Halaman

Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Perjalanan Estafet via Jalur Pantai Selatan Jawa



Cerita berawal dari awal tahun 2013, dimana sudah direncanakan kalau adik ibu saya yang paling muda mau merrid. Lha... terus... tidak ada omong-omongan, tau-tau orangtua sudah membelikan saya tiket Kereta Ekonomi Bengawan, untuk tanggal 9-10 Februari, Pulang-Pergi (PP), sedangkan orangtua saya berangkat tanggal 7, pulangnya tanggal 11 Februari. Karena sudah terlanjur dibelikan, ya saya segan untuk menolak, kecuali untuk pemberangkatannya, terlalu mepet sama jadwal pulang. Akhirnya tiket keberangkatan dikembalikan walau kena charge sekitar 25%, dan saya memeilih untuk naik bus, dan berangkat satu hari lebih awal.

Walaupun berencana untuk naik bus, tapi sampai mau dekat hari-H nya pun saya masih belum memutuskan mau naik apa. Ada ide dalam benak saya untuk turing estafet, yang akhir tahun kemarin gagal terlaksana. Turing estafet menjelajahi jalur pantai selatan Jawa. Tapi, saya juga belum memutuskan naik apa dari Jakarta, yang jelas inti perjalanan kali ini adalah menjajal Efisiensi, terutama Efisiensi Royal Class super executive.


Kamis, 16 Agustus 2012

Turing (Motor) Ke Bandung bersama Mudika Paroki St. Thomas

Motor2 Peserta Turing Bandung
Bulan Juli adalah bulan perpisahan, karena sudah beberapa orang 'penting' yang meninggalkan Paroki St. Thomas, termasuk frater Eko yang akan meninggalkan paroki tercinta untuk melanjutkan pendidikan. Frater Yulius Eko Priambodo telah meninggalkan paroki secara resmi pada hari Minggu tanggal 22 Juli yang lalu, tetapi frater Eko masih ada di gereja ini hingga sampai hari Jumat, barulah dia benar-benar pergi ke Bandung. Sebagai bentuk apresiasi dari Mudika dimana frater Eko ini sangat dekat dengan Mudika, kami mengadakan kunjungan Ke Bandung. Awalnya kami sendiri ingin secara langsung mengiringi kepergiannya dengan menggunakan motor, sekalian turing istilahnya. Sayangnya frater Eko telah dijadwalkan untuk pergi di hari Jumat bersama dengan para Romo. Rencana yang telah dibuat tetap dijalankan, dan kami tetap pergi ke Bandung, dan judul acaranya bukan lagi mengiringi frater Eko tetapi berkunjung ke Seminari Tinggi di Bandung. 

Turing motor kali ini diikuti cukup banyak orang, tercatat ada sekitar 12 motor, 6 motor diantaranya berboncengan, serta 2 mobil guna membawa logistik. Total ada sekitar 25 orang yang ikut dan nggak semuanya Mudika, ada orang tua juga, dan yang terpenting Romo Andre yang juga turut serta dalam turing kali ini. Setelah misa Sabtu sore, tanggal 28 Juli, kami berkumpul di halaman Gereja St. Thomas. Persiapan dilakukan seperlunya seperti menempelkan tanda di belakang motor, sehingga ketika di tengah kerumunan atau padatnya lalu lintas, motor kawan dapat dikenali. Rencana semula yang dijadwalkan berangkat paling lama jam 9 malam, ternyata baru berangkat jam 10 malam. Maklum, anak muda. Semua persiapan yang dilakukan serta doa sebagai kekuatan kami, mengawali perjalanan ini.

Rute yang diambil adalah Jalan Raya Bogor, Sentul, Puncak lalu terus sampai ke Bandung. Rute Sentul diambil untuk menghindari kemacetan yang ada di Ciawi, Bogor dan sekitarnya. Mengingat kami jalan jam 10 malam dan tepat di malam minggu, kemungkinan di Ciawi masih padat. Perjalanan berhenti dua kali di antaranya di Pom Bensin Pekapuran (Cimanggis) dan Pertigaan Sentul. Perjalanan tidak mengalami kendala, sampai di daerah Sentul, terjadi masalah dengan motor salah satu teman. Gas motor brebet sehingga jalan menjadi tidak lancar. Kami menunggu hampir 1 jam, dan pada akhirnya sumber masalah sudah diketahui yaitu di busi. Setelah busi diganti, motor bisa berjalan dengan lancar dan perjalanan bisa dilanjutkan kembali.

Perjalanan berlanjut melintas puncak dengan jalan menanjak. Tidak ada kendala yang berarti karena semua menggunakan motor berkapasitas sedang (125 ke atas). Ketika jalan menurun, kami juga cukup berhati-hati dan masing-masing pengendara mencoba untuk tidak egois dan bisa mengendalikan motor dengan baik. Kami berhenti lagi di dekat puncak pass, sekedar untuk menghangatkan badan dengan minum minuman yang hangat. Tak terasa sampailah kami di Padalarang.

Di Padalarang ini kami mulai dikawal oleh mobil Patwal. Dengan dikawal oleh Polisi kami berharap perjalanan bisa lancar dan tidak terhalang apapun apalagi gangguan oleh genk-genk motor Bandung yang iseng dan jahil. Tapi, tampaknya justru dengan dikawal seperti ini malah mengundang perhatian banyak orang. Hal yang tidak kami harapkan terjadi pun terjadi. Perjalanan kami mendapat gangguan dari pengendara motor yang  nekat. Imbasnya, kecelakan menimpa salah satu teman kami. Mirisnya dia jatuh bukan karena disenggol pengendara motor itu melainkan disenggol mobil patwal yang berusaha menghindari pembalap motor liar itu.

Beruntung, luka yang dialami tidak parah tapi kami tetap mengantar teman kami itu ke rumah sakit terdekat. Di sini kami dan teman kami mencoba untuk sabar dan tidak menyalahkan siapa pun, yang sudah terjadi ya terjadilah. Sekitar 1 jam-an kami menunggu pengobatan teman kami, teman kami merasa cukup kuat untuk bisa melanjutkan perjalanan. Perjalanan pun dilanjutkan dan tidak lama kemudian sampailah kami di Seminari Tinggi Paulus Petrus sekitar jam 3 dini hari.


Kamis, 12 Juli 2012

JJS TransJakarta Koridor XI


Hari Rabu tanggal 11 Juli 2012 dicanangkan sebagai hari libur se-DKI dalam rangka pemilihan calon Gubernur DKI. Bahkan diperkuat dengan dikeluarkannya SK dari Gubernur, dan mau gak mau perusahaan yang ada di wilayah Jakarta wajib diliburkan kecuali beberapa instansi penting. Kantor saya yang biasanya paling rajin, hari cuti bersama pun kadang-kadang tetep masuk, kali ini hari Rabu diliburkan. Lumayan bro... libur sehari untuk bersantai ria. 

Nah, singkat cerita di hari libur bingung mau ngapain, nonton TV bosen, beberapa pose duduk di sofa untuk mendapatkan posisi yang wuenak... tetep aja gak PW. "Ah bosen, keluar rumah aja ah" Tapi kemana? Kebetulan di sini juga ada adek saya yang lagi liburan SD dari kampung. Kenapa gak saya ajak aje adek saya jalan-jalan naik TransJakarta... Murah meriah tapi udah bisa keliling Jakarta. Sekalian saya juga pengen nyobain koridor XI yang baru dibuka dan bus nya baru.

Jadilah kami JJS alias Jalan-Jalan Siang naik TransJakarta. Karena posisi kami ada di Klender jadi perjalanan dimulai dengan naik angkot menuju Kampung Melayu. Biar berasa naik bus nya harus dimulai dari awal. Dalam sekejap kami sampai di Halte TransJakarta Kampung Melayu. Dengan membayar tiket 2x 3500 rupiah, kami bisa masuk ke dalam peron halte. Hal yang pertama kami lihat, peron halte ini lumayan luas. Kedua, kami melihat ada kerumunan yang cukup padat di pintu halte khusus koridor VII jurusan Matraman-Ancol. Untungnya di pintu koridor XI malah sepi, jadi nyaman kalau masuk bus gak berdesak-desakkan.

Senin, 16 April 2012

Touring Keberuntungan (Bismania)

Hai-hai... lama tak jumpe...

Kali ini saya mau menulis report turing, Touring Keberuntungan. Mengapa disebut Touring Keberuntungan? Karena saya merasa mendapat banyak sekali faktor luck dalam perjalanan saya kali ini. Awalnya saya nggak ada niat untuk membuat report turing, tapi lama-lama tangan saya gatel pengen menulis, soalnya udah lama nggak kasih report. Lagian gak ada salahnya khan, kita share kita punya pengalaman... Mungkin ceritanya bakal panjang, membosankan, foto2nya kurang, dll. In spite of that, I hope you enjoy my story.

