Halaman

Tampilkan postingan dengan label Turing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Turing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Perjalanan Estafet via Jalur Pantai Selatan Jawa



Cerita berawal dari awal tahun 2013, dimana sudah direncanakan kalau adik ibu saya yang paling muda mau merrid. Lha... terus... tidak ada omong-omongan, tau-tau orangtua sudah membelikan saya tiket Kereta Ekonomi Bengawan, untuk tanggal 9-10 Februari, Pulang-Pergi (PP), sedangkan orangtua saya berangkat tanggal 7, pulangnya tanggal 11 Februari. Karena sudah terlanjur dibelikan, ya saya segan untuk menolak, kecuali untuk pemberangkatannya, terlalu mepet sama jadwal pulang. Akhirnya tiket keberangkatan dikembalikan walau kena charge sekitar 25%, dan saya memeilih untuk naik bus, dan berangkat satu hari lebih awal.

Walaupun berencana untuk naik bus, tapi sampai mau dekat hari-H nya pun saya masih belum memutuskan mau naik apa. Ada ide dalam benak saya untuk turing estafet, yang akhir tahun kemarin gagal terlaksana. Turing estafet menjelajahi jalur pantai selatan Jawa. Tapi, saya juga belum memutuskan naik apa dari Jakarta, yang jelas inti perjalanan kali ini adalah menjajal Efisiensi, terutama Efisiensi Royal Class super executive.


Kamis, 16 Agustus 2012

Turing (Motor) Ke Bandung bersama Mudika Paroki St. Thomas

Motor2 Peserta Turing Bandung
Bulan Juli adalah bulan perpisahan, karena sudah beberapa orang 'penting' yang meninggalkan Paroki St. Thomas, termasuk frater Eko yang akan meninggalkan paroki tercinta untuk melanjutkan pendidikan. Frater Yulius Eko Priambodo telah meninggalkan paroki secara resmi pada hari Minggu tanggal 22 Juli yang lalu, tetapi frater Eko masih ada di gereja ini hingga sampai hari Jumat, barulah dia benar-benar pergi ke Bandung. Sebagai bentuk apresiasi dari Mudika dimana frater Eko ini sangat dekat dengan Mudika, kami mengadakan kunjungan Ke Bandung. Awalnya kami sendiri ingin secara langsung mengiringi kepergiannya dengan menggunakan motor, sekalian turing istilahnya. Sayangnya frater Eko telah dijadwalkan untuk pergi di hari Jumat bersama dengan para Romo. Rencana yang telah dibuat tetap dijalankan, dan kami tetap pergi ke Bandung, dan judul acaranya bukan lagi mengiringi frater Eko tetapi berkunjung ke Seminari Tinggi di Bandung. 

Turing motor kali ini diikuti cukup banyak orang, tercatat ada sekitar 12 motor, 6 motor diantaranya berboncengan, serta 2 mobil guna membawa logistik. Total ada sekitar 25 orang yang ikut dan nggak semuanya Mudika, ada orang tua juga, dan yang terpenting Romo Andre yang juga turut serta dalam turing kali ini. Setelah misa Sabtu sore, tanggal 28 Juli, kami berkumpul di halaman Gereja St. Thomas. Persiapan dilakukan seperlunya seperti menempelkan tanda di belakang motor, sehingga ketika di tengah kerumunan atau padatnya lalu lintas, motor kawan dapat dikenali. Rencana semula yang dijadwalkan berangkat paling lama jam 9 malam, ternyata baru berangkat jam 10 malam. Maklum, anak muda. Semua persiapan yang dilakukan serta doa sebagai kekuatan kami, mengawali perjalanan ini.

Rute yang diambil adalah Jalan Raya Bogor, Sentul, Puncak lalu terus sampai ke Bandung. Rute Sentul diambil untuk menghindari kemacetan yang ada di Ciawi, Bogor dan sekitarnya. Mengingat kami jalan jam 10 malam dan tepat di malam minggu, kemungkinan di Ciawi masih padat. Perjalanan berhenti dua kali di antaranya di Pom Bensin Pekapuran (Cimanggis) dan Pertigaan Sentul. Perjalanan tidak mengalami kendala, sampai di daerah Sentul, terjadi masalah dengan motor salah satu teman. Gas motor brebet sehingga jalan menjadi tidak lancar. Kami menunggu hampir 1 jam, dan pada akhirnya sumber masalah sudah diketahui yaitu di busi. Setelah busi diganti, motor bisa berjalan dengan lancar dan perjalanan bisa dilanjutkan kembali.

Perjalanan berlanjut melintas puncak dengan jalan menanjak. Tidak ada kendala yang berarti karena semua menggunakan motor berkapasitas sedang (125 ke atas). Ketika jalan menurun, kami juga cukup berhati-hati dan masing-masing pengendara mencoba untuk tidak egois dan bisa mengendalikan motor dengan baik. Kami berhenti lagi di dekat puncak pass, sekedar untuk menghangatkan badan dengan minum minuman yang hangat. Tak terasa sampailah kami di Padalarang.

Di Padalarang ini kami mulai dikawal oleh mobil Patwal. Dengan dikawal oleh Polisi kami berharap perjalanan bisa lancar dan tidak terhalang apapun apalagi gangguan oleh genk-genk motor Bandung yang iseng dan jahil. Tapi, tampaknya justru dengan dikawal seperti ini malah mengundang perhatian banyak orang. Hal yang tidak kami harapkan terjadi pun terjadi. Perjalanan kami mendapat gangguan dari pengendara motor yang  nekat. Imbasnya, kecelakan menimpa salah satu teman kami. Mirisnya dia jatuh bukan karena disenggol pengendara motor itu melainkan disenggol mobil patwal yang berusaha menghindari pembalap motor liar itu.

