Halaman

Tampilkan postingan dengan label Fenomena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2012

Republish My Blog

Blog yang dibuat entah kapan sekarang bisa online kembali. "Lha emang sebelumnya gak bisa online???" Bisa, cuma kagak pernah diupdate, jadi kesannya nih blog udah mati. Nah, barusan udah diupdate, berikut sama settingan-settingan HTML-nya... Walaupun ada kendala sedikit tadi, ya akhirnya semua berjalan dengan lancar. (Gara-gara ini gw musti mengingat kembali ilmu IT yang hampir punah di otak gw)... Sekarang comment menggunakan commentnya Facebook. Biar gw tahu siapa aja yang comment... 


Tapi renovasi ini belum selesai gan... masih pengen dicakepin lagi. Belum tahu mau diapain lagi, soalnya settingan blog ini belum di-explore.


Oke bro, selamat menikmati Tulas Tulis. Mudah2an informasi dan cerita yang saya berikan bisa bermanfaat bagi yang bisa memanfaatkannya... hehehe

Senin, 02 Juli 2012

Ngantri Tiket Kereta Ekonomi

Menjelang 1 Juli 2012, tepat 2 jam sebelum itu, saya dan Bapak saya tiba di Stasiun Pasar Senen. Kami berniat untuk membeli tiket Kereta Ekonomi untuk Bapak saya pulang kampung ke Klaten dan mengantarkan adik saya yang kebetulan masih sekolah SD di kampung. Kenapa kami berdua datang malem-malem karna menurut info yang Bapak saya dapat, pembelian tiket KA baru dibuka jam 12 malam nanti. Paling nggak dengan datang 2 jam lebih awal, kami tidak mengantri panjang.

Sayangnya, perkiraan itu meleset jauh. "Buset!" Ternyata antriannya sudah panjang banget, mungkin kalo diukur ada sekitar 50-100 meter panjangnya. Loket belum dibuka aja, antriannya sudah segini panjangnya. Ada kemungkinan orang-orang ini sudah mengantri dari sore atau siang. 

Minggu, 21 November 2010

BUS, Dahulu dan Sekarang

Semua orang terutama buat yang remaja ke atas, pasti punya kenangan di tahun sebelum masa reformasi. Saya pun juga demikian, salah satu kenangan itu adalah pengalaman naik bis malam. Jika saya pulang ke kampung halaman saya yang berada di daerah Klaten, saya biasanya menggunakan moda bis AKAP atau bis malam, karena di dekat rumah ada banyak terdapat agen bis-bis malam. Berdasarkan pengalaman saya dan sharing dari teman-teman saya, sebelum masa reformasi moda transportasi darat ini mencapai puncak kejayaannya.

Tahun 90an, di Kota Jakarta dan sekitarnya terdapat banyak PO (Perusahaan Otobus) yang melayani transportasi AKAP, AKDP maupun Pariwisata. Mereka tentunya saling bersaing secara sehat untuk mendapatkan penumpang sebanyak mungkin dengan cara menawarkan kepada calon penumpang berbagai trayek, kelas bis, fasilitas dan hal-hal lainnya.

Dari segi trayek, untuk trayek di pulau Jawa sendiri banyak PO yang melayani trayek ke daerah-daerah mulai dari Bandung, Semarang, Jogja, Solo sampai ke Surabaya, yang jumlahnya mungkin sekarang sudah tidak dapat diingat lagi. Sedangkan untuk pelayanan ke luar pulau Jawa, seperti Sumatera ada beberapa PO asal Sumatera yang melayani trayek dari Jakarta ke beberapa daerah di pulau Sumatra, sebut saja PO Lorena, PO ALS, PO SAN, CV. Pelangi, dan lain sebagainya. Sementara, untuk trayek dari Jakarta ke Bali dan Lombok, sebut saja PO Safari Dharma Raya (OBL) dan Lorena yang saya ingat melayani rute itu.

Dari segi kelas, waktu itu banyak terdapat kelas-kelas dalam bis AKAP maupun AKDP, yang tentunya mempengaruhi fasilitas yang akan didapat bagi penumpang. Mulai dari Economy Class, Patas, VIP Class, Bussiness Class, Executive Class, dan Super Executive Class. Beberapa PO juga memiliki penamaan tersendiri seperti Super Deluxe, Royal Coach, dan lain-lain. Dari segi fasilitas, setiap PO memberikan fasilitas yang benar-benar sesuai dengan kelasnya, artinya kenyamanan penumpang benar-benar menjadi hal yang diutamakan. Contohnya, penumpang kelas Super Executive akan mendapat fasilitas berupa kursi yang lebar, lega, empuk serta nyaman, selimut yang tebal, bantal, TV dan musik, toilet, serta mendapat snack dan makan prasmanan, belum lagi pelayanan kru nya yang ramah, bis yang nyaman dan bagus, dan fasilitas plus-plus lainnya.