OKe, ceritanya dimulai dari sejak rasa penasaran saya sama armada yang satu ini. Dari power mesin nya, dari interiornya, terutama dari seatnya... Yapp... itu adalah Nu3tara NS-01 yang terbaru, yang baru ngelen sekitar bulan Januari tahun ini. Sementara yg empunya Forum ini udah ngerasain 4x (dapet hot seat pula), dan warga Bandung yang mungkin sudah mencoba berkali-kali, lantaran NS-99 seat elektrik sudah ngelen duluan tahun lalu. Saya sendiri terakhir naik Nu3tara Super Eksekutif sekitar 2-3 tahun yang lalu, karena memang harga di kelas ini terbilang tinggi. Kali ini saya paham dan mengerti kalau harga yang akan saya bayar bakalan tinggi, dan memang sudah konsekuensinya dan saya telah mempersiapkan segalanya selama sebulan lamanya.

Sempat direncanakan turing dilakukan pada akhir Februari, tetapi gatot alias gagal total karna nggak dapet hot seat, dapetnya malah seat belakang. Akhirnya... searching lagi tanggal yang pas. Nah... ketemu hari libur tgl 23 yang jatuhnya hari Jumat. Setelah dicek berdasarkan hongshui, tanggal 22-25 merupakan tanggal yang baik untuk melakukan perjalanan. Percaya atau tidak ... bisa dibuktikan pada cerita selanjutnya... Dan tiketnya langsung saya beli (bukan pesen lagi bro), dimana waktu itu saya datang langsung ke Kantor Nu3tara di Daan Mogot pada tanggal 18 Februari. Saya bertanya untuk perjalanan pp tanggal 22-23, ternyata pas tanggal 22, seat depan masih kosong jadi saya langsung ambil seat 1C. Sedangkan untuk perjalanan pulangnya, saya dapet seat 4C (seat ini sebenarnya sudah saya booking via telepon beberapa hari yang lalu).

SKIP... menunggu untuk turing selama 1 bulan itu bukan hal yang gampang... soalnya saya bukan orang sabaran kalau soal turing... hhhehe

Minggu, 14 November 2010

Ke Jepara dan Solo, Perjalanan yang "Menyenangkan"



Ini tentang pengalaman saya naik bus ke kota Solo. Memang ini bukan yang pertama kalinya, hanya saya ingin mensharingkan tentang sekilas dunia per-bis-an melalui apa yang saya alami, dan kebetulan saya juga seorang penggemar bis. Pada awal Oktober lalu, saya memutuskan 'secara mendadak' pagi harinya untuk pergi ke Solo. Saat itu juga saya langsung menelpon ke agen bus di Terminal Lebak Bulus. Saya memilih PO Shantika dengan mesin Scania. Bus ini akan mengantar saya ke Jepara via Semarang, nanti dari Semarang baru disambung lagi dengan Patas tujuan Solo. Inilah cara menyenangkan buat saya untuk jalan-jalan.
Kembali saat saya menelpon agen, saya tanya apakah saya bisa memesan seat terdepan. Pihak agen pun menyanggupi dan saya 'deal' dengan agen untuk datang jam 16.30. Sebuah pelayanan yang cukup memuaskan ditambah dengan keberuntungan saya sehingga saya mendapat seat nomor 1.

Saya tiba di terminal Lebak Bulus jam 4 lebih 15 menit, yang saya tempuh dengan naik bus Deborah dari Depok. Saya langsung menuju tiket dan menukarkan uang sejumlah 130 ribu rupiah dengan selembar tiket. Pihak agen kemudian memberitahu saya bahwa bus sudah ada di tempat dan saya bisa langsung masuk ke dalam. Lalu saya menuju ke tempat dimana bis itu berada. Saya senang ketika melihat bis yang saya naiki ini. Ini termasuk armada terbaru yang dimiliki PO ini. Bus dengan mesin Scania K380IB yang dibajukan dengan karoseri Scorpio King pabrikan dari Tentrem, berwarna putih dengan garis-garis dinamis. Bis ini menjadi bahan perbincangan para penggemar bis belakangan ini. Selain karena power-nya yang paling besar saat ini, yaitu 380 HP, di Jawa sendiri hanya 2 PO yang setahu saya baru memiliki mesin tipe ini.

Pukul 17.45, bus berangkat meninggalkan terminal, dan langsung masuk Tol JORR tanpa 'ngetem' lagi di pinggir jalan. Ketika sampai di Jati Asih, bus ini keluar Tol. Saya juga kurang tahu apakah di daerah ini ada agen atau tidak. Bus berhenti sekitar 10 menit, dan menaikkan 1 atau 2 orang penumpang. Kebetulan bus tidak penuh dan masih tersisa beberapa kursi kosong. Setelah itu, bus berjalan lagi dan masuk Tol Cikampek.
Bus kelas eksekutif ini tentunya dapat fasilitas, selain AC dan toilet seperti Reclining seat, leg rest, bantal, selimut, TV LCD dan musik (saat itu TV musik tidak dinyalakan karna tertulis ada masalah dengan sistem audio-nya), dan yang pastinya saya mendapat servis makan prasmanan. PO ini bekerja sama dengan RM. Barokah Indah yang ada di daerah Indramayu (kalau tidak salah). Menu makanan malam ini cukup enak walau terlihat biasa-biasa saja bagi saya. Saya sampai di rumah makan ini sekitar jam 9 kurang, dan penumpang diberi waktu untuk makan, istirahat, dan lain-lain selama 30 menit, setelah itu melanjutkan perjalanan.

Waktu makin malam, dan bagi penumpang lain ini waktunya tidur yang nyenyak. Perut sudah kenyang, AC cukup dingin, ditambah suspensi udara yang nyaman biasanya akan membuat penumpang tertidur nyenyak, cepat atau lambat. Tapi tahukah Anda, bahwa ketika para penumpang tertidur, para sopir bus akan memacu bus-nya lebih cepat dan kadang lebih gila. Inilah pertempuran malam dimulai. Bus berjalan terasa halus, tapi diam-diam angka di speedometer sudah menujukkan 125 km/jam (angka maksimal di speedo). Bus-bus lain yang berada jauh di depan mampu dikejarnya dan disalip, bahkan bus-bus yang 30 menit lebih berangkat lebih dulu dari terminal Lebak Bulus pun sanggup disusulnya. Tapi, saya melihatnya masih wajar, lantaran mesin bus ini yang sanggung mengeluarkan power 380 HP sementara bus-bus lain hanya sekitar 180 HP, 210 HP, 250 HP, 260 HP saja, ditambah solar yang tidak dibatasi. Alhasil, apa yang terjadi semalam menjadi tontonan yang menarik buat saya.

Kekhawatiran mulai melanda karena sampai di tempat tujuan lebih pagi dari yang saya perkirakan. Jam 3 kurang sudah sampai di Semarang, dimana saya berencana turun di sini. Tapi, saya urungkan rencana itu dan saya lebih memilih melanjutkan sampai Jepara, demi keamanan. Lagi-lagi karena bus yang melaju cepat, Semarang - Jepara hanya ditempuh 1 jam kurang. Akhirnya saya meminta tolong kepada kru bus ini untuk diperbolehkan ikut sampai ke garasi sambil menunggu matahari terbit. Setelah menurunkan penumpang terakhir, bus menuju ke garasi yang berada di daerah Ngabul, Jepara. Saya pun diperbolehkan tidur di dalam bus.

Paginya, saya bangun dan meninggalkan garasi. Saya mengurus pertiketan dahulu untuk saya pulang ke Jakarta sebelum beranjak ke Solo, yang ternyata ujung-ujungnya tidak berhasil dan saya putuskan untuk langsung ke Solo. Saya berangkat dari Jepara jam 11 siang, naik bus 3/4 ke Semarang. Waktu saya naik, bis tidak terlalu penuh, dan saya memilih duduk di belakang, dekat pintu belakang. Bus lambat laun dipenuhi orang-orang yang baru masuk/pulang kerja. Mereka kebanyakan adalah para wanita dari pabrik rokok Djarum, terlihat dari topi khas yang mereka pakai. Beruntung saya memilih tempat duduk yang pas, jadi saya tidak ikutan desak-desakan seperti yang lain, lega dan tidak panas. Kalo pagi tadi naik bus besar, Semarang - Jepara bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 1 jam, lain halnya dengan bus reguler ini. Dari Jepara ke Semarang via Demak ditempuh sampai 2 jam lamanya.