Beruntung, luka yang dialami tidak parah tapi kami tetap mengantar teman kami itu ke rumah sakit terdekat. Di sini kami dan teman kami mencoba untuk sabar dan tidak menyalahkan siapa pun, yang sudah terjadi ya terjadilah. Sekitar 1 jam-an kami menunggu pengobatan teman kami, teman kami merasa cukup kuat untuk bisa melanjutkan perjalanan. Perjalanan pun dilanjutkan dan tidak lama kemudian sampailah kami di Seminari Tinggi Paulus Petrus sekitar jam 3 dini hari.


Senin, 16 April 2012

Touring Keberuntungan (Bismania)

Hai-hai... lama tak jumpe...

Kali ini saya mau menulis report turing, Touring Keberuntungan. Mengapa disebut Touring Keberuntungan? Karena saya merasa mendapat banyak sekali faktor luck dalam perjalanan saya kali ini. Awalnya saya nggak ada niat untuk membuat report turing, tapi lama-lama tangan saya gatel pengen menulis, soalnya udah lama nggak kasih report. Lagian gak ada salahnya khan, kita share kita punya pengalaman... Mungkin ceritanya bakal panjang, membosankan, foto2nya kurang, dll. In spite of that, I hope you enjoy my story.

OKe, ceritanya dimulai dari sejak rasa penasaran saya sama armada yang satu ini. Dari power mesin nya, dari interiornya, terutama dari seatnya... Yapp... itu adalah Nu3tara NS-01 yang terbaru, yang baru ngelen sekitar bulan Januari tahun ini. Sementara yg empunya Forum ini udah ngerasain 4x (dapet hot seat pula), dan warga Bandung yang mungkin sudah mencoba berkali-kali, lantaran NS-99 seat elektrik sudah ngelen duluan tahun lalu. Saya sendiri terakhir naik Nu3tara Super Eksekutif sekitar 2-3 tahun yang lalu, karena memang harga di kelas ini terbilang tinggi. Kali ini saya paham dan mengerti kalau harga yang akan saya bayar bakalan tinggi, dan memang sudah konsekuensinya dan saya telah mempersiapkan segalanya selama sebulan lamanya.

Sempat direncanakan turing dilakukan pada akhir Februari, tetapi gatot alias gagal total karna nggak dapet hot seat, dapetnya malah seat belakang. Akhirnya... searching lagi tanggal yang pas. Nah... ketemu hari libur tgl 23 yang jatuhnya hari Jumat. Setelah dicek berdasarkan hongshui, tanggal 22-25 merupakan tanggal yang baik untuk melakukan perjalanan. Percaya atau tidak ... bisa dibuktikan pada cerita selanjutnya... Dan tiketnya langsung saya beli (bukan pesen lagi bro), dimana waktu itu saya datang langsung ke Kantor Nu3tara di Daan Mogot pada tanggal 18 Februari. Saya bertanya untuk perjalanan pp tanggal 22-23, ternyata pas tanggal 22, seat depan masih kosong jadi saya langsung ambil seat 1C. Sedangkan untuk perjalanan pulangnya, saya dapet seat 4C (seat ini sebenarnya sudah saya booking via telepon beberapa hari yang lalu).

SKIP... menunggu untuk turing selama 1 bulan itu bukan hal yang gampang... soalnya saya bukan orang sabaran kalau soal turing... hhhehe

Minggu, 14 November 2010

Ke Jepara dan Solo, Perjalanan yang "Menyenangkan"



Ini tentang pengalaman saya naik bus ke kota Solo. Memang ini bukan yang pertama kalinya, hanya saya ingin mensharingkan tentang sekilas dunia per-bis-an melalui apa yang saya alami, dan kebetulan saya juga seorang penggemar bis. Pada awal Oktober lalu, saya memutuskan 'secara mendadak' pagi harinya untuk pergi ke Solo. Saat itu juga saya langsung menelpon ke agen bus di Terminal Lebak Bulus. Saya memilih PO Shantika dengan mesin Scania. Bus ini akan mengantar saya ke Jepara via Semarang, nanti dari Semarang baru disambung lagi dengan Patas tujuan Solo. Inilah cara menyenangkan buat saya untuk jalan-jalan.
Kembali saat saya menelpon agen, saya tanya apakah saya bisa memesan seat terdepan. Pihak agen pun menyanggupi dan saya 'deal' dengan agen untuk datang jam 16.30. Sebuah pelayanan yang cukup memuaskan ditambah dengan keberuntungan saya sehingga saya mendapat seat nomor 1.

Saya tiba di terminal Lebak Bulus jam 4 lebih 15 menit, yang saya tempuh dengan naik bus Deborah dari Depok. Saya langsung menuju tiket dan menukarkan uang sejumlah 130 ribu rupiah dengan selembar tiket. Pihak agen kemudian memberitahu saya bahwa bus sudah ada di tempat dan saya bisa langsung masuk ke dalam. Lalu saya menuju ke tempat dimana bis itu berada. Saya senang ketika melihat bis yang saya naiki ini. Ini termasuk armada terbaru yang dimiliki PO ini. Bus dengan mesin Scania K380IB yang dibajukan dengan karoseri Scorpio King pabrikan dari Tentrem, berwarna putih dengan garis-garis dinamis. Bis ini menjadi bahan perbincangan para penggemar bis belakangan ini. Selain karena power-nya yang paling besar saat ini, yaitu 380 HP, di Jawa sendiri hanya 2 PO yang setahu saya baru memiliki mesin tipe ini.

