Jumat, 11 Juni 2010

Selamatkanlah Bumi atau Selamatkanlah Manusia…?

Manusia adalah penghuni bumi bersama dengan ribuan spesies binatang dan tumbuhan saat ini, sejak Jaman Holosin (10.000 tahun SM). Pada awal jaman ini, manusia sejenis Homo Sapiens, yang merupakan nenek moyang kita, termasuk kamu dan saya, bermunculan di muka bumi. Entah bagaimana proses pemunculannya, sampai saat ini belum ada yang dapat menjelaskannya.  Sebelum Jaman Holosin, terdapat Jaman Pleitosen yang terjadi 600.000 tahun yang lalu. Manusia purba sejenis Homo Erectus hadir di jaman ini. Jaman Pleitosen dan Holosin merupakan bagian dari Jaman Kuartier, sedangkan Jaman Tersier terjadi 60 juta tahun yang lalu yang ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui. Baik Tersier maupun Kuartier, keduanya merupakan Jaman Neozoikum atau jaman hidup pertengahan. Jika kita mundur lagi, kita menemui Jaman Mesozoikum (140 juta tahun yang lalu), Jaman Paleozoikum (340 juta tahun yang lalu) dan Jaman Arkaezoikum (2500 juta tahun yang lalu). Untuk detailnya dapat Kamu baca di buku-buku sejarah SMA.

Berdasarkan informasi di atas, kita akan tahu bahwa peradaban manusia baru berumur kurang lebih 10.000 tahun yang lamanya. Hal ini jelas dong… tidak bisa kita bandingkan dengan umur bumi yang sudah melewati berbagai jaman. Banyak orang atau instansi yang menyerukan Save The Earth atau selamatkanlah bumi, selamatkanlah alam ini. Kalau kita renungkan sejenak dan kita tinjau dari paragraf pertama, maka bukankah seharusnya yang kita upayakan keselematannya adalah manusia itu sendiri. Alam bukan bergantung kepada manusia, tetapi peradaban manusia yang bergantung kepada kondisi alam. Selama kondisi alam masih “bersahabat”, maka selama itulah peradaban manusia bisa berjalan dan manusia akan terus hidup.

Pertanyaan saat ini adalah, “Akankah bumi akan hancur akibat pengrusakan alam oleh manusia?” Mungkin saja tapi menurut saya kecil kemungkinannya. Jika pertanyaannya dibalik menjadi, “Akankah peradaban manusia akan hancur akibat Bumi?” Sangatlah mungkin jika manusia tidak dapat bertahan hidup lagi akibat kondisi alam yang terlalu ekstrim. Kita lebih populer menyebutnya sebagai Kiamat Manusia. Belakangan ini banyak yang meramalkan akan datangnya hari itu dalam waktu yang tidak lama.

Coba kita kembali ke Jaman Pleitosen sekitar 600.000 tahun yang lalu. Tahukah kamu, pada jaman ini terjadi berbagai bencana hebat di muka bumi, seperti Supervolcano dan Tubrukan Meteor. Danau Toba adalah salah satu hasil supervolcano yang meledak pada 74.000 tahun yang lalu. Ledakan ini jauh lebih besar ketimbang letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Sebagai informasi, letusan Gn. Tambora menewaskan sekitar 72.000 orang, yang pada masa itu masih sedikit penduduknya. Dampak letusannya terasa hingga ke seluruh dunia. Tak bisa kita bayangkan, jika supervolcano terjadi pada saat manusia sedang berkembang. Bencana dahsyat lain adalah tubrukan meteor ke permukaan bumi. Peristiwanya memang sangat jauh antara meteor yang satu dengan yang lainnya, bisa ribuan atau puluhan ribu tahun jaraknya, tidak sebanding dengan tahunnya manusia. Bisakah kita bayangkan sudah seperti apa jadinya bumi dengan bencana-bencana yang terjadi itu. Nyatanya bumi masih ‘baik-baik’ saja saat ini. Kita kembali ke Jaman Arkaezoikum, 2.5 Milyar tahun yang lalu. Saat itu bumi memiliki lapisan yang sangat panas, dan belum terdapat lapisan udara. Jarak bulan dan bumi sangat dekat dan dapat jatuh menimpa bumi sewaktu-waktu. Lalu, apakah umur bumi akan singkat saat itu? Tidak khan, bahkan bumi masih terus berotasi dan berevolusi sampai sekarang.

Ciptaan manusia mungkin ada batas waktunya, tapi ciptaan Tuhan... tidak ada yang tahu sampai kapan batas waktunya. Umur manusia saja tidak bisa kita perkirakan. Lalu, selamatkanlah bumi atau selamatkanlah manusia yang lebih kita serukan? Jika ingin hidup lebih lama di bumi, maka perlakukanlah bumi dengan sebaik-baiknya dan peliharalah alam ini. Seperti kita memelihara raga kita, dengan makan minum dan membersihkan diri. Dengan cara seperti ini, paling tidak kita bisa tinggal dengan lebih nyaman dari saat ini, walaupun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok.

Ignatius Yudistiro Sampurna.
Jumat, 11 Juni 2010