Selain itu, hampir semua PO menawarkan kecepatan untuk sampai di tujuan. Oleh karena itu, muncul istilah Bus Cepat, atau Bis Malam Cepat, karena mereka memang memberikan hal itu. Maka dari itu, perjalanan di malam hari menjadi perjalanan yang menegangkan. Pantura, jalur yang sering dilewati bis-bis malam, dijadikan arena balap buat para sopir bis malam. Adegan salip-salipan kerap sering terjadi. Saya sendiri mengenal satu PO yang terkenal dengan kenekatan-nya di jalan pantura, yaitu Lorena. Sayang, dulu tidak punya kesempatan untuk naik bis ini.

Sekarang, setelah jaman reformasi, apa yang terjadi? Krisis yang melanda Indonesia tahun 1998 memberikan dampak yang luas, salah satunya kenaikan harga BBM. Beberapa PO bangkrut karena terus merugi, keuntungan-keuntungan yang di dapat tidak dapat mengimbangi jumlah pengeluaran untuk perawatan armada dan bahan bakar yang kian meningkat. Hal ini diperparah dengan banyaknya maskapai pesawat terbang yang menawarkan tiket lebih murah. Hal ini membuat beberapa PO terpaksa menutup trayek-trayek tertentu, terutama trayek ke luar pulau Jawa. Harga tiket bis semakin naik tetapi tidak diimbangi dengan pelayanannya. Pelayanannya justru menurun antara lain mengurangi jatah snack dan makan, menambah jumlah seat yang sebelumnya terasa lega sekarang menjadi lebih sempit. Fasilitas-fasilitas yang ada tetap dipertahankan walau sudah rusak dan usang, contohnya kursi.

Banyak PO yang mengurangi jumlah armada yang beroperasi, termasuk mengurangi kelas yang tadinya bervariasi sekarang tidak lagi. Dari hal inilah kemudian masalah ketidak-puasan dari penumpang bermunculan. Sebagian besar penumpang merasa tidak puas karena tidak mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang sesuai dengan kelasnya. Contohnya, seorang penumpang naik bis kelas Super Executive, tapi dia mendapatkan kursi yang sudah rusak, AC tidak dingin, toilet bau, tidak dapat snack, makanannya tidak enak, TV dan musik rusak sampai dengan pelayanan kru yang tidak ramah.

Selain fasilitas, banyak PO yang mempertahankan bis-bis yang sudah tua dan bahkan sebagian sudah tidak layak jalan lagi, tanpa adanya peremajaan armada yang baru. Isitlah bus Cepat menjadi slogan belaka, jangankan cepat sampai tujuan, bis malah mogok di jalan. Perjalanan di pantura menjadi perjalanan yang membosankan, karena bis-bis berjalan lambat dan santai. Selain karena armada yang sudah tidak prima, hal ini dikarenakan solar Jatah, yaitu bis yang dijatahi sekian liter solar untuk setiap perjalanan. Jadi, kalo supir bis ingin ngebut maka siap-siap saja tekor untuk solar.

Masa Pasca Millenium dan Krisis merupakan masa-masa tersulit dan sangat mematikan untuk perusahaan Otobus. Kini, setelah semuanya berlalu, perusahaan-perusahaan otobus mencoba kembali memajukan dan mengangkat perusahaan mereka yang sempat jatuh. Beberapa PO sudah mulai membenahi perusahaan dan meningkatkan pelayanan. Bahkan, tidak sedikit PO-PO baru bermunculan, ini artinya moda transportasi darat ini sedikit demi sedikit mulai bangkit kembali, kejayaan yang silam mulai dirajut kembali. Beberapa PO mengeluarkan armada terbarunya dengan mesin terbaru pula. Saat ini mereka pun mulai saling berlomba untuk memberikan yang terbaik untuk penumpang mulai dari mesin bis yang baru dan tangguh di jalanan, desain karoseri yang cantik, interior yang bagus dan nyaman, sampai fasilitas. Dibawah ini terdapat foto-foto perbandingan bis jadul era 90an dengan bis yang saat ini. Saya, sebagai pengguna setia dan penggemar bis, mengharapkan kelak PO-PO di seluruh Indonesia (tidak hanya Jawa) bisa berjaya lagi melebihi kejayaan yang lalu.