Pukul 17.45, bus berangkat meninggalkan terminal, dan langsung masuk Tol JORR tanpa 'ngetem' lagi di pinggir jalan. Ketika sampai di Jati Asih, bus ini keluar Tol. Saya juga kurang tahu apakah di daerah ini ada agen atau tidak. Bus berhenti sekitar 10 menit, dan menaikkan 1 atau 2 orang penumpang. Kebetulan bus tidak penuh dan masih tersisa beberapa kursi kosong. Setelah itu, bus berjalan lagi dan masuk Tol Cikampek.
Bus kelas eksekutif ini tentunya dapat fasilitas, selain AC dan toilet seperti Reclining seat, leg rest, bantal, selimut, TV LCD dan musik (saat itu TV musik tidak dinyalakan karna tertulis ada masalah dengan sistem audio-nya), dan yang pastinya saya mendapat servis makan prasmanan. PO ini bekerja sama dengan RM. Barokah Indah yang ada di daerah Indramayu (kalau tidak salah). Menu makanan malam ini cukup enak walau terlihat biasa-biasa saja bagi saya. Saya sampai di rumah makan ini sekitar jam 9 kurang, dan penumpang diberi waktu untuk makan, istirahat, dan lain-lain selama 30 menit, setelah itu melanjutkan perjalanan.

Waktu makin malam, dan bagi penumpang lain ini waktunya tidur yang nyenyak. Perut sudah kenyang, AC cukup dingin, ditambah suspensi udara yang nyaman biasanya akan membuat penumpang tertidur nyenyak, cepat atau lambat. Tapi tahukah Anda, bahwa ketika para penumpang tertidur, para sopir bus akan memacu bus-nya lebih cepat dan kadang lebih gila. Inilah pertempuran malam dimulai. Bus berjalan terasa halus, tapi diam-diam angka di speedometer sudah menujukkan 125 km/jam (angka maksimal di speedo). Bus-bus lain yang berada jauh di depan mampu dikejarnya dan disalip, bahkan bus-bus yang 30 menit lebih berangkat lebih dulu dari terminal Lebak Bulus pun sanggup disusulnya. Tapi, saya melihatnya masih wajar, lantaran mesin bus ini yang sanggung mengeluarkan power 380 HP sementara bus-bus lain hanya sekitar 180 HP, 210 HP, 250 HP, 260 HP saja, ditambah solar yang tidak dibatasi. Alhasil, apa yang terjadi semalam menjadi tontonan yang menarik buat saya.

Kekhawatiran mulai melanda karena sampai di tempat tujuan lebih pagi dari yang saya perkirakan. Jam 3 kurang sudah sampai di Semarang, dimana saya berencana turun di sini. Tapi, saya urungkan rencana itu dan saya lebih memilih melanjutkan sampai Jepara, demi keamanan. Lagi-lagi karena bus yang melaju cepat, Semarang - Jepara hanya ditempuh 1 jam kurang. Akhirnya saya meminta tolong kepada kru bus ini untuk diperbolehkan ikut sampai ke garasi sambil menunggu matahari terbit. Setelah menurunkan penumpang terakhir, bus menuju ke garasi yang berada di daerah Ngabul, Jepara. Saya pun diperbolehkan tidur di dalam bus.

Paginya, saya bangun dan meninggalkan garasi. Saya mengurus pertiketan dahulu untuk saya pulang ke Jakarta sebelum beranjak ke Solo, yang ternyata ujung-ujungnya tidak berhasil dan saya putuskan untuk langsung ke Solo. Saya berangkat dari Jepara jam 11 siang, naik bus 3/4 ke Semarang. Waktu saya naik, bis tidak terlalu penuh, dan saya memilih duduk di belakang, dekat pintu belakang. Bus lambat laun dipenuhi orang-orang yang baru masuk/pulang kerja. Mereka kebanyakan adalah para wanita dari pabrik rokok Djarum, terlihat dari topi khas yang mereka pakai. Beruntung saya memilih tempat duduk yang pas, jadi saya tidak ikutan desak-desakan seperti yang lain, lega dan tidak panas. Kalo pagi tadi naik bus besar, Semarang - Jepara bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 1 jam, lain halnya dengan bus reguler ini. Dari Jepara ke Semarang via Demak ditempuh sampai 2 jam lamanya.

Sampai di terminal Terboyo Semarang jam 1 siang. Kebetulan ada Patas Safari ke Solo yang barusan ke luar terminal, lalu saya berlari dan saya cegat di putaran. Ada pengalaman yang menarik selama naik bus ini. Awak bus ini berseturu dan merasa kesal dengan bus beda PO di depannya yang melayani trayek yang sama, lantaran mereka berjalan lebih dulu. Alhasil jalur Semarang Solo menjadi jalur yang terpanas dari yang pernah saya temui. Mereka saling kejar-kejaran, dan biarpun hujan deras, sopir Safari ini tetap melajukan bus ini dengan kencangnya, yang sempat membuat saya was-was. Kemelut antara dua bus dua PO berakhir di terminal Bawen, saat bus yang saya naiki masuk ke terminal sementara sasarannya jalan terus. Tapi, ternyata hal itu tidak membuat sopir bus Safari ini menjadi tenang, dia tetap 'panas' mengendarai bus ini, bahkan sampai mendahului sesama Patas Safari lain, yang berhasil tersusul di daerah Boyolali. Beruntung, saya sampai di Solo dengan selamat.

Sabtu, 03 Juli 2010

Memang bukan Rejeki... Menjelang Ulang Tahun Po. Shantika

Hari Jumat, gak seperti biasanya, hari ini gw bawa tas yang isinya bermacam-macam barang. Ada kemeja, kaos, celana, dan puyer tolak angin serta sedikit bekal air minum. Layaknya orang ingin melakukan perjalanan jauh. Tapi memang, setelah pulang kantor hari ini, saya akan segera menuju ke terminal Rawamangun untuk pergi ke Jepara dan menghadiri Ulang Tahun Shantika. Rencana yang udah dipersiapkan secara matang mulai dari seminggu sebelumnya. Keinginan gw untuk mencicipi bus baru Muji Jaya 1525 HD new Marcopolo akan segera terwujud, apalagi kalo dikendarai driver handal macam Mas David, plus bareng teman-teman Bismania. Tiket saya dan yang lainnya sudah ada ditangan saya hari Rabu lalu. Waktu perjalanan dari kantor ke terminal Rawamangun udah gw perhitungkan jauh2 hari. Hari ini gw memang tinggal menunggu saat2 pulang kantor, sambil membayangkan gimana seru dan asyiknya naik bis baru ngeblonk bareng temen2.

