogja, yaitu KA Fajar Utama. Tapi sayangnya posisi saya kurang mengenakan waktu itu. Saya duduk di pintu masuk gerbong coy... Soalnya udah full seat, saya dapet jatah yang berdiri. Tapi sumpah, pemandangannya menakjubkan. Mungkin lain kali saya mau naik kereta dengan perjalanan siang hari, tapi untuk rencana ke depan harus naik yang kereta eksekutif.

Untuk saat ini, naik kereta ekonomi yang dipilih karena ongkosnya yang jauh lebih murah. Bayangin aja bro... dengan uang 38 ribu rupiah saja, saya bisa berpergian dari Jakarta ke Solo. Berarti kalau pulang-pergi nggak sampe 80 ribu. Bandingkan kalau naik bis, ongkos paling murah itu sekitar 50rb sampai 70rb untuk satu perjalanan. Naik kereta lebih cepat sampai. Kelas ekonomi aja selambat-lambatnya jam 5 - 6 pagi sudah sampai di tujuan. Kalau naik bus, jalan macet, atau ada kerusakan di tengah jalan, yang membuat telat sampai tujuan. Namun demikian, kereta juga mempunyai kelemahan, yaitu jika ada kesalahan teknis di satu stasiun yang mengakibatkan keterlambatan maka akan berpengaruh pada kereta-kereta lain yang lewat stasiun itu. Seperti waktu berangkat tadi, satu telat maka yang dibelakangnya akan ikut telat.

Satu hal yang saya paling nggak suka soal KA ekonomi ini, kalau nunggu di stasiun pasti lama banget. Ya nunggu disalip, nunggu persilangan, nunggu kres-kresan. Soalnya kalo berhenti pasti panas, nggak ada aliran udara yang masuk ke dalam gerbong. Tapi ada kejadian yang lucu sewaktu kereta ini berhenti. Ketika berhenti di stasiun Songgom menunggu persilangan kereta, ada banyak pedagang yang menjajakan dagangannya... Kalo gak salah kayak begini: "Kopi mas...kopi bu... Pop mie..." Tapi karena di dalam gerbong hanya ada kesunyian alias pada molor semua, jadinya nggak ada yang beli. Sampai-sampai ada penjual yang nyeletuk, "Walah... do turu kabeh" atau dalah bahasa Indonesianya "Walah... pada tidur semuanya"... Ada juga sekelompok anak muda yang ngamen tapi tanpa alat musik, cuma bermodalkan tepuk tangan. Mereka pertama nyanyi di gerbong depan, sambil nyahut: "bang bang... bla... bla..." Mereka menyanyikan lagu yang mereka buat sendiri, yang bertema tentang mereka yang kelaperan, pengen makan, dll... Lalu tuh anak-anak nyanyi di gerbong saya, dengan kata-kata yang sama. Tapi, belum sampai 1 bait, itu anak bilang, "ah males ah... pada tidur smua" terus langsung pergi. Saya mah... cuma bisa ketawa dalam hati... wkwkwk.

Senin, 11 Februari
Cerita tentang kereta seterusnya nggak jauh dari kereta berhenti, menunggu persilangan, kemudian ada penjual yang menjajakan dagangannya tapi tetep gak ada yang respon, karna orang-orang masih pada tidur. Sampai di stasiun Cirebon, ada satu dua orang yang bangun dan turun di stasiun ini. Kereta meninggalkan stasiun Cirebon, dan saat itu waktu menunjukan sekitar pukul stengah 2 dini hari. Saya masih terjaga... tapi lama-lama mulai terpejam dan tertidur dengan posisi duduk tegak dan kepala menunduk ke bawah. Sesekali kepala ini mau jatuh ke sebelah saya... karna sebelah saya cewek, jadi saya langsung menyadarkan diri dan kembali ke posisi yang benar. 