Sampai di terminal Terboyo Semarang jam 1 siang. Kebetulan ada Patas Safari ke Solo yang barusan ke luar terminal, lalu saya berlari dan saya cegat di putaran. Ada pengalaman yang menarik selama naik bus ini. Awak bus ini berseturu dan merasa kesal dengan bus beda PO di depannya yang melayani trayek yang sama, lantaran mereka berjalan lebih dulu. Alhasil jalur Semarang Solo menjadi jalur yang terpanas dari yang pernah saya temui. Mereka saling kejar-kejaran, dan biarpun hujan deras, sopir Safari ini tetap melajukan bus ini dengan kencangnya, yang sempat membuat saya was-was. Kemelut antara dua bus dua PO berakhir di terminal Bawen, saat bus yang saya naiki masuk ke terminal sementara sasarannya jalan terus. Tapi, ternyata hal itu tidak membuat sopir bus Safari ini menjadi tenang, dia tetap 'panas' mengendarai bus ini, bahkan sampai mendahului sesama Patas Safari lain, yang berhasil tersusul di daerah Boyolali. Beruntung, saya sampai di Solo dengan selamat.

Serunya Naik Kereta Api Ke Bandung

Salah satu pesona yang bisa kita nikmati saat pergi ke Bandung adalah perjalanannya. Bandung, sebuah ibukota dari provinsi Jawa Barat, terletak di dataran tinggi. Lokasinya dikelilingi perbukitan dan gunung-gunung, makanya jika kita pergi ke Bandung, kita harus mendaki dan menuruni gunung dan kadang membelah bukit. Saya dan teman-teman saya tidak pernah bosan pergi ke kota itu karena selain kotanya masih sejuk, untuk menikmati kota Bandung kita cukup butuh satu hari saja, itu sudah termasuk perjalanan pp. Di antara banyaknya transportasi umum menuju Bandung, saya dan teman saya lebih memilih moda Kereta Api. Mungkin dipikiran kami, naik gunung dengan kendaraan mobil atau bus itu sudah biasa, tapi kalo dengan kereta api... pastinya lebih menyenangkan.

Kebetulan minggu lalu saya pergi ke Bandung dengan kereta api. Harga tiket kereta api dengan bis AKAP ke Bandung tidak jauh berbeda. Untuk kereta api kelas bisnis cukup Rp 30.000, sedangkan kelas eksekutif hanya Rp 50.000. Kelas favorit saya adalah bisnis, karena lebih murah dan kelebihan uangnya bisa untuk membeli oleh-oleh. Pemberangkatan dari Jakarta bisa dari Gambir, bisa juga dari Jatinegara. O iya, nama kereta api ke Bandung sudah berubah. Kalo dulu ada Parahyangan dan Argo Gede, sekarang digabung menjadi satu menjadi Argo Parahyangan.

Umumnya, kita akan mendapatkan nomor tempat duduk di kelas bisnis. Tapi berapa pun nomor tempat duduk yang saya dapat, saya selalu mencari tempat duduk yang kosong di gerbong paling belakang. Biasanya saya menyempatkan untuk tidur sejenak saat perjalanan dari Gambir ke Cikampek. Setelah lewat dari Cikampek dan Purwakarta saya baru bangun dan siap menikmati sensasi perjalanan yang sesungguhnya.

Saat kita sampai di daerah Purwakarta, di sebelah kanan kita akan melihat pegunungan. Di balik gunung-gunung itu, kalau mata kita jeli maka kita akan melihat sebuah danau atau waduk, itulah waduk Jatiluhur. Dari sini pun kita sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa. Dari Purwakarta kita akan melewati Tol Cipularang, dan posisi kita lebih dekat dengan waduk, hanya saja kita sulit melihatnya karena tertutupi gunung. Kalau kita melihat peta, maka di situ ada banyak simbol gunung di sekitar waduk. Tapi ada hal yang cukup memilukan bagi saya, gunung-gunung itu sebagian sudah terkikis karena pertambangan kapur.

Setelah melewati waduk Jatiluhur atau tepatnya setelah melewati Stasiun Plered, kita juga akan melewati Waduk Cirata yang ada di sebelah kanan. Tapi kita tidak dapat melihatnya karena tertutup oleh bukit. Perhatian saya justru tertarik pada liukan-liukan si ular besi ini. Bahkan ada kelokan yang hampir beradius 360 derajat, tepatnya di dekat Stasiun Puteran. Di sini memang terdapat banyak sekali kelokan, karena status kereta sedang mendaki gunung. Biasanya saya sudah tidak duduk lagi di tempat duduk melainkan berdiri di pintu, sambil menikmati udara segar dan pemandangan yang menakjubkan. Tapi, perjalanan masih panjang dan itu semua belum seberapa.

O iya, sebenarnya di daerah ini kita akan melewati sebuah Jembatan yang fenomenal di Indonesia, yaitu Jembatan Cisomang, hanya saya tidak tahu tepatnya di daerah mana. Jembatan Cisomang merupakan Jembatan KA paling tinggi di Indonesia, kurang lebih kedalamannya mencapai 200 meter. Tapi, jembatan ini tidak menyeramkan karena memiliki jalan kecil di sisinya sehingga lebih lebar. Berikutnya, salah satu rekor yang ada dalam perjalanan ini adalah Terowongan Sasaksaat. Terowongan Sasaksaat merupakan terowongan KA paling panjang yang masih aktif di Indonesia, panjangnya kurang lebih 949 meter. Terowongan ini terasa menyeramkan karena "kata orang sekitar" terowongan ini adalah terowongan yang angker. Biasanya saya selalu menutup pintu kereta api jika sedang melewati terowongan ini.

Tidak jauh dari Stasiun Sasaksaat, kita akan melintasi kembali Tol Cipularang, dari bawah kolong. Dari sini kita bisa melihat jembatan yang sangat mengagumkan yang akan kita lewati. Sungguh luar biasa, sangat mendebarkan, kalau kita ada di pintu maka hanya beda satu langkah tingginya sudah mencapai puluhan dan ratusan meter. Jembatan ini tidak mempunyai pembatas dan kita bisa melihat apa yang ada di bawah jembatan ini. Selain itu, kita juga bisa menikmati jembatan Tol Cipularang yang tidak kalah tingginya. Inilah yang saya maksud sensasi itu. Kemudian dari sini kita akan melewati jembatan-jembatan lain yang jumlahnya masih saya belum tahu (mungkin ada 10 lebih), yang semuanya tidak ada pembatasnya.

Akhir dari sensasi yang mendebarkan ini berakhir di daerah Padalarang, karena kita sudah mulai memasuki Kota Bandung. Sekedar tips dan saran, pilih perjalanan di pagi hari dan menjelang sore, karena selain masih bisa menikmati pemandangan, udaranya tidak terlalu panas. Jangan nekat berdiri di pintu kereta yang terbuka, dan waspadalah terhadap pelempar batu yang setiap saat bisa mencelakai Anda (saya saja hampir kena lho...), terutama di jalur Jakarta-Cikampek. Jangan buang sampah di jalan, karena bisa merusak alam.


Sabtu, 03 Juli 2010

Memang bukan Rejeki... Menjelang Ulang Tahun Po. Shantika

Hari Jumat, gak seperti biasanya, hari ini gw bawa tas yang isinya bermacam-macam barang. Ada kemeja, kaos, celana, dan puyer tolak angin serta sedikit bekal air minum. Layaknya orang ingin melakukan perjalanan jauh. Tapi memang, setelah pulang kantor hari ini, saya akan segera menuju ke terminal Rawamangun untuk pergi ke Jepara dan menghadiri Ulang Tahun Shantika. Rencana yang udah dipersiapkan secara matang mulai dari seminggu sebelumnya. Keinginan gw untuk mencicipi bus baru Muji Jaya 1525 HD new Marcopolo akan segera terwujud, apalagi kalo dikendarai driver handal macam Mas David, plus bareng teman-teman Bismania. Tiket saya dan yang lainnya sudah ada ditangan saya hari Rabu lalu. Waktu perjalanan dari kantor ke terminal Rawamangun udah gw perhitungkan jauh2 hari. Hari ini gw memang tinggal menunggu saat2 pulang kantor, sambil membayangkan gimana seru dan asyiknya naik bis baru ngeblonk bareng temen2.