Jam begitu terasa lama, gw sendiri dari sejak sampai di kantor sudah gak ada gairah untuk bekerja. Tiba2, sekitar jam 9 lebih, teman kantor senior gw menelpon. Mendengar dering telepon saja udah membuat perasaan gw gak enak, apalagi kalo dijawab. Mau gak mau tetap harus gw jawab. Pembicaraannya kurang lebih seperti ini:

Teman (T) : Halo... Dis, lo lagi sibuk gak?
Gw (G) : Kenapa emangnya pak?
T: Gak, khan si xxxx (nama disamarkan) gak bisa ikut Aanwijzing ke Serang, jadi lo ikut ya...
G: (perasaan gw jadi bener2 gak enak)... hah... ke serang?!
T: iya. Ntar jam sebelasan kita berangkat ya... bisa khan?
G: (bingung antara jawab bisa apa gak, kalo bilang gak bisa takutnya dia ngadu ke boss, kalo jawab bisa, bisa gagal gw ke jepara)...
G: Pak.. itu.. itu kira2 pulang ke kantor sampenya jam berapa pak?
T: Ya... kira2 jam 8an lah...
G: hah!! jam 8. Yang bener pak. Wah, gak bisa pak saya harus disini jam 5 sore pak. (Awal kesalahan gw)...
T: Jam 5? Mau ngapain lo, sibuk ya?
G: ENGGAK BEGITU SIH, SOALNYA NTAR PULANG KANTOR SAYA MAU PULANG KAMPUNG PAK. (kalimat huruf besar merupakan kalimat yang paling fatal yang pernah gw ucapkan untuk sebagai alasan)...
T: hhooo... gitu ya. (dengan nada agak tertawa). Jadi bisa apa gak Nih? (dengn nada agak sedikit keras)...
G: hhmmm... gak bisa pak.
T: Gak bisa ya. Oke kalo begitu.

Pembicaraan langsung berhenti. Dan gw langsung lega yang disertai dengan rasa deg-degan. Tapi, gak beberapa lama kemudian, dia telepon lagi. Pembicaraannya berlangsung cepat dan gw udah gak bisa mikir lagi. Intinya, kalo gw harus ikut dan ini merupakan perintah dari Boss. saat itu juga gw langsung turun ke lantai dasar menemuinya. Dan ternyata oh ternyata, dia menelepon Boss dan mengatakan kalo gw gak bisa ikut dengan alasan yang gw kemukakan di atas. Temen gw itu bilang, Boss langsung marah dan mengatakan kalo gw harus ikut. Temen gw bilang kalo gw harus ikut karna Boss udah marah tadi. Seketika itu gw langsung lemes.

Tapi, gw gak tinggal diam. Gw langsung melakukan perhitungan waktu. Tempat pertemuannya kira2 ada di Cikande, Serang. Tempat terjauh yang pernah gw datengin untuk Meeting. Gw langsung mikir, kok kenapa tiba2 bisa jadi gini ya?, saat gw lagi pengen seneng2 ada aja yang menghalangi. Tapi gw buang jauh2 pikiran itu. Gw langsung diskusi sama supirnya. "Pak, kira2 jam 5 bisa sampe sini gak?" kata gw. Jawabannya membuat gw ragu. Jawabnya, "ya tergantung. Kalo lancar bisa sampe, kalo macet ya gak bisa"... Waduh, pikir gw. Karena Aanwijzingnya jam 2, diperkirakan jam 3 sudah selesai dan bisa pulang. Gw tanya lagi, "emangnya berapa lama perjalanannya dari sini ke sana?". Jawabnya, "kurang tau ya, soalnya dari Tol khan masih masuk ke dalem, dan ke dalemnya juga lumayan jauh". Karna masih gambling, gw gak berani melakukan perhitungan, yang jelas mulai detik itu gw bener2 berdoa, semoga gw bisa tepat waktu sampai ke terminal.

Kira2 udah jam 11, tapi kok belum berangkat juga. Rupanya temen gw itu masih sibuk ngerjain pekerjaannya. Mungkin karna gw merasa panik dan terburu-buru, gw selalu bilang ke beliau, ayo dan ayo... alasannya supaya sampai disana jam 12, sekalian Bapak sholat jumat. Dan akhirnya kami pun berangkat, dan gw lihat temen gw itu agak keliatan kesal. Di dalam mobil, temen gw itu bilang agak keras ke gw, yang membuat gw jadi ciut. Ini akibatnya karna gw membuat dirinya terburu-buru dan meninggalkan pekerjaannya yang lain. Sifatnya baru gw ketahui saat itu juga, kalo dia gak suka terburu-buru. Di perjalanan pun gw panik dan diem aja. Panik gw tambah parah, saat melihat supirnya kurang kenceng mengendarai mobilnya, apalagi ditambah cuaca yang kadang hujan kadang nggak.

Jam 11. 15 berangkat, jam 11. 45 sudah sampe karawaci, jam 12.00 keluar Tol Ciujung (Jauhnya bukan maen). Jam 12.25 berhenti di jalan karna mereka mau sholat Jumat dulu. Sekitar 2 jam-an mungkin perjalanan dari kantor ke tempat meeting, dan itu perjalanan dalam keadaan lancar. Berarti kalo jam 3 meetingnya selesai, jam 5 bisa sampe kantor. Gw agak sedikit terhibur, tapi muka gw masih ketekuk. Itu kalo lancar, kalo macet kira2 butuh 3 jam. Itu gapapa, ntar dari kantor gw naik ojek langsung ke terminal. Jam 1 kurang, udah ketemu tempatnya, Temen gw itu ngajak makan dulu. Mungkin karna melihat raut muka gw yang kusam dan terlihat menyedihkan (hahaha), temen gw itu langsung baik sama gw dan bilang, "pasti sampe, meetingnya cepet kok". Gw pun merasa terhibur.

