Minggu, 21 November 2010

BUS, Dahulu dan Sekarang

Semua orang terutama buat yang remaja ke atas, pasti punya kenangan di tahun sebelum masa reformasi. Saya pun juga demikian, salah satu kenangan itu adalah pengalaman naik bis malam. Jika saya pulang ke kampung halaman saya yang berada di daerah Klaten, saya biasanya menggunakan moda bis AKAP atau bis malam, karena di dekat rumah ada banyak terdapat agen bis-bis malam. Berdasarkan pengalaman saya dan sharing dari teman-teman saya, sebelum masa reformasi moda transportasi darat ini mencapai puncak kejayaannya.

Tahun 90an, di Kota Jakarta dan sekitarnya terdapat banyak PO (Perusahaan Otobus) yang melayani transportasi AKAP, AKDP maupun Pariwisata. Mereka tentunya saling bersaing secara sehat untuk mendapatkan penumpang sebanyak mungkin dengan cara menawarkan kepada calon penumpang berbagai trayek, kelas bis, fasilitas dan hal-hal lainnya.

Dari segi trayek, untuk trayek di pulau Jawa sendiri banyak PO yang melayani trayek ke daerah-daerah mulai dari Bandung, Semarang, Jogja, Solo sampai ke Surabaya, yang jumlahnya mungkin sekarang sudah tidak dapat diingat lagi. Sedangkan untuk pelayanan ke luar pulau Jawa, seperti Sumatera ada beberapa PO asal Sumatera yang melayani trayek dari Jakarta ke beberapa daerah di pulau Sumatra, sebut saja PO Lorena, PO ALS, PO SAN, CV. Pelangi, dan lain sebagainya. Sementara, untuk trayek dari Jakarta ke Bali dan Lombok, sebut saja PO Safari Dharma Raya (OBL) dan Lorena yang saya ingat melayani rute itu.

Dari segi kelas, waktu itu banyak terdapat kelas-kelas dalam bis AKAP maupun AKDP, yang tentunya mempengaruhi fasilitas yang akan didapat bagi penumpang. Mulai dari Economy Class, Patas, VIP Class, Bussiness Class, Executive Class, dan Super Executive Class. Beberapa PO juga memiliki penamaan tersendiri seperti Super Deluxe, Royal Coach, dan lain-lain. Dari segi fasilitas, setiap PO memberikan fasilitas yang benar-benar sesuai dengan kelasnya, artinya kenyamanan penumpang benar-benar menjadi hal yang diutamakan. Contohnya, penumpang kelas Super Executive akan mendapat fasilitas berupa kursi yang lebar, lega, empuk serta nyaman, selimut yang tebal, bantal, TV dan musik, toilet, serta mendapat snack dan makan prasmanan, belum lagi pelayanan kru nya yang ramah, bis yang nyaman dan bagus, dan fasilitas plus-plus lainnya.

Selain itu, hampir semua PO menawarkan kecepatan untuk sampai di tujuan. Oleh karena itu, muncul istilah Bus Cepat, atau Bis Malam Cepat, karena mereka memang memberikan hal itu. Maka dari itu, perjalanan di malam hari menjadi perjalanan yang menegangkan. Pantura, jalur yang sering dilewati bis-bis malam, dijadikan arena balap buat para sopir bis malam. Adegan salip-salipan kerap sering terjadi. Saya sendiri mengenal satu PO yang terkenal dengan kenekatan-nya di jalan pantura, yaitu Lorena. Sayang, dulu tidak punya kesempatan untuk naik bis ini.

Sekarang, setelah jaman reformasi, apa yang terjadi? Krisis yang melanda Indonesia tahun 1998 memberikan dampak yang luas, salah satunya kenaikan harga BBM. Beberapa PO bangkrut karena terus merugi, keuntungan-keuntungan yang di dapat tidak dapat mengimbangi jumlah pengeluaran untuk perawatan armada dan bahan bakar yang kian meningkat. Hal ini diperparah dengan banyaknya maskapai pesawat terbang yang menawarkan tiket lebih murah. Hal ini membuat beberapa PO terpaksa menutup trayek-trayek tertentu, terutama trayek ke luar pulau Jawa. Harga tiket bis semakin naik tetapi tidak diimbangi dengan pelayanannya. Pelayanannya justru menurun antara lain mengurangi jatah snack dan makan, menambah jumlah seat yang sebelumnya terasa lega sekarang menjadi lebih sempit. Fasilitas-fasilitas yang ada tetap dipertahankan walau sudah rusak dan usang, contohnya kursi.

