Halaman

Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 November 2010

Serunya Naik Kereta Api Ke Bandung

Salah satu pesona yang bisa kita nikmati saat pergi ke Bandung adalah perjalanannya. Bandung, sebuah ibukota dari provinsi Jawa Barat, terletak di dataran tinggi. Lokasinya dikelilingi perbukitan dan gunung-gunung, makanya jika kita pergi ke Bandung, kita harus mendaki dan menuruni gunung dan kadang membelah bukit. Saya dan teman-teman saya tidak pernah bosan pergi ke kota itu karena selain kotanya masih sejuk, untuk menikmati kota Bandung kita cukup butuh satu hari saja, itu sudah termasuk perjalanan pp. Di antara banyaknya transportasi umum menuju Bandung, saya dan teman saya lebih memilih moda Kereta Api. Mungkin dipikiran kami, naik gunung dengan kendaraan mobil atau bus itu sudah biasa, tapi kalo dengan kereta api... pastinya lebih menyenangkan.

Kebetulan minggu lalu saya pergi ke Bandung dengan kereta api. Harga tiket kereta api dengan bis AKAP ke Bandung tidak jauh berbeda. Untuk kereta api kelas bisnis cukup Rp 30.000, sedangkan kelas eksekutif hanya Rp 50.000. Kelas favorit saya adalah bisnis, karena lebih murah dan kelebihan uangnya bisa untuk membeli oleh-oleh. Pemberangkatan dari Jakarta bisa dari Gambir, bisa juga dari Jatinegara. O iya, nama kereta api ke Bandung sudah berubah. Kalo dulu ada Parahyangan dan Argo Gede, sekarang digabung menjadi satu menjadi Argo Parahyangan.

Umumnya, kita akan mendapatkan nomor tempat duduk di kelas bisnis. Tapi berapa pun nomor tempat duduk yang saya dapat, saya selalu mencari tempat duduk yang kosong di gerbong paling belakang. Biasanya saya menyempatkan untuk tidur sejenak saat perjalanan dari Gambir ke Cikampek. Setelah lewat dari Cikampek dan Purwakarta saya baru bangun dan siap menikmati sensasi perjalanan yang sesungguhnya.

Saat kita sampai di daerah Purwakarta, di sebelah kanan kita akan melihat pegunungan. Di balik gunung-gunung itu, kalau mata kita jeli maka kita akan melihat sebuah danau atau waduk, itulah waduk Jatiluhur. Dari sini pun kita sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa. Dari Purwakarta kita akan melewati Tol Cipularang, dan posisi kita lebih dekat dengan waduk, hanya saja kita sulit melihatnya karena tertutupi gunung. Kalau kita melihat peta, maka di situ ada banyak simbol gunung di sekitar waduk. Tapi ada hal yang cukup memilukan bagi saya, gunung-gunung itu sebagian sudah terkikis karena pertambangan kapur.

Setelah melewati waduk Jatiluhur atau tepatnya setelah melewati Stasiun Plered, kita juga akan melewati Waduk Cirata yang ada di sebelah kanan. Tapi kita tidak dapat melihatnya karena tertutup oleh bukit. Perhatian saya justru tertarik pada liukan-liukan si ular besi ini. Bahkan ada kelokan yang hampir beradius 360 derajat, tepatnya di dekat Stasiun Puteran. Di sini memang terdapat banyak sekali kelokan, karena status kereta sedang mendaki gunung. Biasanya saya sudah tidak duduk lagi di tempat duduk melainkan berdiri di pintu, sambil menikmati udara segar dan pemandangan yang menakjubkan. Tapi, perjalanan masih panjang dan itu semua belum seberapa.

O iya, sebenarnya di daerah ini kita akan melewati sebuah Jembatan yang fenomenal di Indonesia, yaitu Jembatan Cisomang, hanya saya tidak tahu tepatnya di daerah mana. Jembatan Cisomang merupakan Jembatan KA paling tinggi di Indonesia, kurang lebih kedalamannya mencapai 200 meter. Tapi, jembatan ini tidak menyeramkan karena memiliki jalan kecil di sisinya sehingga lebih lebar. Berikutnya, salah satu rekor yang ada dalam perjalanan ini adalah Terowongan Sasaksaat. Terowongan Sasaksaat merupakan terowongan KA paling panjang yang masih aktif di Indonesia, panjangnya kurang lebih 949 meter. Terowongan ini terasa menyeramkan karena "kata orang sekitar" terowongan ini adalah terowongan yang angker. Biasanya saya selalu menutup pintu kereta api jika sedang melewati terowongan ini.

Tidak jauh dari Stasiun Sasaksaat, kita akan melintasi kembali Tol Cipularang, dari bawah kolong. Dari sini kita bisa melihat jembatan yang sangat mengagumkan yang akan kita lewati. Sungguh luar biasa, sangat mendebarkan, kalau kita ada di pintu maka hanya beda satu langkah tingginya sudah mencapai puluhan dan ratusan meter. Jembatan ini tidak mempunyai pembatas dan kita bisa melihat apa yang ada di bawah jembatan ini. Selain itu, kita juga bisa menikmati jembatan Tol Cipularang yang tidak kalah tingginya. Inilah yang saya maksud sensasi itu. Kemudian dari sini kita akan melewati jembatan-jembatan lain yang jumlahnya masih saya belum tahu (mungkin ada 10 lebih), yang semuanya tidak ada pembatasnya.