Sudah jam 2. Tapi batang hidung yang punya proyek blom nongol juga. Dan gw masih bisa bersabar. Jam setengah 3, mereka blom juga dateng. Gw sampet mikir, kayaknya gak jadi deh. Trus gw tanya ama supir, pernah gak ketemu meeting trus gak jadi gara2 gak dateng atau telat. Jawabnya, blom pernah. Pikiran gw yg sempet gw buang jauh, dateng lagi. Emang udah kayak dibuat skenario, segala sesuatu yang sudah terlihat jelas menghalangi gw untuk menikmati kesenangan gw itu. Mulai dari diajaknya gw ke serang secara tiba2, tempat yang jauh dari biasanya, jadwal meeting yg gak biasa (biasanya jam 10an), yang punya proyek telat banget... Semua hal itu membuat gw GILA di dalam pikiran gw sendiri. Jam 3, dan mereka jg blom dateng. Dan hal ini semakin jelas terasa.

Jam 3 lebih 10 menit, mereka datang. Meeting pun langsung dibuka, dan gw tetap harus melakukan perkerjaan gw dengan baik, karna gw profesional. Kira2 meeting selesai jam 4 lebih. Dan gw yang tadinya serius, sekarang menjadi panik dan gak tenang. Perasaan ini ditambah, ketika temen gw itu masih ngobrol dengan pemilik proyek karna ada suatu urusan. Jam setngah 5 kami berangkat pulang. GILA jam setengah 5!, yang bener aja. Berarti sampe kantor jam setengah 7 donk... Itu pun kalo lancar, kalo macet gimana coba. Setelah melakukan perhitungan itu, gw pun langsung lemes dan udah kayak kehilangan harapan. Tapi, temen gw malah bilang "Sampe kok". Harapan gw muncul lagi. Tapi... di jalan macet dan cukup panjang. Melihat itu, gw gak bisa berharap banyak. Jalan macet karna jalan rusak, dan sebagian karyawan di daerah ini sudah jam pulang. Jalan Serang macet, Pintu masuk Tol pun macet... di Tol pun padat kendaraan, jauh berbeda keadaannya dengan waktu berangkat tadi.

Masuk Tol jam setengah 6, dan gw langsung SMS temen bismania gw. Waktu SMS pun gw juga udah kehilangan harapan untuk bisa ikut, tapi masalahnya bukan disitu. Masalahnya karna gw yang bawa tiket mereka, tanpa tiket ini gimana mereka bisa naik bis. Temen bismania itu nelpon gw, menanyakan posisi gw dimana dan sampe jam berapa di terminal. Gw gak berani jawab pasti, gw hanya bisa jawab secepatnya. Kenapa gw jawab itu, karna gw masih punya keinginan untuk cepat sampai disana. Walaupun kondisi jalan ramai, ditambah informasi dari radio yang mengatakan kalo banyak ruas tol di Jakarta itu macet total. Gak lama, temen gw itu nelpon lagi dan tanya "Gimana kalo dibatalin". "Apa... jangan!!!", sahut gw. Terus Hp nya mati. Gak lama lagi, nelpon gw lagi, dan bilang "lo dibatalin aja ya". Sesaat itu gw langsung ngeh kalo yang dibatalin itu cuma gw aja dan gw langsung bilang "ya udah Om, gapapa. Trus yg lain gimana, khan tiketnya ada di gw?". Jawabnya, "ntar gw coba lobi ke xxxx". Kebetulan karna kita bismania jadi kita kenal dan udah akrab sama agennya.

Akhir kata, "ya udah om. gapapa, gw ditinggal aja." Jawabnya, "oke ya dis...". Pembicaraan ditutup. Beberapa saat tadi Gw dalam keadaan yang super panik dan kemudian kehilangan harapan. Setelah menutup pembicaraan barusan, gw merasa tenang dan lega, tapi disertai rasa kekecewaan yang amat sangat. Mungkin niat gw untuk naik Muji Jaya baru pupus, tapi niat untuk ke Jepara masih ada. Melihat kondisi gw yang penuh rasa kekecewaan, temen kantor gw tanya kenapa gw gak jadi ikut. Bla bla bla... gw jelasin ke dia, dan gw juga bilang kalo gw tetep pengen pergi cuma naik bis lain. Dengan baik hati, beliau mau mengantarkan ke terminal, padahal saat itu sedang jenuh karna macet luar biasa di Tol Kebun Jeruk.

Sungguh luar biasa, selepas dari Gerbang Tol Kebon Jeruk, jalan Tol bener2 lancar. Mobil pun dibelokan ke arah Tol Priuk dan ByPass. Tapi karna di kantor sudah ditunggu teman kantor senior yang lain, jadi mereka cuma bisa nurunin gw di Jalan Perintis. Tadinya gw mau ke terminal Pulogadung, tapi karna temen gw bilang harus ini dan itu, dompet jangan dikantongin, dan lain-lain... Akhirnya gw pergi ke terminal Rawamangun dengan ojek. Di perjalanan, keraguan untuk naik bis terakhir yaitu Gunung Mulia makin besar, karna tiket yg mahal dan waktu sampe ke Jepara yg tidak dapat diprediksi. Sampai di terminal pun, gw cuma melihat bis Gunung Mulia, tanpa berniat menghampiri. Kemudian gw nelpon Bokap gw untuk minta dijemput. Dan cerita ini pun berakhir di rumah Nyokap gw di KLender. Saat itu, gw berpikir akan menikmati weekend di sini sendiri atau bersama keluarga. Mungkin memang bukan rejeki gw untuk menikmati acara itu bersama teman2 di Jepara.