Saat masih setengah sadar, setengah tidur, saya menyadari kereta sedang berhenti. Saya berusaha mencari tahu dimana kereta ini berhenti. Saya mendengar ada yang bilang kalau ini di stasiun cikampek. Saya pun berusaha bangun, tapi kok rasanya berat. saya ketiduran lagi... bangun-bangun kereta berhenti di stasiun Bekasi. Di sini saya bangun dan berusaha sesadar mungkin, lalu mempersiapkan tas.

Jam 05.10, kereta berhenti di stasiun Jatinegara, dan disinilah saya turun. Sebelumnya, saya mencari cara bagaimana supaya saya bisa sampai rumah lebih cepat. Naik busway, ada kemungkinan macet di Cililitan dan Kramatdjati. Akhirnya saya putuskan naik KRL saja. Keluar dari stasiun Jatinegara, saya masuk lagi ke bagian loket KRL, saya beli tiket KRL ke Manggarai. Tiket dibeli dengan harga 7500 rupiah. Jam 05.45, KRL yang ditunggu datang. Saya masuk ke dalam KRL agak terburu-buru, tapi berhasil juga masuk ke gerbong pertama. Hawa dingin ikut melegakan saya. Tiba-tiba datang kondektur menanyakan tiket. Oleh kondektur saya diminta ke gerbong kedua, karena ternyata gerbong ini khusus wanita. Wkwkwk... saya jadi malu, tapi tetep keliatan cool.

Jarak Stasiun Manggarai dengan stasiun Jatinegara cukup dekat, jadi saya tidak perlu lama sudah sampai di Manggarai. Saya turun di stasiun Manggarai, dan menanyakan ke petugas, kalau mau ke Bogor apakah saya harus membeli tiket lagi. Setelah dilihat tiket saya, petugas bilang saya harus beli tiket lagi tujuan Bogor. Saya sepertinya salah beli tiket tadi di Stasiun Jatinegara. Seharusnya saya membeli tiket tujuan Bogor. Tiket tujuan Bogor ditebus dengan harga 9000 rupiah. Buset... buat ke Bogor saja habis 16.500 rupiah. Tapi gak pape lah... Enaknya KRL AC ekonomi ke Bogor gak penuh dan saya bisa dapet tempat duduk. Saya turun di Stasiun UI Depok, lalu naik angkot lagi dan naik ojek sampai ke rumah. Tiba di rumah kira-kira jam 07.30 pagi.



Demikian cerita perjalanan saya kali ini, saya berterima kasih kepada:
- Tuhan yang maha esa, atas perlindungan-Nya selama ini
- Orangtua saya, atas restu dan tiket keretanya
- Saudara saya yang menikah, terima kasih karna kalian, saya bisa jalan-jalan, dan selamat berbahagia
- PO Budimana, yang mengantar saya dari Jakarta ke Tasik
- PO BSK, yang mengantar saya dari Tasik ke Cilacap
- PO Efisiensi, yang mengantar saya dari Cilacap ke Jogja
- PO Langsung Jaya, yang mengantar saya dari Jogja ke Klaten
- PT Kereta Api Indonesia, dan kru KA Bengawan, yang mengantar saya dari Klaten ke Jakarta
- Hotel *****, yang telah menyediakan kamar murah buat saya.
- Member Forbiscom termasuk Kang Adit Indie dari Tasik yang memberikan berbagai info yang berguna
- Semuanya yang tidak dapat disebutkan satu per satu


======================================================================


Daftar pengeluaran biaya selama perjalanan:
- Ojek                                 =    3000
- Angkot                             =    3000
- Bus Budiman                    =  50.000
- Makan Siang                    =  20.000
- Bus BSK                          =  30.000
- Bus Efisiensi                     =  50.000
- Hotel                                =  80.000
- Makan Malam                  =  27.000
- Makanan Roti & Minum   =  15.000
- Ojek                                =  15.000
- Makan Pagi                      =  10.000
- Makan Siang CFC           =  24.000
- Bus Langsung Jaya           =     5000
- KA Bengawan                 =  38.000
- Aqua-Mizone                  =     7000
- Commuter Line                =  16.500
---------------------------------------------
Total                                  =  393.500
Dibulatkan menjadi Rp. 400.000