Senin, 21 Juni 2010

Terboyo Terkena Dampak Pemanasan Global?

Merujuk pada artikel sebelumnya, Go Green dan Pemanasan Global. Pada tanggal 19 Juni 2010, saya telah melakukan perjalanan ke daerah Semarang dengan menggunakan bus kota. Bus tersebut berlabuh (berakhir) di sebuah terminal, yang bagi saya sudah tidak asing karna pernah ke tempat ini sebelumnya. Tapi, alangkah terkejutnya saya, melihat kondisi terminal yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Kalo waktu terakhir saya datang ke tempat ini sebulan yang lalu, kondisinya masih kering, walaupun ada banjir tetap di salah satu tempat. Namun, saat ini terminal yang dulu menjadi kebanggaan kota Semarang, sekarang menjadi layaknya sebuah pelabuhan. Air menggenangi jalan hingga pelataran area dalam terminal. Kalo sebelumnya cuma becek saja, sekarang benar-benar tergenang. Menurut penuturan salah satu pengawas PO, jika sore hari genangan air ini bahkan bisa sampai ke peron penumpang.





Apakah ini dampak dari pemanasan global? Saya memperkirakan, genangan air ini berasal dari permukaan air laut yang terus naik. Hal ini diperparah ketika air laut pasang. Kondisi pesisir Semarang pun kalo saya perhatikan tampak memprihatinkan. Banyak rumah-rumah terbengkalai, dibiarkan menjamur karna tergenang air. Dan itu mungkin hanya sebagian kecil yang terlihat. Permukaan air laut yang naik merupakan salah satu efek dari pemanasan global. Ketika es di kutub mulai mencair sedikit demi sedikit, maka permukaan air laut pun akan semakin naik.

Go Green dan Pemanasan Global

Tulisan ini dimuat di Warta Paroki St. Thomas edisi Minggu, tgl 13 Juni 2010

Go Green, Hari Bumi, Pekan Lingkungan dan lainnya adalah serangkaian bentuk peringatan bagi kita semua akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup. Salah satu misi yang diemban adalah menekan dampak dari Pemanasan Global, yang disebabkan oleh meningkatnya kadar CO2 di atmosfir bumi. Sebagai informasi, konsentrasi CO2 di atmosfir bumi meningkat secara konsisten dari sekitar 310 ppm pada tahun 1957 menjadi sekitar 387 ppm pada tahun 2010. Ini artinya peningkatan kadar CO2 lebih dari 25% dalam kurun 50 tahun. Apa kata dunia, jika ini dibiarkan terus menerus?

Dampak pemanasan global cukup serius, antara lain perubahan iklim yang tidak menentu (ketidakstabilan iklim), contoh sederhananya bisa dirasakan di negara kita. Selama ini musim hujan di Indonesia dikenal pada periode September hingga Februari, dan musim kering (panas) pada Maret hingga Agustus. Dengan pola ini, biasanya petani menanam padi pada Desember (puncak musim hujan) dan rencana panen pada Maret atau April (awal musim kering). Karena perubahan iklim, musim hujan berlangsung hingga Maret, maka padi tersebut akan hancur dan tidak bisa dipanen. Selain itu, permanasan global juga mengakibatkan meningkatnya permukaan air laut. Data terakhir memperlihatkan, permukaan air laut mengalami peningkatan sebesar 75cm setiap tahunnya yang terjadi di seluruh bagian dunia. Saya pun juga sempat memperhatikan kondisi pesisir Jawa, termasuk Jakarta dan Semarang dimana air laut semakin naik dan telah masuk ke pemukiman. Berbagai hal dilakukan termasuk meninggikan permukaan jalan dan tanah, yang tampaknya tidak cukup memperbaiki keadaan. Selain itu, pemanasan global juga mengakibatkan meningkatnya suhu global, terganggunya ekologis alam, sampai kepada dampak sosial dan politik.