Bersambung ke
Harapan Tetaplah Ada... Menjelang Ulang Tahun Po. Shantika

Sabtu, 13 Februari 2010

Turing Mania with Muji Jaya

Tanggal 6-7 Februari 2010

Udah direncanain seminggu sebelumnya, kalo pengen turing naik Muji Jaya kuning dari Rawamangun. Tiket udah dipesenin ama bung Anto ke mas Lulu, minta seat panas. Sebelumnya memastikan dulu kalo jagoan kita lagi aktif hari itu, Mr. Bambang. Sudah memastikan via sms, kalo dia udah aktif lagi, yg sebelumnya lagi libur. Kali ini yg ikut turing, ada saya dan Anto, pulang pergi naik MJ. Ada Dody sama Toms, yang berangkat naik Shantika dari LB, dan pulang bareng kita naik MJ.



Chapter 1...

This is my first Muji Jaya.

Kalo boleh jujur, ini pertama kalinya saya naik Muji Jaya. Setelah seminggu menunggu, akhirnya hari-H datang juga. Berbekal seadanya, saya siap berangkat. Jam 3an, hujan deras melanda jakarta dsk. Baru reda jam 5 kurang, dan saya langsung cabut ke terminal Rawamangun. Di sana udah ada Anto, ama temen bismania, tpi saya lupa namanya. Jam setengah 6, datanglah Muji Jaya OH 1525 warna kuning, Setra Adiputro lampu smile. Bersama Pak Iyus, driver pinggir dan Mas Bambang sebagai driver tengahnya.


Ada shantika ijo tosca 1525 dan Big Top yang udah berangkat dari jam setengah 7 tadi. Jam 7 kita berangkat, tapi gerombolan Nu3tara belom berangkat juga. Wah, jadi gak bisa ngeblongin Scania dong, pikir saya. Driver pinggir pak Iyus, bawanya cukup santai. Tapi, yang paling mengherankan adalah, spedometer nya, yang kayaknya aneh. Di situ tertulis kalo kita lagi berjalan dengan kecepatan 60 km/jam, tapi kok rasanya seperti berjalan 100km/jam ya... Setelah diteliti, ternyata spedonya diturunin. Kita jalan 30-40an, jarum spedo baru naik... wakakaka. Hebat, sempet mengecoh kita.

Jam setengah 10, sampe di Taman Sari. 30 menit kemudian kita berangkat lagi, dan tentunya oleh Mas Bambang. Hehehe... ini baru sensasi... baru beberapa beberapa menit jalan udah ngeblongin 10 bis lebih. Kata si Anto, "yang itu mah gak masuk itungan"... Ada banyak SinJay, Sumber Alam, Dedy Jaya, Dewi Sri. Ada juga Karina, yang saya liat lewat di Taman Sari, kira2 20 menit sebelum kita jalan lagi. Ada juga Raya, Rosalia Indah... "Wah To, kok lawan2nya kayak gini semua ya"... Ketemua Shantika high-deck merah dari Poris, gak ada perlawanan berarti. Apa lagi ya...

===========================================
Video:
MJ kuning vs shanti merah poris
http://www.youtube.com/watch?v=PwUGwXYbqag
===========================================

O iya, satu yang saya sesalkan adalah JALAN PANTURA sudah BANYAK YANG RUSAK PARAH....

Gara2 itu, susah banget buat ngeblonk... Sebulan yang lalu, kayaknya gak kayak gini deh. Kata Mas Bambang itu gara2 musim hujan sekitar 3 minggu. Kalo kayak gini harus segera dibenahi nih, biar bus bisa ngeblonk lagi dan gak membuat karoseri cepet rusak...

Kembali ke laptop.
Yang paling seru, kalo setiap mau nyalip, biasanya dipepetin dulu sampe bus/truk itu bener2 deket di depan bus, kira2 50an cm. Baru ambil kanan atau kiri.

Waktu di Tegal, kita kres2an ama MJ janda, di situ ada Grandy ama Pandu. Mereka kasih tau, kalo busnya Dody ama Toms jaraknya 10 menit. Tapi sayang banget gak ketmu, gara2 di Tegal banyak banget ruas jalan yang rusak parah.

Pernah, waktu dalam keadaan cepat, tau2 di depan ada jembatan, yg sambungan ke ruas jalannya udah berlubang, akhirnya gubrak... ckckck... blom selese sampe di situ, di depan ada bus putih, yg posisinya miring melewati jalur tengah, spontan Mas Bambang ambil kanan, dan ..... spion kena. Tapi untungnya gak knapa2... hehehe...

Di daerah Tegal atau Pemalang (lupa saya)... ketemu MJ biru poris. Sempet mau di salip, tapi keburu nurunin penumpang dulu. Trus dia ngacir. Tapi, ketemu lagi hehehe... trus langsung di salip dan dia ngasih jalan dengan melambaikan tangannya...

Di Bus saya juga sering ketiduran, tapi gak lama. hehehe... Waktu, check di Sendang Wungu, sekitar 10 menit kemudian, lewat Shantika Big Top... Nah lho, khan dia berangkat duluan 30 menit, masak tauk-tauk dia di belakang kita. Hehehe...

Jam 4 kurang sampe di Kudus, gak ketemu ama bus Dody dan Toms yang Shantika Biru 1525. Ternyata, mereka dioper... Mereka nunggu di depan Pom bensin Kalitekuk. Di sana, mereka ikut kita, numpang sampe ke garasi dan Kanto MJ, buat ambil tiket balik. Setelah ikut muter2 bersama MJ, sampe ke Kelet, pinggir pantai Bandengan, dan pertokongan buat nganterin paket, sampe di garasi jam 7.