Jam begitu terasa lama, gw sendiri dari sejak sampai di kantor sudah gak ada gairah untuk bekerja. Tiba2, sekitar jam 9 lebih, teman kantor senior gw menelpon. Mendengar dering telepon saja udah membuat perasaan gw gak enak, apalagi kalo dijawab. Mau gak mau tetap harus gw jawab. Pembicaraannya kurang lebih seperti ini:

Teman (T) : Halo... Dis, lo lagi sibuk gak?
Gw (G) : Kenapa emangnya pak?
T: Gak, khan si xxxx (nama disamarkan) gak bisa ikut Aanwijzing ke Serang, jadi lo ikut ya...
G: (perasaan gw jadi bener2 gak enak)... hah... ke serang?!
T: iya. Ntar jam sebelasan kita berangkat ya... bisa khan?
G: (bingung antara jawab bisa apa gak, kalo bilang gak bisa takutnya dia ngadu ke boss, kalo jawab bisa, bisa gagal gw ke jepara)...
G: Pak.. itu.. itu kira2 pulang ke kantor sampenya jam berapa pak?
T: Ya... kira2 jam 8an lah...
G: hah!! jam 8. Yang bener pak. Wah, gak bisa pak saya harus disini jam 5 sore pak. (Awal kesalahan gw)...
T: Jam 5? Mau ngapain lo, sibuk ya?
G: ENGGAK BEGITU SIH, SOALNYA NTAR PULANG KANTOR SAYA MAU PULANG KAMPUNG PAK. (kalimat huruf besar merupakan kalimat yang paling fatal yang pernah gw ucapkan untuk sebagai alasan)...
T: hhooo... gitu ya. (dengan nada agak tertawa). Jadi bisa apa gak Nih? (dengn nada agak sedikit keras)...
G: hhmmm... gak bisa pak.
T: Gak bisa ya. Oke kalo begitu.

Pembicaraan langsung berhenti. Dan gw langsung lega yang disertai dengan rasa deg-degan. Tapi, gak beberapa lama kemudian, dia telepon lagi. Pembicaraannya berlangsung cepat dan gw udah gak bisa mikir lagi. Intinya, kalo gw harus ikut dan ini merupakan perintah dari Boss. saat itu juga gw langsung turun ke lantai dasar menemuinya. Dan ternyata oh ternyata, dia menelepon Boss dan mengatakan kalo gw gak bisa ikut dengan alasan yang gw kemukakan di atas. Temen gw itu bilang, Boss langsung marah dan mengatakan kalo gw harus ikut. Temen gw bilang kalo gw harus ikut karna Boss udah marah tadi. Seketika itu gw langsung lemes.

Tapi, gw gak tinggal diam. Gw langsung melakukan perhitungan waktu. Tempat pertemuannya kira2 ada di Cikande, Serang. Tempat terjauh yang pernah gw datengin untuk Meeting. Gw langsung mikir, kok kenapa tiba2 bisa jadi gini ya?, saat gw lagi pengen seneng2 ada aja yang menghalangi. Tapi gw buang jauh2 pikiran itu. Gw langsung diskusi sama supirnya. "Pak, kira2 jam 5 bisa sampe sini gak?" kata gw. Jawabannya membuat gw ragu. Jawabnya, "ya tergantung. Kalo lancar bisa sampe, kalo macet ya gak bisa"... Waduh, pikir gw. Karena Aanwijzingnya jam 2, diperkirakan jam 3 sudah selesai dan bisa pulang. Gw tanya lagi, "emangnya berapa lama perjalanannya dari sini ke sana?". Jawabnya, "kurang tau ya, soalnya dari Tol khan masih masuk ke dalem, dan ke dalemnya juga lumayan jauh". Karna masih gambling, gw gak berani melakukan perhitungan, yang jelas mulai detik itu gw bener2 berdoa, semoga gw bisa tepat waktu sampai ke terminal.

Kira2 udah jam 11, tapi kok belum berangkat juga. Rupanya temen gw itu masih sibuk ngerjain pekerjaannya. Mungkin karna gw merasa panik dan terburu-buru, gw selalu bilang ke beliau, ayo dan ayo... alasannya supaya sampai disana jam 12, sekalian Bapak sholat jumat. Dan akhirnya kami pun berangkat, dan gw lihat temen gw itu agak keliatan kesal. Di dalam mobil, temen gw itu bilang agak keras ke gw, yang membuat gw jadi ciut. Ini akibatnya karna gw membuat dirinya terburu-buru dan meninggalkan pekerjaannya yang lain. Sifatnya baru gw ketahui saat itu juga, kalo dia gak suka terburu-buru. Di perjalanan pun gw panik dan diem aja. Panik gw tambah parah, saat melihat supirnya kurang kenceng mengendarai mobilnya, apalagi ditambah cuaca yang kadang hujan kadang nggak.

Jam 11. 15 berangkat, jam 11. 45 sudah sampe karawaci, jam 12.00 keluar Tol Ciujung (Jauhnya bukan maen). Jam 12.25 berhenti di jalan karna mereka mau sholat Jumat dulu. Sekitar 2 jam-an mungkin perjalanan dari kantor ke tempat meeting, dan itu perjalanan dalam keadaan lancar. Berarti kalo jam 3 meetingnya selesai, jam 5 bisa sampe kantor. Gw agak sedikit terhibur, tapi muka gw masih ketekuk. Itu kalo lancar, kalo macet kira2 butuh 3 jam. Itu gapapa, ntar dari kantor gw naik ojek langsung ke terminal. Jam 1 kurang, udah ketemu tempatnya, Temen gw itu ngajak makan dulu. Mungkin karna melihat raut muka gw yang kusam dan terlihat menyedihkan (hahaha), temen gw itu langsung baik sama gw dan bilang, "pasti sampe, meetingnya cepet kok". Gw pun merasa terhibur.

Sudah jam 2. Tapi batang hidung yang punya proyek blom nongol juga. Dan gw masih bisa bersabar. Jam setengah 3, mereka blom juga dateng. Gw sampet mikir, kayaknya gak jadi deh. Trus gw tanya ama supir, pernah gak ketemu meeting trus gak jadi gara2 gak dateng atau telat. Jawabnya, blom pernah. Pikiran gw yg sempet gw buang jauh, dateng lagi. Emang udah kayak dibuat skenario, segala sesuatu yang sudah terlihat jelas menghalangi gw untuk menikmati kesenangan gw itu. Mulai dari diajaknya gw ke serang secara tiba2, tempat yang jauh dari biasanya, jadwal meeting yg gak biasa (biasanya jam 10an), yang punya proyek telat banget... Semua hal itu membuat gw GILA di dalam pikiran gw sendiri. Jam 3, dan mereka jg blom dateng. Dan hal ini semakin jelas terasa.

Jam 3 lebih 10 menit, mereka datang. Meeting pun langsung dibuka, dan gw tetap harus melakukan perkerjaan gw dengan baik, karna gw profesional. Kira2 meeting selesai jam 4 lebih. Dan gw yang tadinya serius, sekarang menjadi panik dan gak tenang. Perasaan ini ditambah, ketika temen gw itu masih ngobrol dengan pemilik proyek karna ada suatu urusan. Jam setngah 5 kami berangkat pulang. GILA jam setengah 5!, yang bener aja. Berarti sampe kantor jam setengah 7 donk... Itu pun kalo lancar, kalo macet gimana coba. Setelah melakukan perhitungan itu, gw pun langsung lemes dan udah kayak kehilangan harapan. Tapi, temen gw malah bilang "Sampe kok". Harapan gw muncul lagi. Tapi... di jalan macet dan cukup panjang. Melihat itu, gw gak bisa berharap banyak. Jalan macet karna jalan rusak, dan sebagian karyawan di daerah ini sudah jam pulang. Jalan Serang macet, Pintu masuk Tol pun macet... di Tol pun padat kendaraan, jauh berbeda keadaannya dengan waktu berangkat tadi.

Masuk Tol jam setengah 6, dan gw langsung SMS temen bismania gw. Waktu SMS pun gw juga udah kehilangan harapan untuk bisa ikut, tapi masalahnya bukan disitu. Masalahnya karna gw yang bawa tiket mereka, tanpa tiket ini gimana mereka bisa naik bis. Temen bismania itu nelpon gw, menanyakan posisi gw dimana dan sampe jam berapa di terminal. Gw gak berani jawab pasti, gw hanya bisa jawab secepatnya. Kenapa gw jawab itu, karna gw masih punya keinginan untuk cepat sampai disana. Walaupun kondisi jalan ramai, ditambah informasi dari radio yang mengatakan kalo banyak ruas tol di Jakarta itu macet total. Gak lama, temen gw itu nelpon lagi dan tanya "Gimana kalo dibatalin". "Apa... jangan!!!", sahut gw. Terus Hp nya mati. Gak lama lagi, nelpon gw lagi, dan bilang "lo dibatalin aja ya". Sesaat itu gw langsung ngeh kalo yang dibatalin itu cuma gw aja dan gw langsung bilang "ya udah Om, gapapa. Trus yg lain gimana, khan tiketnya ada di gw?". Jawabnya, "ntar gw coba lobi ke xxxx". Kebetulan karna kita bismania jadi kita kenal dan udah akrab sama agennya.