Bagaimana kita bisa memperbaiki kondisi ini, paling tidak menghindari keadaan yang lebih buruk? Salah satunya adalah melakukan program Go Green. Program Go Green yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah Hemat Listrik, Hemat Bahan Bakar yakni dengan menggunakan transportasi publik, kurangi konsumsi kertas. Dengan menghemat listirk dan bahan bakar, maka kita dapat mengurangi emisi gas karbon yang dihasilkan dari mesin pembangkit dan kendaraan kita. Jagalah kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya, serta membuat sanitasi yang baik, dengan itu maka kita bisa mendapatkan sumber air yang bersih dan menjaganya. Kita dapat mendaur ulang benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi. Sayangilah lingkungan anda dan jagalah kelestariannya, tanamlah pepohonan jika anda memiliki pekarangan di rumah.

Satu hal yang bisa disimpulkan adalah, tujuan program Go Green adalah menjaga keseimbangan alam agar kita manusia dapat menempati alam ini dengan nyaman. Jika alam ini tidak lagi bersahabat untuk tempat tinggal kita, mau dimanakah lagi kita tinggal?

-YS-

Rabu, 16 Juni 2010

Tidak Mudah Menjadi Manusia Sepertiku

Knapa gw harus hidup seperti ini?

Gw trus melakukan hal yg menjijikan, padahal gw sadar kalo keadaan gw gak improve banget. Kemampuan dan potensi gw sama sekali blom gw gali dan kembangkan. Dan gw tau itu, dan gw juga tau kalo gw sedang stak di tengah perjalanan hidup yang masih panjang membentang. Smakin lama, gw smakin ingin bertanya. Apa sih yang gw butuhkan dalam hidup ini...

Apa sih yang gw butuhkan dalam hidup ini? Apakah duit yang melimpah sehingga semua yang gw mau bisa gw dapet? Mau ganti motor setiap hari atau setiap kali pun bisa. Mau pergi kemana pun ke pelosok dunia, tanpa harus khawatir duit gw bakalan habis. Atau gw butuh seorang kekasih, seorang wanita, dia cantik seksi dan montok, ber-payudara besar, indah dan seksi, seperti wanita yang ada di film bokep yang sering gw tonton selama ini, yang bisa gw liat sepuasnya atau gw 'pake' semaunya? Apakah harus seperti itu? Apakah gw sdemikian iri-nya dengan orang2 itu, dengan segala keberuntunganya? Kalo gitu, berarti gw gak menikmati apa yang sudah gw dapet dalam hidup gw donk.

Gw sadar, kalo gw masih seperti anak kecil, yang blom berani dengan apa yang gw hadapi dan apa yang ada dalam kenyataan. Gw seolah-olah masih hdup dalam dunia imajiner. Keinginan-ku hanya terpenuhi dalam mimpi gw aja, dan keinginan2ku itu hanya semu... Blom tentu benar2 apa yang aku ingin dan aku butuhkan sbenarnya.

Setan telah menjerat diri gw terlalu dalam dan terlalu lama. Sampe2 gw lupa bagaimana diri ku waktu aku masih lugu dan apa yang aku lakukan, apa yang aku inginkan, dan apa yang aku harapkan..

Semakin gw merenungkan hal ini, semakin gw takut menghadapi langkah selanjutnya. Apa yg harus gw lakukan kemudian... Gw hanya takut terjerumus dalam lubang yg sama berulang kali. Dan gw takut terjerumus ke dalam dosa yang tak terampuni. Tuhan, sungguh berat menjadi manusia itu. Apalgi manusia seperti aku.


Ditulis pada tanggal 23 Mei 2010, pukul 10.15

Jumat, 11 Juni 2010

Selamatkanlah Bumi atau Selamatkanlah Manusia…?

Manusia adalah penghuni bumi bersama dengan ribuan spesies binatang dan tumbuhan saat ini, sejak Jaman Holosin (10.000 tahun SM). Pada awal jaman ini, manusia sejenis Homo Sapiens, yang merupakan nenek moyang kita, termasuk kamu dan saya, bermunculan di muka bumi. Entah bagaimana proses pemunculannya, sampai saat ini belum ada yang dapat menjelaskannya.  Sebelum Jaman Holosin, terdapat Jaman Pleitosen yang terjadi 600.000 tahun yang lalu. Manusia purba sejenis Homo Erectus hadir di jaman ini. Jaman Pleitosen dan Holosin merupakan bagian dari Jaman Kuartier, sedangkan Jaman Tersier terjadi 60 juta tahun yang lalu yang ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui. Baik Tersier maupun Kuartier, keduanya merupakan Jaman Neozoikum atau jaman hidup pertengahan. Jika kita mundur lagi, kita menemui Jaman Mesozoikum (140 juta tahun yang lalu), Jaman Paleozoikum (340 juta tahun yang lalu) dan Jaman Arkaezoikum (2500 juta tahun yang lalu). Untuk detailnya dapat Kamu baca di buku-buku sejarah SMA.