Habis itu, cari sarapan, ambil tiket di kantor Muji Jaya, dan cari Hotel yang terjangkau buat perpal. Dan istirahat di situ.

di sinilah kita beristirahat alias perpal




Chapter 2...

Dari Hotel Kalingga Star, ada Saya, Anto, Toms dan Dody yang berencana pulang naik Muji Jaya. Dan ada Eca dan beibehnya yang pulang naik Shantika Big Top. Jam setngah 5 kita cabut ke Terminal jepara. Gak disangka, ada Cah Sodong, momod Muria Raya area.

Udah jam 6, MJ kuning blom dateng juga. Sementara, Eca berdua udah berangkat dengan Big Topnya, dan Cah sodong sudah pulang. Dengn sabar menunggu, akhrnya dateng jg. Di terminal udah sepi, yang ada cuma Muji Jaya aja. Bener2 berangkat paling belakangan nih. Jam setngah 7an kita berangkat. lewat garasi Shantika, udah sepi, begitu juga tempat2 lain. Di terminal Kudus, juga udah sepi. Dari terminal Kudus berangkat jam 8 lebih.

O iya, biasanya kalo dari Kudus, Mas Bambang bawa pinggir, tapi kali ini kita request langsung buat bawa tengah. hehehe... Perjalanan pertama oleh Pak Iyus. Ternyata, bapak ini diem2 ngejoss juga. Di luar Semarang, kenceng banget, sempet ketemu Rosin New Marcopolo (kalo gak salah)... bisa diblonk. Wuihh... mantabb. Sampe di RM. Sendang Wungu jam 10 kurang. MI di sebelah udah gak ada, di sini cuma ada OBL.

Jam 10an, berangkat lagi, dengan Mr. Bambang tentunya. Bangku 1 2 3 4... dipenuhi bismania, siap memantau perjalanan. Di Plelen, saya lupa nyalip bus apa... ada 2. Lewat plelen, jalan udah bener2 sepi... tinggal truk doank. Tapi, mr. Bambang cepet banget, seolah-olah mau ngejar bus2 yang sudah satu jam-an berangkat duluan.

Malam ini saya sering ketiduran, mungkin capek gara2 siang tadi jalan2... Yang lain kayaknya ON terus deh, mereka tidur tadi siang soalnya... hehehe

Ketemu lagi Shanti poris warna merah. Sekali ketemu Raya, dan beberapa ketemu RosIn.

===========================================
Video:
MJ kuning dan Rosin
http://www.youtube.com/watch?v=mCOZ9weGX5s

===========================================

Sekitar Pekalongan atau Pemalang, ketemu Karina Intercooler... bis ini ngotot gak mau kasih jalan. Kalo diperhatikan, ngejoss nih Karina. Setelah beberapa kali dicoba, akhirnya dapet juga. Gak cuma itu, Lorena dan Nu3tara intercooler di depan juga sekalian diblonk...

===========================================
Video:
Karina, Lorena, Nu3, Sekali sikat
http://www.youtube.com/watch?v=jFoW9ROVOJQ
===========================================

Di Tol Pejagan dan Kanci, keliatan Nu3tara 1525 london bridge di depan, tapi gak terjangkau... Selepas kanci, disinilah saya ketiduran... Sampe pamanukan juga masih kriyep2...

Sadarnya pas jalan rame, katanya saya ketinggal pertunjukan. Tadi abis ngeblongin Nu3tara 1525 london bridge, Raya, ama Shantika Ijo tosca ... Sialll... UNtungnya, Anto ngeshoot jalannya peristiwa... hehehe

===========================================
video:
ijo tosca dan Raya... vs MJ
http://www.youtube.com/watch?v=pQr__mKsJUI
===========================================

sampe di Pamanukan ke sana an lagi, hujan deres. Wah ini mah bikin tidur lagi. DI daerah Jomin, macet, ganti driver, sekarang saatnya Pak Iyus. Selepas dawuan, dan masuk Tol, jalan agak santai, sampe berhenti di Km.33. Berangkat lagi jam 5 kurang, di Tol kendaraan makin padat, maklum hari Senin. Sampe terminal jam 6...


Thanks to:

Anto, TOms dan Dody... yg menemani turing kali ini... Kita emang Turing mania... hhehehhe
Eca dan beibehnya... yg juga nemenin kita di jepara... hehehe
Cah Sodong... yang tauk2 dateng menemani kita di terminal jepara...
Mas Bambang, yang udah membawa kita dengan selamat dan menerima permintaan kita, teman ngobrol di perjalanan... kapan lagi ya.. hehehe
Pak Iyus, driver pinggir yang juga ramah kepada kita.
Pak Kopral, crew MJ. Beliau ramah sekali terhadap penumpangnya... thanks sudah berbagi kursi CDnya...
Mas Lulu, ngasih kita kursi panas...
Muji Jaya atas fasilitas dan servis yang memuaskan...
Grandy dan Pandu yang sempet kres2an waktu berangkat...

See U next time...

Senin, 11 Januari 2010

Touring Ke Kampung Halaman di Awal Tahun 2010

Tahun baru gini enaknya ngapain ya?... Biasanya sih gw di rumah aja, maen komputer, nonton TV atau filem. Kalo jamannya SMP dan SMA, gw pasti jalan keluar rumah, biasanya jalan ke monas kalo gak ke Taman Mini. Tapi, sekarang udah males lantaran ramenya luar biasa, penuk sesak, hoaxx, gak tahan gw. Ngliat status temen2 gw di Facebook yang kebanyakan pada ada di luar kota, kok gw jadi pengen ya. Hehehe... belom pernah nih gw mengawali tahun baru dengan jalan2 keluar kota, paling nggak ke luar Jadebotabek lah... Mumpung lagi nganggur berat nih. Tapi... niat sih pasti ada, masalahnya cuma satu, yaitu duit. Toh, gak mungkin gw kemana-mana tanpa bawa tuh benda. Biarpun gw sarkawian, ngompreng atawa BDB-an (Bebas Dari Biaya-bahasa gaulnya bismania kalo dapet tumpangan gartis), tetap aja gw harus bawa bekel mentahannya (duit-red).