Akhir kata, "ya udah om. gapapa, gw ditinggal aja." Jawabnya, "oke ya dis...". Pembicaraan ditutup. Beberapa saat tadi Gw dalam keadaan yang super panik dan kemudian kehilangan harapan. Setelah menutup pembicaraan barusan, gw merasa tenang dan lega, tapi disertai rasa kekecewaan yang amat sangat. Mungkin niat gw untuk naik Muji Jaya baru pupus, tapi niat untuk ke Jepara masih ada. Melihat kondisi gw yang penuh rasa kekecewaan, temen kantor gw tanya kenapa gw gak jadi ikut. Bla bla bla... gw jelasin ke dia, dan gw juga bilang kalo gw tetep pengen pergi cuma naik bis lain. Dengan baik hati, beliau mau mengantarkan ke terminal, padahal saat itu sedang jenuh karna macet luar biasa di Tol Kebun Jeruk.

Sungguh luar biasa, selepas dari Gerbang Tol Kebon Jeruk, jalan Tol bener2 lancar. Mobil pun dibelokan ke arah Tol Priuk dan ByPass. Tapi karna di kantor sudah ditunggu teman kantor senior yang lain, jadi mereka cuma bisa nurunin gw di Jalan Perintis. Tadinya gw mau ke terminal Pulogadung, tapi karna temen gw bilang harus ini dan itu, dompet jangan dikantongin, dan lain-lain... Akhirnya gw pergi ke terminal Rawamangun dengan ojek. Di perjalanan, keraguan untuk naik bis terakhir yaitu Gunung Mulia makin besar, karna tiket yg mahal dan waktu sampe ke Jepara yg tidak dapat diprediksi. Sampai di terminal pun, gw cuma melihat bis Gunung Mulia, tanpa berniat menghampiri. Kemudian gw nelpon Bokap gw untuk minta dijemput. Dan cerita ini pun berakhir di rumah Nyokap gw di KLender. Saat itu, gw berpikir akan menikmati weekend di sini sendiri atau bersama keluarga. Mungkin memang bukan rejeki gw untuk menikmati acara itu bersama teman2 di Jepara.


Bersambung ke
Harapan Tetaplah Ada... Menjelang Ulang Tahun Po. Shantika

Sabtu, 13 Februari 2010

Turing Mania with Muji Jaya

Tanggal 6-7 Februari 2010

Udah direncanain seminggu sebelumnya, kalo pengen turing naik Muji Jaya kuning dari Rawamangun. Tiket udah dipesenin ama bung Anto ke mas Lulu, minta seat panas. Sebelumnya memastikan dulu kalo jagoan kita lagi aktif hari itu, Mr. Bambang. Sudah memastikan via sms, kalo dia udah aktif lagi, yg sebelumnya lagi libur. Kali ini yg ikut turing, ada saya dan Anto, pulang pergi naik MJ. Ada Dody sama Toms, yang berangkat naik Shantika dari LB, dan pulang bareng kita naik MJ.



Chapter 1...

This is my first Muji Jaya.

Kalo boleh jujur, ini pertama kalinya saya naik Muji Jaya. Setelah seminggu menunggu, akhirnya hari-H datang juga. Berbekal seadanya, saya siap berangkat. Jam 3an, hujan deras melanda jakarta dsk. Baru reda jam 5 kurang, dan saya langsung cabut ke terminal Rawamangun. Di sana udah ada Anto, ama temen bismania, tpi saya lupa namanya. Jam setengah 6, datanglah Muji Jaya OH 1525 warna kuning, Setra Adiputro lampu smile. Bersama Pak Iyus, driver pinggir dan Mas Bambang sebagai driver tengahnya.


Ada shantika ijo tosca 1525 dan Big Top yang udah berangkat dari jam setengah 7 tadi. Jam 7 kita berangkat, tapi gerombolan Nu3tara belom berangkat juga. Wah, jadi gak bisa ngeblongin Scania dong, pikir saya. Driver pinggir pak Iyus, bawanya cukup santai. Tapi, yang paling mengherankan adalah, spedometer nya, yang kayaknya aneh. Di situ tertulis kalo kita lagi berjalan dengan kecepatan 60 km/jam, tapi kok rasanya seperti berjalan 100km/jam ya... Setelah diteliti, ternyata spedonya diturunin. Kita jalan 30-40an, jarum spedo baru naik... wakakaka. Hebat, sempet mengecoh kita.

Jam setengah 10, sampe di Taman Sari. 30 menit kemudian kita berangkat lagi, dan tentunya oleh Mas Bambang. Hehehe... ini baru sensasi... baru beberapa beberapa menit jalan udah ngeblongin 10 bis lebih. Kata si Anto, "yang itu mah gak masuk itungan"... Ada banyak SinJay, Sumber Alam, Dedy Jaya, Dewi Sri. Ada juga Karina, yang saya liat lewat di Taman Sari, kira2 20 menit sebelum kita jalan lagi. Ada juga Raya, Rosalia Indah... "Wah To, kok lawan2nya kayak gini semua ya"... Ketemua Shantika high-deck merah dari Poris, gak ada perlawanan berarti. Apa lagi ya...

===========================================
Video:
MJ kuning vs shanti merah poris
http://www.youtube.com/watch?v=PwUGwXYbqag
===========================================

O iya, satu yang saya sesalkan adalah JALAN PANTURA sudah BANYAK YANG RUSAK PARAH....

Gara2 itu, susah banget buat ngeblonk... Sebulan yang lalu, kayaknya gak kayak gini deh. Kata Mas Bambang itu gara2 musim hujan sekitar 3 minggu. Kalo kayak gini harus segera dibenahi nih, biar bus bisa ngeblonk lagi dan gak membuat karoseri cepet rusak...

Kembali ke laptop.
Yang paling seru, kalo setiap mau nyalip, biasanya dipepetin dulu sampe bus/truk itu bener2 deket di depan bus, kira2 50an cm. Baru ambil kanan atau kiri.

Waktu di Tegal, kita kres2an ama MJ janda, di situ ada Grandy ama Pandu. Mereka kasih tau, kalo busnya Dody ama Toms jaraknya 10 menit. Tapi sayang banget gak ketmu, gara2 di Tegal banyak banget ruas jalan yang rusak parah.

Pernah, waktu dalam keadaan cepat, tau2 di depan ada jembatan, yg sambungan ke ruas jalannya udah berlubang, akhirnya gubrak... ckckck... blom selese sampe di situ, di depan ada bus putih, yg posisinya miring melewati jalur tengah, spontan Mas Bambang ambil kanan, dan ..... spion kena. Tapi untungnya gak knapa2... hehehe...

Di daerah Tegal atau Pemalang (lupa saya)... ketemu MJ biru poris. Sempet mau di salip, tapi keburu nurunin penumpang dulu. Trus dia ngacir. Tapi, ketemu lagi hehehe... trus langsung di salip dan dia ngasih jalan dengan melambaikan tangannya...

Di Bus saya juga sering ketiduran, tapi gak lama. hehehe... Waktu, check di Sendang Wungu, sekitar 10 menit kemudian, lewat Shantika Big Top... Nah lho, khan dia berangkat duluan 30 menit, masak tauk-tauk dia di belakang kita. Hehehe...

Jam 4 kurang sampe di Kudus, gak ketemu ama bus Dody dan Toms yang Shantika Biru 1525. Ternyata, mereka dioper... Mereka nunggu di depan Pom bensin Kalitekuk. Di sana, mereka ikut kita, numpang sampe ke garasi dan Kanto MJ, buat ambil tiket balik. Setelah ikut muter2 bersama MJ, sampe ke Kelet, pinggir pantai Bandengan, dan pertokongan buat nganterin paket, sampe di garasi jam 7.



Habis itu, cari sarapan, ambil tiket di kantor Muji Jaya, dan cari Hotel yang terjangkau buat perpal. Dan istirahat di situ.

di sinilah kita beristirahat alias perpal




Chapter 2...

Dari Hotel Kalingga Star, ada Saya, Anto, Toms dan Dody yang berencana pulang naik Muji Jaya. Dan ada Eca dan beibehnya yang pulang naik Shantika Big Top. Jam setngah 5 kita cabut ke Terminal jepara. Gak disangka, ada Cah Sodong, momod Muria Raya area.

Udah jam 6, MJ kuning blom dateng juga. Sementara, Eca berdua udah berangkat dengan Big Topnya, dan Cah sodong sudah pulang. Dengn sabar menunggu, akhrnya dateng jg. Di terminal udah sepi, yang ada cuma Muji Jaya aja. Bener2 berangkat paling belakangan nih. Jam setngah 7an kita berangkat. lewat garasi Shantika, udah sepi, begitu juga tempat2 lain. Di terminal Kudus, juga udah sepi. Dari terminal Kudus berangkat jam 8 lebih.