Foto Bis PO. Muji Jaya, jadul dan yang terbaru

Foto Bis PO. Kramatdjati, jadul dan saat ini

Foto Bis PO. Ramayana, jadul dan yang terbaru

Foto Bis PO. Putra Remaja, jadul dan saat ini

Sumber Foto2 dari Forum Bismania: www.bismania.com

Senin, 21 Juni 2010

Terboyo Terkena Dampak Pemanasan Global?

Merujuk pada artikel sebelumnya, Go Green dan Pemanasan Global. Pada tanggal 19 Juni 2010, saya telah melakukan perjalanan ke daerah Semarang dengan menggunakan bus kota. Bus tersebut berlabuh (berakhir) di sebuah terminal, yang bagi saya sudah tidak asing karna pernah ke tempat ini sebelumnya. Tapi, alangkah terkejutnya saya, melihat kondisi terminal yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Kalo waktu terakhir saya datang ke tempat ini sebulan yang lalu, kondisinya masih kering, walaupun ada banjir tetap di salah satu tempat. Namun, saat ini terminal yang dulu menjadi kebanggaan kota Semarang, sekarang menjadi layaknya sebuah pelabuhan. Air menggenangi jalan hingga pelataran area dalam terminal. Kalo sebelumnya cuma becek saja, sekarang benar-benar tergenang. Menurut penuturan salah satu pengawas PO, jika sore hari genangan air ini bahkan bisa sampai ke peron penumpang.





Apakah ini dampak dari pemanasan global? Saya memperkirakan, genangan air ini berasal dari permukaan air laut yang terus naik. Hal ini diperparah ketika air laut pasang. Kondisi pesisir Semarang pun kalo saya perhatikan tampak memprihatinkan. Banyak rumah-rumah terbengkalai, dibiarkan menjamur karna tergenang air. Dan itu mungkin hanya sebagian kecil yang terlihat. Permukaan air laut yang naik merupakan salah satu efek dari pemanasan global. Ketika es di kutub mulai mencair sedikit demi sedikit, maka permukaan air laut pun akan semakin naik.

Go Green dan Pemanasan Global

Tulisan ini dimuat di Warta Paroki St. Thomas edisi Minggu, tgl 13 Juni 2010

Go Green, Hari Bumi, Pekan Lingkungan dan lainnya adalah serangkaian bentuk peringatan bagi kita semua akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup. Salah satu misi yang diemban adalah menekan dampak dari Pemanasan Global, yang disebabkan oleh meningkatnya kadar CO2 di atmosfir bumi. Sebagai informasi, konsentrasi CO2 di atmosfir bumi meningkat secara konsisten dari sekitar 310 ppm pada tahun 1957 menjadi sekitar 387 ppm pada tahun 2010. Ini artinya peningkatan kadar CO2 lebih dari 25% dalam kurun 50 tahun. Apa kata dunia, jika ini dibiarkan terus menerus?

Dampak pemanasan global cukup serius, antara lain perubahan iklim yang tidak menentu (ketidakstabilan iklim), contoh sederhananya bisa dirasakan di negara kita. Selama ini musim hujan di Indonesia dikenal pada periode September hingga Februari, dan musim kering (panas) pada Maret hingga Agustus. Dengan pola ini, biasanya petani menanam padi pada Desember (puncak musim hujan) dan rencana panen pada Maret atau April (awal musim kering). Karena perubahan iklim, musim hujan berlangsung hingga Maret, maka padi tersebut akan hancur dan tidak bisa dipanen. Selain itu, permanasan global juga mengakibatkan meningkatnya permukaan air laut. Data terakhir memperlihatkan, permukaan air laut mengalami peningkatan sebesar 75cm setiap tahunnya yang terjadi di seluruh bagian dunia. Saya pun juga sempat memperhatikan kondisi pesisir Jawa, termasuk Jakarta dan Semarang dimana air laut semakin naik dan telah masuk ke pemukiman. Berbagai hal dilakukan termasuk meninggikan permukaan jalan dan tanah, yang tampaknya tidak cukup memperbaiki keadaan. Selain itu, pemanasan global juga mengakibatkan meningkatnya suhu global, terganggunya ekologis alam, sampai kepada dampak sosial dan politik.