Eh eh... gak dinyanya. Eh gak disangka. Bokap ama Nyokap berencana pulang kampung awal Januari ini. Kenapa gak gw manfaatin kesempatan itu aja ya... Ikut mereka 'jalan-jalan'. Padahal, mereka mudik karna ada acara Nyewu di tempat saudara di sana. Nyewu tuh artinya peringatan 1000 hari orang meninggal, kalo di sana namanya Nyewu, kalo di sini namanya 1000 hari. Rencananya berangkat tanggal 2, tapi kok
mendadak gw ada acara bismania tanggal 3, yaitu Kopdar Awal Tahun. Gampang aja... mending gw berangkat misah aja, tanggal 3, berangkatnya dari Lebak Bulus sehabis acara Kopdar itu. Gara-gara rencana gw buat berangkat nyusul, bokap nyokap berangkat naik motor, ngirit ongkos dan lebih enak katanya. Ya udah lah... "yang penting ati-ati pak"...

Stay to my Plan... Tanggal 1 Januari 2010, gw dateng ke Terminal Lebak Bulus. Agak aneh sih, orang-orang pada pergi ke Ragunan, Ancol dan Taman Mini, gw malah maen ke terminal. Di sana gw bingung, kira2 mau naik bis apa ya besok. Akhirnya pilihan jatuh ke Rosalia Indah, dan nggak tanggung-tanggung, gw naik yang Super Executive. Harganya 185.000 rupiah langsung gw bayar cash dan pesen tempat dan yang tersisa seat paling depa
n cuma seat 4A. Urusan tiket udah beres, sekarang tinggal urusan peralatan touring nih. Kalo bisa minimal gw bisa bawa kamera dan handycam.




Pas hari H, gw dateng ke Lebak Bulus jam stengah 1 dan anak-anak bismania yang lain udah banyak yang ngumpul. Sewaktu kopdar dan acara pertemuan dimulai, beberapa saat kemudian bis yang ditunggu udah dateng. Waduh, padahal kopdar belum selese. Untungnya, pertemuan ditutup dan gw langsung pamit sama yang lain. Di situ juga ada Edy Koens ama Mahendra, Ros-In Mania. Kata si Koens, bis ini kurang recomended. Kebetulan gw dapet no 245. Gw pikir, biar aja lah, yg penting naik SE nya Ros-In udah puas. Sambil memberikan lambaian kepada anak2 bismania yang lain, gw memulai perjalanan gw ini: Touring di Awal Tahun 2010.

Cerita di perjalanan, gw tulis di SINI

Rabu, 28 Oktober 2009

Susasana di Jalan Juanda

Baru saja saya pulang dari kampung halaman, tapi hati ini selalu rindu dan ingin kembali mudik. Suasananya yang damai, apalagi lingkungannya yang masih hijau oleh sawah dan pepohonan. Kebetulan, saya pernah berjalan-jalan di sekitar Depok, tepatnya di jalan Margonda. Tapi karena tidak tahan dengan keadaan mobil dan motor yang bertumpuk-tumpuk, akhirnya saya membelokkan kendaraan saya ke arah jalan Juanda. Berjalan di jalan Juanda memberikan suasana lain, tidak seperti di jalan Margonda. Lingkungan sekitarnya sebagian masih rawa, kebun, dan pepohonan, seperti jalan-jalan yang ada di kampung halaman. Walaupun sebagian lagi sudah mulai ada pembangunan rumah real estate dan ruko, tetapi untuk saat ini kita masih bisa merasakan lengang-nya jalan Juanda. Suasana perkampungan makin kuat terasa ketika kita berjalan selepas dari SPBU menuju persimpangan Jalan Raya Bogor. Jika kita lihat kanan dan kiri jalan, maka yang terlihat adalah rawa, sawah, kebun, dan jika beruntung, kita dapat melihat pegunungan Pangrango/Gede di sebelah kanan. Jalan yang lengang lengkap dengan pemandangannya ini mengingatkan saya pada Jalan Solo-Yogyakarta yang sering saya lewati. Jika hari biasa jalan Juanda memang agak lengang, tetapi saat akhir pekan, jalan Juanda berubah seketika menjadi pasar Tumpah, yang panjangnya hampir satu kilo lebih di sepanjang jalan Juanda. Pastinya kita tidak akan menikmati suasana di sekitar Jalan Juanda lagi, karena sudah lelah melihat manusia dan kendaraan tumpah ruah di jalan. Awalnya orang-orang sering berolahraga dan lari pagi di jalan ini, karena suasananya memang masih asri dan lengang. Tapi tiba-tiba beberapa orang yang berjualan di pinggir jalan itu, entah apa pemicunya, semakin lama semakin bertambah banyak, seperti keadaan saat ini. Walaupun demikian, kita masih dapat menikmatinya suasana Jalan Juanda yang lengang untuk beberapa tahun ke depan. Seperti Jalan Margonda, Jalan Juanda juga memiliki potensi untuk menjadi jalur yang sangat strategis dan tidak akan menutup kemungkinan Jalan Juanda akan menjadi seperti Jalan Margonda saat ini, yang berisi mobil, motor, bus, dan kendaraan lain yang kelewat mubazir dan bikin macet. Mall, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, belum lagi Jalan Tol yang sudah di rencanakan, akan membuat daerah di sekitar Jalan Juanda menjadi sangat strategis dan berharga.