O iya, biasanya kalo dari Kudus, Mas Bambang bawa pinggir, tapi kali ini kita request langsung buat bawa tengah. hehehe... Perjalanan pertama oleh Pak Iyus. Ternyata, bapak ini diem2 ngejoss juga. Di luar Semarang, kenceng banget, sempet ketemu Rosin New Marcopolo (kalo gak salah)... bisa diblonk. Wuihh... mantabb. Sampe di RM. Sendang Wungu jam 10 kurang. MI di sebelah udah gak ada, di sini cuma ada OBL.

Jam 10an, berangkat lagi, dengan Mr. Bambang tentunya. Bangku 1 2 3 4... dipenuhi bismania, siap memantau perjalanan. Di Plelen, saya lupa nyalip bus apa... ada 2. Lewat plelen, jalan udah bener2 sepi... tinggal truk doank. Tapi, mr. Bambang cepet banget, seolah-olah mau ngejar bus2 yang sudah satu jam-an berangkat duluan.

Malam ini saya sering ketiduran, mungkin capek gara2 siang tadi jalan2... Yang lain kayaknya ON terus deh, mereka tidur tadi siang soalnya... hehehe

Ketemu lagi Shanti poris warna merah. Sekali ketemu Raya, dan beberapa ketemu RosIn.

===========================================
Video:
MJ kuning dan Rosin
http://www.youtube.com/watch?v=mCOZ9weGX5s

===========================================

Sekitar Pekalongan atau Pemalang, ketemu Karina Intercooler... bis ini ngotot gak mau kasih jalan. Kalo diperhatikan, ngejoss nih Karina. Setelah beberapa kali dicoba, akhirnya dapet juga. Gak cuma itu, Lorena dan Nu3tara intercooler di depan juga sekalian diblonk...

===========================================
Video:
Karina, Lorena, Nu3, Sekali sikat
http://www.youtube.com/watch?v=jFoW9ROVOJQ
===========================================

Di Tol Pejagan dan Kanci, keliatan Nu3tara 1525 london bridge di depan, tapi gak terjangkau... Selepas kanci, disinilah saya ketiduran... Sampe pamanukan juga masih kriyep2...

Sadarnya pas jalan rame, katanya saya ketinggal pertunjukan. Tadi abis ngeblongin Nu3tara 1525 london bridge, Raya, ama Shantika Ijo tosca ... Sialll... UNtungnya, Anto ngeshoot jalannya peristiwa... hehehe

===========================================
video:
ijo tosca dan Raya... vs MJ
http://www.youtube.com/watch?v=pQr__mKsJUI
===========================================

sampe di Pamanukan ke sana an lagi, hujan deres. Wah ini mah bikin tidur lagi. DI daerah Jomin, macet, ganti driver, sekarang saatnya Pak Iyus. Selepas dawuan, dan masuk Tol, jalan agak santai, sampe berhenti di Km.33. Berangkat lagi jam 5 kurang, di Tol kendaraan makin padat, maklum hari Senin. Sampe terminal jam 6...


Thanks to:

Anto, TOms dan Dody... yg menemani turing kali ini... Kita emang Turing mania... hhehehhe
Eca dan beibehnya... yg juga nemenin kita di jepara... hehehe
Cah Sodong... yang tauk2 dateng menemani kita di terminal jepara...
Mas Bambang, yang udah membawa kita dengan selamat dan menerima permintaan kita, teman ngobrol di perjalanan... kapan lagi ya.. hehehe
Pak Iyus, driver pinggir yang juga ramah kepada kita.
Pak Kopral, crew MJ. Beliau ramah sekali terhadap penumpangnya... thanks sudah berbagi kursi CDnya...
Mas Lulu, ngasih kita kursi panas...
Muji Jaya atas fasilitas dan servis yang memuaskan...
Grandy dan Pandu yang sempet kres2an waktu berangkat...

See U next time...

Senin, 01 Februari 2010

Hari Libur, Saatnya Jalan-jalan dan Hunting

Selama 5 hari kerja, dari senin sampe jumat bikin gw penat. Untungnya dikasih hari libur sabtu ama minggu. Hari sabtu, saat inilah biasanya gw melampiaskan kebebasan. Sabtu kemarin, akhir Januari tanggal 29, gw rencananya mau ke Depok. Tapi gara2 terperangkap dalam kandang UI, akibat ada acara Wisuda S1 UI, gw muter2 cari jalan keluar dan tembusnya malah ke Lenteng Agung. Ya udah lah Kalo Beg Begitu... Sekalian aja hunting, dan tercetus untuk ke tempat yang selama ini jadi perhatian gw.



Pertama, hunting kereta di jalan Pasar Minggu, tepatnya di antara Tanjung Barat dan Pasar Minggu. Ini jalan kereta unik banget, diapit sama 2 jalur kendaraan bermotor, dan masih banyak ditumbuhi pohon2 yang kalo dilihat dari sudut pandang tertentu keliatan rapih banget.



Tempat kedua, ini baru hunting bus, yaitu di atas FlyOver Pasar Rebo. Ini FO unik dan manteb banget, karena memiliki 3 tingkat yaitu di bawah FO ada perempatan Pasar Rebo, di bawahnya lagi ada UnderPass JORR (Jakarta Outer Ring Road atau Jalan Lingkar Luar Jakrta). Dari sini kita bisa melihat aktivitas dan lalu lintas di bawahnya sekaligus disuguhi pemandangan yang khas Jakarta Selatan. Di sini gw ditemani ama tukang buah, lumayan juga buat cemilan tuk buahnya. Kalo hunting bus di sini cocoknya di atas jam 3 sore.



Lokasi yang terakhir adalah terusannya JORR ini. Posisi gw berada di pinggir jalan tol itu, di seputaran jalur tol + flyover dan jalur2 yg ruwet antara JORR, Jagorawi, Kp Rambutan, Cilangkap, dll. Kalo bawa motor agak susah nih, soalnya gak ada tempat buat parkir. Untungnya ada penjual soto, dengan embel2 bakal membeli sotonya, gw minta tukang soto buat jagain motor gw dan gw hunting gak jauh dari situ dan tetep bisa memantau motor gw dengan jelas. Bus-bus yang lewat jalur sini biasanya bis2 yang langsung ke cikampek, karna ada beberapa bus AKAP yang mampir dulu ke Pinang Ranti, Rawamangun, dll. Kalo hunting bus, cocoknya di atas jam 3 atau 4 nih.



Abis hunting di lokasi terakhir, gw makan soto dulu karna udah janji tadi. Di rumah, gw langsung upload foto2nya. Di sini gw tampilin beberapa foto, kalo mau yang lengkap ada di Forum Bismania. Klik Sini

Senin, 11 Januari 2010

Touring Ke Kampung Halaman di Awal Tahun 2010

Tahun baru gini enaknya ngapain ya?... Biasanya sih gw di rumah aja, maen komputer, nonton TV atau filem. Kalo jamannya SMP dan SMA, gw pasti jalan keluar rumah, biasanya jalan ke monas kalo gak ke Taman Mini. Tapi, sekarang udah males lantaran ramenya luar biasa, penuk sesak, hoaxx, gak tahan gw. Ngliat status temen2 gw di Facebook yang kebanyakan pada ada di luar kota, kok gw jadi pengen ya. Hehehe... belom pernah nih gw mengawali tahun baru dengan jalan2 keluar kota, paling nggak ke luar Jadebotabek lah... Mumpung lagi nganggur berat nih. Tapi... niat sih pasti ada, masalahnya cuma satu, yaitu duit. Toh, gak mungkin gw kemana-mana tanpa bawa tuh benda. Biarpun gw sarkawian, ngompreng atawa BDB-an (Bebas Dari Biaya-bahasa gaulnya bismania kalo dapet tumpangan gartis), tetap aja gw harus bawa bekel mentahannya (duit-red).

Eh eh... gak dinyanya. Eh gak disangka. Bokap ama Nyokap berencana pulang kampung awal Januari ini. Kenapa gak gw manfaatin kesempatan itu aja ya... Ikut mereka 'jalan-jalan'. Padahal, mereka mudik karna ada acara Nyewu di tempat saudara di sana. Nyewu tuh artinya peringatan 1000 hari orang meninggal, kalo di sana namanya Nyewu, kalo di sini namanya 1000 hari. Rencananya berangkat tanggal 2, tapi kok
mendadak gw ada acara bismania tanggal 3, yaitu Kopdar Awal Tahun. Gampang aja... mending gw berangkat misah aja, tanggal 3, berangkatnya dari Lebak Bulus sehabis acara Kopdar itu. Gara-gara rencana gw buat berangkat nyusul, bokap nyokap berangkat naik motor, ngirit ongkos dan lebih enak katanya. Ya udah lah... "yang penting ati-ati pak"...