Berdasarkan informasi di atas, kita akan tahu bahwa peradaban manusia baru berumur kurang lebih 10.000 tahun yang lamanya. Hal ini jelas dong… tidak bisa kita bandingkan dengan umur bumi yang sudah melewati berbagai jaman. Banyak orang atau instansi yang menyerukan Save The Earth atau selamatkanlah bumi, selamatkanlah alam ini. Kalau kita renungkan sejenak dan kita tinjau dari paragraf pertama, maka bukankah seharusnya yang kita upayakan keselematannya adalah manusia itu sendiri. Alam bukan bergantung kepada manusia, tetapi peradaban manusia yang bergantung kepada kondisi alam. Selama kondisi alam masih “bersahabat”, maka selama itulah peradaban manusia bisa berjalan dan manusia akan terus hidup.

Pertanyaan saat ini adalah, “Akankah bumi akan hancur akibat pengrusakan alam oleh manusia?” Mungkin saja tapi menurut saya kecil kemungkinannya. Jika pertanyaannya dibalik menjadi, “Akankah peradaban manusia akan hancur akibat Bumi?” Sangatlah mungkin jika manusia tidak dapat bertahan hidup lagi akibat kondisi alam yang terlalu ekstrim. Kita lebih populer menyebutnya sebagai Kiamat Manusia. Belakangan ini banyak yang meramalkan akan datangnya hari itu dalam waktu yang tidak lama.

Coba kita kembali ke Jaman Pleitosen sekitar 600.000 tahun yang lalu. Tahukah kamu, pada jaman ini terjadi berbagai bencana hebat di muka bumi, seperti Supervolcano dan Tubrukan Meteor. Danau Toba adalah salah satu hasil supervolcano yang meledak pada 74.000 tahun yang lalu. Ledakan ini jauh lebih besar ketimbang letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Sebagai informasi, letusan Gn. Tambora menewaskan sekitar 72.000 orang, yang pada masa itu masih sedikit penduduknya. Dampak letusannya terasa hingga ke seluruh dunia. Tak bisa kita bayangkan, jika supervolcano terjadi pada saat manusia sedang berkembang. Bencana dahsyat lain adalah tubrukan meteor ke permukaan bumi. Peristiwanya memang sangat jauh antara meteor yang satu dengan yang lainnya, bisa ribuan atau puluhan ribu tahun jaraknya, tidak sebanding dengan tahunnya manusia. Bisakah kita bayangkan sudah seperti apa jadinya bumi dengan bencana-bencana yang terjadi itu. Nyatanya bumi masih ‘baik-baik’ saja saat ini. Kita kembali ke Jaman Arkaezoikum, 2.5 Milyar tahun yang lalu. Saat itu bumi memiliki lapisan yang sangat panas, dan belum terdapat lapisan udara. Jarak bulan dan bumi sangat dekat dan dapat jatuh menimpa bumi sewaktu-waktu. Lalu, apakah umur bumi akan singkat saat itu? Tidak khan, bahkan bumi masih terus berotasi dan berevolusi sampai sekarang.

Ciptaan manusia mungkin ada batas waktunya, tapi ciptaan Tuhan... tidak ada yang tahu sampai kapan batas waktunya. Umur manusia saja tidak bisa kita perkirakan. Lalu, selamatkanlah bumi atau selamatkanlah manusia yang lebih kita serukan? Jika ingin hidup lebih lama di bumi, maka perlakukanlah bumi dengan sebaik-baiknya dan peliharalah alam ini. Seperti kita memelihara raga kita, dengan makan minum dan membersihkan diri. Dengan cara seperti ini, paling tidak kita bisa tinggal dengan lebih nyaman dari saat ini, walaupun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok.

Ignatius Yudistiro Sampurna.
Jumat, 11 Juni 2010