Bagaimana kita bisa memperbaiki kondisi ini, paling tidak menghindari keadaan yang lebih buruk? Salah satunya adalah melakukan program Go Green. Program Go Green yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah Hemat Listrik, Hemat Bahan Bakar yakni dengan menggunakan transportasi publik, kurangi konsumsi kertas. Dengan menghemat listirk dan bahan bakar, maka kita dapat mengurangi emisi gas karbon yang dihasilkan dari mesin pembangkit dan kendaraan kita. Jagalah kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya, serta membuat sanitasi yang baik, dengan itu maka kita bisa mendapatkan sumber air yang bersih dan menjaganya. Kita dapat mendaur ulang benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi. Sayangilah lingkungan anda dan jagalah kelestariannya, tanamlah pepohonan jika anda memiliki pekarangan di rumah.

Satu hal yang bisa disimpulkan adalah, tujuan program Go Green adalah menjaga keseimbangan alam agar kita manusia dapat menempati alam ini dengan nyaman. Jika alam ini tidak lagi bersahabat untuk tempat tinggal kita, mau dimanakah lagi kita tinggal?

-YS-

Rabu, 20 Januari 2010

Mengamati Hujan Pertama di Kantor

Mungkin ini salah satu keberuntungan gw saat ini. Pas gw mau berangkat kerja, hujan gak turun, padahal langit mendung dan kelabu (jiaahhh... kelabu). Dan hujan juga belom turun saat gw lagi menikmati jalan-jalan di area Kemayoran dan sekitarnya. Hujan pun belom turun waktu gw lagi makan di pinggir jalan dan pintu kereta api. Itu pun agak lama di situ. Hujan juga blom turun waktu gw memutuskan pergi ke tempat kerja. Dan gw sempet menunggu orang di situ dan ngobrol-ngobrol dengan temen baru. ketika sedang mengurusi urusan kantor, gw juga ga melihat ada hujan di sana. Sempet, ada temen yang bilang kalo keliatannya mau hujan, jadi gw disarankan meletakkan jaket dan rompi gw yang di motor gw, di dalem kantor aja. Itu pun hujan gak turun-turun. Ketika gw menulis sebuah cerita pun blom turun hujan, dan gw bisa melihat itu di tempat gw di lantai 4. Dan akhirnya hujan pun turun saat gw selesai menulis cerita itu dan mengawali cerita ini. Itu pun hanya hujan gerimis yang lembut, tapi ini menjadikannya sebagai hujan pertama yang gw saksikan di tempat kerja gw. Mudah-mudahan hal ini merupakan suatu pertanda yang baik buat kelanjutan cerita di kehidupan yang mendatang. Saat di tengah kalimat ini, gw menyaksikan hujan halus dengan langit yang tidak begitu gelap. Dan di sinilah akhirnya cerita ini.

Menangkap Fenomena Pagi di Hari Pertama Kerja

Tetoooootttt... Alarm hp gw berbunyi, gw terbangun tapi masih blom mau bangun. Dinginnya pagi ama hangatnya selimut dan kasur bikin gw betah tiduran. Lewat 10 menit, gw terhentak dan punya tenaga untuk bangun tidur. Gak tau deh, biasanya juga terus ketiduran, mungkin karna ini hari pertama gw kerja. Masih jam 5 lebih dikit, mending ntar aja mandinya, ngapain juga buru-buru, masuknya khan jam setengah 8. Mending nonton TV sambil ngenet, biasalah ngecheck Notification sama liat forum bismania. Gak terasa udah mau jam 6, akhirnya gw mandi. Melihat cuaca di luar kayaknya sih gak hujan, cuma mendung-mendung dikit. Akhirnya gw rasakan aroma seperti waktu SMA dulu, menghirup udara segar di pagi hari. Maklum, biasanya gw bangun jam 8an lebih, itu pun gak langsung keluar tapi ngegame atau ngenet dulu. Persiapan udah mateng nih, rompi udah, hp udah, sepatu udah dipake, dompet udah di celana, helm tinggal pake, motor udah dipanasin, lampu-lampu rumah udah dimatin, disisain lampu bohlam buat tengah biar gak gelap. So, tinggal berangkat.