Stay to my Plan... Tanggal 1 Januari 2010, gw dateng ke Terminal Lebak Bulus. Agak aneh sih, orang-orang pada pergi ke Ragunan, Ancol dan Taman Mini, gw malah maen ke terminal. Di sana gw bingung, kira2 mau naik bis apa ya besok. Akhirnya pilihan jatuh ke Rosalia Indah, dan nggak tanggung-tanggung, gw naik yang Super Executive. Harganya 185.000 rupiah langsung gw bayar cash dan pesen tempat dan yang tersisa seat paling depa
n cuma seat 4A. Urusan tiket udah beres, sekarang tinggal urusan peralatan touring nih. Kalo bisa minimal gw bisa bawa kamera dan handycam.




Pas hari H, gw dateng ke Lebak Bulus jam stengah 1 dan anak-anak bismania yang lain udah banyak yang ngumpul. Sewaktu kopdar dan acara pertemuan dimulai, beberapa saat kemudian bis yang ditunggu udah dateng. Waduh, padahal kopdar belum selese. Untungnya, pertemuan ditutup dan gw langsung pamit sama yang lain. Di situ juga ada Edy Koens ama Mahendra, Ros-In Mania. Kata si Koens, bis ini kurang recomended. Kebetulan gw dapet no 245. Gw pikir, biar aja lah, yg penting naik SE nya Ros-In udah puas. Sambil memberikan lambaian kepada anak2 bismania yang lain, gw memulai perjalanan gw ini: Touring di Awal Tahun 2010.

Cerita di perjalanan, gw tulis di SINI

Jumat, 06 November 2009

Turing Dadakan Jakarta-Jepara pp

Entah ada angin apa, tiba-tiba gw pengen banget turing ke Jepara, mau nyoba naik mbak Shantika. Jumat itu, gw langsung menuju ke Terminal Rawamangun, karena Shantika Ijo Tosca, yang sering diomongin para bismania, ngelen dari sana. Waktu mau ke loketnya, gw ditawarin Senja Furnindo sama crew SF. SF dari Rawamangun warnanya pink, tawaran yang cukup menggiurkan, tetapi hati ini tetap memilih Shanti ijo tosca. Harganya??? cuma120ribu perak... itu udah dapet kelas eksekutif, dapet makan prasmanan, 30 seat 7 baris, 1 TV LCD besar dan 7 LCD kecil. Tiket buat berangkat besok udah ditangan, gak sabaran buat nunggu besok.

Tanggal 3 Oktober 2009, waktunya packing, dan siang hari gw udah siap berangkat dari Depok. Pemberangkatan jam setengah 7 malam, berasa lama banget. Siang itu juga gw pergi ke rumah Nyokap di Klender. karna masih lama, gw tidur dulu biar ntar malem tetap fit dan melek. Pas jam setengah 5, gw bangun trus makan sedikit, abis itu mandi. Barulah jam 6 kurang, gw minta dianterin ke terminal.

Jam 6 sampe di terminal, dan langit udah agak gelap. Abis pamitan ama Bokap gw, gw langsung menuju ke TKP dan gw melihat Shantika ijo tosca udah ada disana, bersama bis Jepara/Kudus yang lain. Sebelum ngerasain interiornya, gw check-in dulu di loketnya, biar sah. Pas gw masuk ke dalem.... Wuihh, lumayan adem, setanya masih mulus, pokoke manteb lah. Akhirnya gw bisa juga ngerasain shanti ijo tosca. Karna masih belum berangkat juga, gw keluar dulu sambil foto2. O iya, gw dapet yang H 1711 BG, tunggangannya mas Agus. Gw seneng banget ngeliat bodi new marcopolo-nya, cakep banget. Apalagi pake lampu LED nya yang sipit, jadi keliatan cantik. Bus ini menggunakan Hino RK 2009, pake suspensi udara buatan Adi Putro.

Jam 7 malem bis berangkat, gw duduk di seat gw no 8 deket jendela. Goyangan ala suspensi udaranya udah kerasa pas ngelewatin jalan rel KA, halus goncangannya. Di tol cikampek, bus ini kenceng banget, tapi sayang gw gak bisa lihat speedometernya. Tapi, kalo gw itung per 1 kilometer-nya 30 detik, ini berarti kecepatannya sekitar 120 km/jam.. Wooow, mantabbs... Belom lagi manuvernya, coba rasain sendiri. Apalagi supir Shanti ijo tosca ini termasuk yang yahud.

Jam setengah 10 malem, sampe di RM Uun. Tapi... sepi banget nih, yang ada cuma bus2 Deddy Jaya. Ya gini nih, kalo berangkat ke Kudus/Jepara dari Rawamangun, berangkatnya paling belakangan, gak ketemu bis2 Solo/wonogiri, apalagi madiun - surabaya. Makanan di sini juga lumayan enak... Abis makan, foto2 bus biarpun lagi sendirian. Jam 10 berangkat lagi. Nah, biasanya kalo abis makan, bus ini tambah sangar. Tapi .... ya itu, karna sepi, jadi cuma ketemu beberapa bus, kayak Deddy Jaya, Sinar Jaya, Dewi Sri, Raya. Trus, bus yang satu ini sebenernya sama2 berangkat belakangan, tapi dia susah dikejar, malah nyalip dari belakangan. Iya... bus itu adalah Nusantara. Dari Rawamangun, Nusantara pake Scania semua, dari kelas eksekutif sampe kelas super exe nya. Padahal ini bus blom berangkat waktu Shantika berangkat, tapi bisa ngejar dan nyalip... Gila. Abis nyalip, 2 nu3tara Scania kekejar tapi gak kesalip.

Sampe Kudus ternyata masih pagi... tau gak jam brapa? Jam 4 pagi. Padahal berangkatnya malem. Ini berarti perjalanan cuma 9 jam. Wow, mantab. Gw bingung mau turun dimana, karna gw baru pertama kali ke Kudus. Ya udah, gw ikut aja sampe ke Jepara, siapa tau sampe Jepara udah agak siang. Tapi, di luar dugaan, ternyata Jepara itu deket, jadi sampe sana masih jam 5an gitu. Di Jepara gw gak turun, gw ikut bus ini sampe gak ada penumpang lagi. Gw pikir bis ini cuma sampe Kelet. Tapi, ternyata sampe Pati pun masih ada penumpang 2 orang. Akhirnya, mereka turun di Ngablak, Pati. Abis itu, gw bilang ke crew kalo gw bismania. Akhirnya gw diijinkan ikut sampe poolnya.

Daerah Pati dan Jepara manteb banget, jalannya itu muterin pegunungan Muria. Apalagi pas ngelewatin hutan karet, jalannya sempit banget. Biar begitu, bus Shantika ijo tosca ini tetep bisa ngebut, berpaspasan dengan kendaraan dan bus dari berlawanan arah. Waktu yang ditempuh dari Jepara ke Ngablak pp sekitar 3 jam. Bus Shantika berhenti di sebuah pencucian bus, di sini bus ini di cuci dulu baru nanti di bawa ke pool. Di sini juga udah ada Shantika Bandung, Shantika merah. Dari pada nunggu lama di sini, gw putuskan untuk turun di sini dan melanjutkan perjalanan sendiri.

Gw bingung... mau kemana ya. Gw sama sekali gak tau daerah sini. Yang gw tau, kalo mau pulang ke Jakarta, gw harus ke terminal Jepara dulu. Sedangkan tempat wisata di sini ada Museum Kartini, Tugu Jepara, Pantai karitini, Pantai Bandengan. Tapi, karna bugjet turing gw gak seberapa, gw putuskan ke Terminal Jepara dulu. Paling gak, gw harus udah punya tiket balik ke Jakarta, biar aman. Naik bus 3/4 mengantar gw ke Jepara dengan biaya 3000 perak. Di terminal, gw cari makanan dulu. Ketemu nasi gudeg, kayaknya enak nih. Nasi gudeg pake ayam plus telur. Lumayan enak sih, cuma ayamnya aja yang aneh, dapetnya yang dubur, mana dicampur telur lagi. Makanan 11. ribu perak agak kemahalan buat gw dan gak sesuai. Di loket terminal, gw bingung mau naik apa, antara Muji Jaya, Senja Furnindo, Nusantara, ama Shantika. Banyaknya pilihan, tapi mata ini selalu tertuju ke loket Senja Furnindo. "SF tujuan rawamangun mbak... berapa ya" basa-basi nanya, padahal gw udah tau harganya, sekitar 110 ribu perak. "tiketnya 190 ribu mas". "hahhh... yg bener" jawab gw agak kaget. Gw baru nyadar, kalo sekarang masih suasana lebaran, padahal udah 2 minggu yang lalu Lebaranya. "masa blom turun juga tiketnya???". Kata mbaknya, tiketnya turun 10rb per hari sejak seminggu yang lalu. Berarti sekarang 190rb, besok baru 180 rb sampe tiket normal. Gila... pikir gw. Untungnya gw ada duit simpenan. "Ya udah deh... tapi DP 100 dulu yak". Gw terpaksa ambil tiket itu daripada gak jadi balik ke Jakarta, sambil nanya dimana ATM BCA.