Akhir dari sensasi yang mendebarkan ini berakhir di daerah Padalarang, karena kita sudah mulai memasuki Kota Bandung. Sekedar tips dan saran, pilih perjalanan di pagi hari dan menjelang sore, karena selain masih bisa menikmati pemandangan, udaranya tidak terlalu panas. Jangan nekat berdiri di pintu kereta yang terbuka, dan waspadalah terhadap pelempar batu yang setiap saat bisa mencelakai Anda (saya saja hampir kena lho...), terutama di jalur Jakarta-Cikampek. Jangan buang sampah di jalan, karena bisa merusak alam.


Jumat, 11 Juni 2010

Selamatkanlah Bumi atau Selamatkanlah Manusia…?

Manusia adalah penghuni bumi bersama dengan ribuan spesies binatang dan tumbuhan saat ini, sejak Jaman Holosin (10.000 tahun SM). Pada awal jaman ini, manusia sejenis Homo Sapiens, yang merupakan nenek moyang kita, termasuk kamu dan saya, bermunculan di muka bumi. Entah bagaimana proses pemunculannya, sampai saat ini belum ada yang dapat menjelaskannya.  Sebelum Jaman Holosin, terdapat Jaman Pleitosen yang terjadi 600.000 tahun yang lalu. Manusia purba sejenis Homo Erectus hadir di jaman ini. Jaman Pleitosen dan Holosin merupakan bagian dari Jaman Kuartier, sedangkan Jaman Tersier terjadi 60 juta tahun yang lalu yang ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui. Baik Tersier maupun Kuartier, keduanya merupakan Jaman Neozoikum atau jaman hidup pertengahan. Jika kita mundur lagi, kita menemui Jaman Mesozoikum (140 juta tahun yang lalu), Jaman Paleozoikum (340 juta tahun yang lalu) dan Jaman Arkaezoikum (2500 juta tahun yang lalu). Untuk detailnya dapat Kamu baca di buku-buku sejarah SMA.

Berdasarkan informasi di atas, kita akan tahu bahwa peradaban manusia baru berumur kurang lebih 10.000 tahun yang lamanya. Hal ini jelas dong… tidak bisa kita bandingkan dengan umur bumi yang sudah melewati berbagai jaman. Banyak orang atau instansi yang menyerukan Save The Earth atau selamatkanlah bumi, selamatkanlah alam ini. Kalau kita renungkan sejenak dan kita tinjau dari paragraf pertama, maka bukankah seharusnya yang kita upayakan keselematannya adalah manusia itu sendiri. Alam bukan bergantung kepada manusia, tetapi peradaban manusia yang bergantung kepada kondisi alam. Selama kondisi alam masih “bersahabat”, maka selama itulah peradaban manusia bisa berjalan dan manusia akan terus hidup.

Pertanyaan saat ini adalah, “Akankah bumi akan hancur akibat pengrusakan alam oleh manusia?” Mungkin saja tapi menurut saya kecil kemungkinannya. Jika pertanyaannya dibalik menjadi, “Akankah peradaban manusia akan hancur akibat Bumi?” Sangatlah mungkin jika manusia tidak dapat bertahan hidup lagi akibat kondisi alam yang terlalu ekstrim. Kita lebih populer menyebutnya sebagai Kiamat Manusia. Belakangan ini banyak yang meramalkan akan datangnya hari itu dalam waktu yang tidak lama.

Coba kita kembali ke Jaman Pleitosen sekitar 600.000 tahun yang lalu. Tahukah kamu, pada jaman ini terjadi berbagai bencana hebat di muka bumi, seperti Supervolcano dan Tubrukan Meteor. Danau Toba adalah salah satu hasil supervolcano yang meledak pada 74.000 tahun yang lalu. Ledakan ini jauh lebih besar ketimbang letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Sebagai informasi, letusan Gn. Tambora menewaskan sekitar 72.000 orang, yang pada masa itu masih sedikit penduduknya. Dampak letusannya terasa hingga ke seluruh dunia. Tak bisa kita bayangkan, jika supervolcano terjadi pada saat manusia sedang berkembang. Bencana dahsyat lain adalah tubrukan meteor ke permukaan bumi. Peristiwanya memang sangat jauh antara meteor yang satu dengan yang lainnya, bisa ribuan atau puluhan ribu tahun jaraknya, tidak sebanding dengan tahunnya manusia. Bisakah kita bayangkan sudah seperti apa jadinya bumi dengan bencana-bencana yang terjadi itu. Nyatanya bumi masih ‘baik-baik’ saja saat ini. Kita kembali ke Jaman Arkaezoikum, 2.5 Milyar tahun yang lalu. Saat itu bumi memiliki lapisan yang sangat panas, dan belum terdapat lapisan udara. Jarak bulan dan bumi sangat dekat dan dapat jatuh menimpa bumi sewaktu-waktu. Lalu, apakah umur bumi akan singkat saat itu? Tidak khan, bahkan bumi masih terus berotasi dan berevolusi sampai sekarang.

Ciptaan manusia mungkin ada batas waktunya, tapi ciptaan Tuhan... tidak ada yang tahu sampai kapan batas waktunya. Umur manusia saja tidak bisa kita perkirakan. Lalu, selamatkanlah bumi atau selamatkanlah manusia yang lebih kita serukan? Jika ingin hidup lebih lama di bumi, maka perlakukanlah bumi dengan sebaik-baiknya dan peliharalah alam ini. Seperti kita memelihara raga kita, dengan makan minum dan membersihkan diri. Dengan cara seperti ini, paling tidak kita bisa tinggal dengan lebih nyaman dari saat ini, walaupun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok.

Ignatius Yudistiro Sampurna.
Jumat, 11 Juni 2010