Menarik juga... berangkat pagi jam setngah 7 kurang dikit. Ada temennya, yaitu orang yang berangkat sekolah dan berangkat kerja juga. Rame juga ternyata, kalo dipikir kita kayak rombongan bikers... hehehe. Niatnya mau sarapan dulu di tukang nasi uduk langganan, tapi blom buka. Mungkin masih bobo kali abangnya. Selain rame, gw juga nemu beberapa fenomena lain di pagi hari pertama kerja ini. Seperti biasa, gw kalo naik motor pasti ngebut ala bis malem, pake teknik menggunting dan menyelip. Semangat banget gw kali ini, masih pagi gitu loch. Nah, sampe di depan UP, alamak, macet kale. Ini macet pasti panjang, sampe sini aja udah macet, biasanya sampe lenteng agung baru macet. Tapi ada hal yang bikin gw tetap semangat dan ngeguyon dewekan waktu itu, yaitu ternyata kalo di pagi hari itu banyak bidadari yang berkeliaran. Uupss... maksudnya banyak wanita cantik yang keluar dari sarangnya, buat berangkat sekolah atau kerja. kalo gitu bisa betah nih, biarpun keadaan macet sepanjang jalan. Biasanya suka ada di deket titik kemacetan, kayak halte, stasiun dan persimpangan.

Gak terasa, udah sampe di Pancoran. Waktu menunjukkan jam 7 lebih 12 menit. Ya ampun, masih jam segini, berarti cepet banget ya, biarpun macet, Depok ke Pancoran cuma butuh waktu kurang dari 45 menit. Di Pancoran, gw mampir ke POM Bensin. Gw kasih minum dulu nih motor soalnya udah sekarat, dan 10rb cukup. Tukang POMnya bilang kalo gak ada kembalian, duit gw adanya 50rb-an. Dia bilang kalo mau nunggu buat nyari duit kembalian. Gw bilang aja, kalo lama2 juga ga papa, lumayan khan ngulur waktu. Gara2 masih terlalu pagi, gw jadi gak semangat. Gw jadi santai jalannya. Terus terus dan terus, ternyata gw udah di Gunung Sahari, deket tempat kerja gw. Ya elah, baru jam 07.30, padahal gw pengennya lama di jalan, tauk2 malah udah mau sampe. Ya udah, gw akhirnya memutuskan untuk muter-muter dulu, sekalian mau mengenal tempat ini. Gw lurus, belok, terus lagi, terus gw sampe di perlintasan kereta api. Liat-liat dulu ah, liat kereta yang mau lewat dulu. Abis itu gw jalan lagi, terus, dan akhirnya sampe di jalan Kemayoran, kalo gak salah ya. Ada satu bangunan yang menarik perhatian gw, ini bangunan megah banget, udah kayak istana, bentuknya juga menyerupai istana. Dalam satu komplej ada 3 tipe bangunan besar, yang pertama, bentuk istana, yang kedua bentuk Mall, dan yang ketiga bentuk gedung perkantoran yang tinggi. Alangkah terkejutnya gw, kalo satu komplek itu adalah gereja. Soalnya ada tulisan KASIHI ALLAH DAN SESAMAMU. Gw jadi menebak gitu, jangan2 ini gerejanya Kristen Bethel yang terkenal jemaatnya orang kaya semua, istilah Bethel ini agama yang paling ekslusif dari pada yang lain. Sebagai informasi, gereja Bethel di Depok aja, udah kayak gedung sate, gedenya sama kayak gedung sate, minus tusukannya.

Setelah sejenak berhenti menikmati kemegahan Gereja Bethel, gw melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya tiba di sebuah perlintasan kereta api lagi, tapi kali ini ada jalan underpass nya di bawah rel. Tepat di sebelah rel, ada warung makan. Ahaa... gw makan aja di sini sambil menikmati hiruk pikuk kendaraan yang lewat dan kereta yang melintas. Di sini merupakan daerah perlintasan kereta yang sangat sibuk, karna hampir beberapa menit ada kereta yang melintas. Ada kereta KRL dan kereta jawa yang lewat sini. Lucunya, kendaraan yang kebanyakan mobil, kadang ragu2 untuk melintas. Mungkin untuk jaga2, karena kondisi lagi macet, takut kalo stak di tengah rel trus tiba2 sirine pintu rel bunyi, pasti langsung panik tuh. Kalo jaga jarak khan jadi aman. Jam di warung menunjuk jam 07.50, gw sante dulu ahhh... Tempat kerja juga deket dari situ. Jam 08.10, gw berangkat ke tempat kerja dan menghadapi hari pertama gw di sana. Kayaknya kalo setiap hari kayak gini, asik juga, lumayan merefreshkan diri. Asalkan gak hujan aja, kalo hujan bikin males kemana-mana, naik motor aja males, apalagi jalan2.