ATM BCA gak jauh dari terminal, tapi gw disarankan naik becak yang harganya cuma 3000 dari terminal. Katanya beda lagi kalo dari sana ke terminal, harganya bisa 4 kali lipat. Lumayan lah naik becak di Kota Jepara. Abis gesek kartu ATM, gw jalan-jalan dulu. Tapi sumpah... gw bingung mau kemana. Kebetulan pas naik becak, gw lihat warnet di pinggir jalan. mending gw ke sana dulu ah... Di warnet gw bosen, koneksinya lambat. Trus gw tidur aja dah... tapi gak nyaman, soalnya diliatain orang trus, cewek lagi. Tapi bisa istirahat 10 menit aja udah cukup, yang penting ada istirahat.

Gara2 tiket masih kena tuslah, gw gak jadi wisata di jepara... cuma bisa jalan kaki. Gw jalan kaki udah ke Alun-alun Jepara, di situ juga ada Tugu Jepara. Di sebelah alun-alun Jepara, ada taman yang teduh banget, neduh dulu ah disitu. Sambil neduh, gw minum es dawet. Hhmmm... seger tenan rek... Abis itu tidur dah... Dipikir-pikir, gw kayak gelandangan keren di Kota Jepara deh... Tiba-tiba ada suara adzan nih... Wah, gw harus bangun, gak enak ama orang2. Waduh, masih lama nih sampe jam keberangkatan, jam 5 sore. Udah siang, gw makan dulu... Tapi gw gak tau mau makan dimana. Abis jalan beberapa ratus meter, ketemu yang rame dipinggir jalan. Ternyata orang jualan bakso ama batagor yang buka lapak di pinggir jalan. Cobain ah... yang batagor aja. Hhmm... rasanya enak, mungkin sama kayak batagor Bandung yang jualan di pinggir Detos.

Abis isi bahan bakar, gw jalan ke terminal, nglunasin dulu. Pas di loket SF, "ini mau nglunasin tiket yang tadi". Gw ngasih duit 100rb-an, katanya sambil ngasih kembalian "tiketnya 180rb aja mas". Dikasihlah duit 20rb buat kembalian. Asik, dapet diskon tuslah. Tiket balik udah ditangan, jadi mau ngapain aja bisa tenang, yang penting jam setengah 5 harus udah di terminal. Sekarang masih jam 1 kurang. Gw ke masjid dulu ah... yang gw liat terletak di ujung terminal. Hehehe... numpang tidur ah... Mau tidur tapi kok susah ya, apa krna gak nyaman dan aman ya... Gw tidur tapi masih agak sadar. Tidur 1-2 jam lumayan, biarpun gak tenang. Badan gw berasa lusuh banget, udah kagak mandi tadi, keringetan mulu lagi. Bodo amat lah, yang penting blom ada yang protes.

Jam 2 lebih gw bangun, karna udah males tidur lagi. gw check peta lewat google maps di hp gw. Ternyata, teminal Jepara itu deket laut lho. beberapa ratus meter ada pelabuhan. Coba kesana ah... asik khan jalan-jalan ke Jepara ketemu lautnya, biar jalan-jalan kali ini gak sia-sia. Lumayan sih kalo jalan, tapi kalo sampe di pelabuhan pasti lega liat lautnya, perahu2nya. Sayangnya cuma ada pelabuhan, sedangkan pantainya jauh. Gak lengkap kalo blom foto2, sama foto2 sendiri biar eksis. Buat bukti kalo gw udah pernah ke Pelabuhan Jepara. Ke laut juga blom lengkap kalo blom nyentuh air lautnya... Gak kerasa, udah jam 4 kurang. Akhirnya udah mau jam 5, dan gw harus kembali ke terminal. Biar lebih fresh, gw ganti baju dulu. Tadinya mau mandi, cuma air di sini kurang bersih.

Di terminal, udah ada 2 SF pink, satu ke rawamangun, yang satunya lagi ke Pulogadung. Di situ juga ada Nu3tara, Shantika merah, sedangkan muji Jaya blom ada. Gw check-in dulu di loketnya, dan gw dapet yang plat K 1754 BC. Sementara, penumpang blom boleh naik dulu, jadi gw nunggu aja di dalem loket, sambil numpang ngecharge hp. Jam 5 kurang, penumpang diperbolehkan naik dan gw taro tas gw di seat no 8. Sebelum berangkat gw foto2 dulu, mulai dari interiornya, mumpung blom banyak penumpangnya. Abis itu foto2 eksteriornya. Gw liat udah ada SF yang lain termasuk yang kuning ke Lebak bulus, dan yang putih Vip ke pulogadung.

Jam 5 lebih, gw berangkat. Akhirnya pulang juga, dan untuk pertama kalinya lagi gw naik SF. Masuk Kudus, ketemu Nu3tara, Muji Jaya dan Haryanto. Kesan pertama naik bus ini: mantabb... supirnya kalo nyalip dari kanan berani banget, sampe nahan kendaraan dari berlawanan arah, bahkan truk dipaksa melambat, dan mobil dipaksa ke luar jalur. SF pink ini pake bus Mercedes-benz OH1521 intercooler tahun 1996an, karoseri Setra dari Morodadi prima. Biarpun mesin lawas, tapi performanya cukup handal, apalagi supirnya yang manteb.

Jam setngah 9 malem, berhenti di RM Sari Rasa. Rumah makan ini katanya yang paling bagus, dan gw lihat juga luas banget. Di sini ada SF, ada banyak Nu3tara, ada juga Rosalia Indah, juga Blue Star. Makan dulu ah... udah laper banget, abis jalan2 seharian tadi. Makan udah abis, waktunya foto2. Tapi, tiba2 hujan, jadinya gak bisa ke luar, bisanya foto2 dari dalem doank. Wahh, asik nih hujan. Gw paling demen naik bus kehujanan. Paling pas kalo jalannya siang trus kehujanan. Abis foto2, jam 9 lebih dikit bus berangkat. Nah, sebentar lagi nyampe di tanjakan plelen. Kira2 kuat gak ya bus SF ini, lantaran pake mesin mercy cooler, tenaganya kurang kuat buat berlari di tanjakan. Di luar dugaan, biar pun lambat tapi SF nyalip bus2 lain di tanjakan plelen, kayak Ramayana dan Pahala Kencana.

Di perjalanan, SF pink nyalip bus lain yang ada di depan, dan blom di-overtake sama bus lain kecuali Nu3tara Scania, emang gila tuh bus. Hal yang paling mengesankan adalah pas di kota Pemalang, jalan macet dan gw liat banyak bus2 lain di depan. Gak tau aba2 darimana, SF pink buka jalur di jalur berlawanan arah, ngelewatin bus2 yang kena macet, ada Nu3tara Scania yang tadi, Rosalia Indah, OBL, PK, Raya, Kramat Djati, SF kuning, SF hitam, ama yang lain-lainnya, banyak banget pokoknya. Emang dah, perjalanan dari Jepara/Kudus lebih seru, karna ketemu banyak bus2 lain. SF pink terus berada di jalur berlawanan arah, dan ternyata Nu3tara Scania ngikutin dari belakang. Sampe pada ujung kemacetan, dan di perbatasan kota Brebes SF berada di depan dan dibelakang masih nu3tara Scania. Beberapa menit kemudian, Nu3tara Scania nyalip dan SF ngasih jalan.

Di Tol Kanci, SF pink yang udah ngebut pol sampe ngeden. SF pink nyalip beberapa bus lain kayak Sinar Jaya, Sumber Alam, dan lain-lain. Tiba-tiba, di sebelah kiri di bahu jalan lewat Nu3tara Scania SE yang lain, cepet banget, dan keliatan enteng banget ngebutnya, padahl SF pink ini udah ngeden. Ckckck... bener2 gila tuh bus. Tapi gak apa-apa, yang penting bus ini tetep bisa nyalip. Di pamanukan, SF pink berkutat dengan Yudha Jovie, Garuda Mas, Sumber Alam, Sinar Jaya, dan Gajah Mungkur. Agak lama tuh persaingannya, mungkin 1 jam lebih. Tapi, ahirnya SF yang menang. Abis itu gw tidur karna capek banget. Bangun2 udah ada di Tol Cikampek deket Cikunir. Jam 5 sampe di terminal Rawamangun dengan selamat.