Banyak PO yang mengurangi jumlah armada yang beroperasi, termasuk mengurangi kelas yang tadinya bervariasi sekarang tidak lagi. Dari hal inilah kemudian masalah ketidak-puasan dari penumpang bermunculan. Sebagian besar penumpang merasa tidak puas karena tidak mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang sesuai dengan kelasnya. Contohnya, seorang penumpang naik bis kelas Super Executive, tapi dia mendapatkan kursi yang sudah rusak, AC tidak dingin, toilet bau, tidak dapat snack, makanannya tidak enak, TV dan musik rusak sampai dengan pelayanan kru yang tidak ramah.

Selain fasilitas, banyak PO yang mempertahankan bis-bis yang sudah tua dan bahkan sebagian sudah tidak layak jalan lagi, tanpa adanya peremajaan armada yang baru. Isitlah bus Cepat menjadi slogan belaka, jangankan cepat sampai tujuan, bis malah mogok di jalan. Perjalanan di pantura menjadi perjalanan yang membosankan, karena bis-bis berjalan lambat dan santai. Selain karena armada yang sudah tidak prima, hal ini dikarenakan solar Jatah, yaitu bis yang dijatahi sekian liter solar untuk setiap perjalanan. Jadi, kalo supir bis ingin ngebut maka siap-siap saja tekor untuk solar.

Masa Pasca Millenium dan Krisis merupakan masa-masa tersulit dan sangat mematikan untuk perusahaan Otobus. Kini, setelah semuanya berlalu, perusahaan-perusahaan otobus mencoba kembali memajukan dan mengangkat perusahaan mereka yang sempat jatuh. Beberapa PO sudah mulai membenahi perusahaan dan meningkatkan pelayanan. Bahkan, tidak sedikit PO-PO baru bermunculan, ini artinya moda transportasi darat ini sedikit demi sedikit mulai bangkit kembali, kejayaan yang silam mulai dirajut kembali. Beberapa PO mengeluarkan armada terbarunya dengan mesin terbaru pula. Saat ini mereka pun mulai saling berlomba untuk memberikan yang terbaik untuk penumpang mulai dari mesin bis yang baru dan tangguh di jalanan, desain karoseri yang cantik, interior yang bagus dan nyaman, sampai fasilitas. Dibawah ini terdapat foto-foto perbandingan bis jadul era 90an dengan bis yang saat ini. Saya, sebagai pengguna setia dan penggemar bis, mengharapkan kelak PO-PO di seluruh Indonesia (tidak hanya Jawa) bisa berjaya lagi melebihi kejayaan yang lalu.

Foto Bis PO. Muji Jaya, jadul dan yang terbaru

Foto Bis PO. Kramatdjati, jadul dan saat ini

Foto Bis PO. Ramayana, jadul dan yang terbaru

Foto Bis PO. Putra Remaja, jadul dan saat ini

Sumber Foto2 dari Forum Bismania: www.bismania.com

Minggu, 14 November 2010

Ke Jepara dan Solo, Perjalanan yang "Menyenangkan"



Ini tentang pengalaman saya naik bus ke kota Solo. Memang ini bukan yang pertama kalinya, hanya saya ingin mensharingkan tentang sekilas dunia per-bis-an melalui apa yang saya alami, dan kebetulan saya juga seorang penggemar bis. Pada awal Oktober lalu, saya memutuskan 'secara mendadak' pagi harinya untuk pergi ke Solo. Saat itu juga saya langsung menelpon ke agen bus di Terminal Lebak Bulus. Saya memilih PO Shantika dengan mesin Scania. Bus ini akan mengantar saya ke Jepara via Semarang, nanti dari Semarang baru disambung lagi dengan Patas tujuan Solo. Inilah cara menyenangkan buat saya untuk jalan-jalan.
Kembali saat saya menelpon agen, saya tanya apakah saya bisa memesan seat terdepan. Pihak agen pun menyanggupi dan saya 'deal' dengan agen untuk datang jam 16.30. Sebuah pelayanan yang cukup memuaskan ditambah dengan keberuntungan saya sehingga saya mendapat seat nomor 1.

Saya tiba di terminal Lebak Bulus jam 4 lebih 15 menit, yang saya tempuh dengan naik bus Deborah dari Depok. Saya langsung menuju tiket dan menukarkan uang sejumlah 130 ribu rupiah dengan selembar tiket. Pihak agen kemudian memberitahu saya bahwa bus sudah ada di tempat dan saya bisa langsung masuk ke dalam. Lalu saya menuju ke tempat dimana bis itu berada. Saya senang ketika melihat bis yang saya naiki ini. Ini termasuk armada terbaru yang dimiliki PO ini. Bus dengan mesin Scania K380IB yang dibajukan dengan karoseri Scorpio King pabrikan dari Tentrem, berwarna putih dengan garis-garis dinamis. Bis ini menjadi bahan perbincangan para penggemar bis belakangan ini. Selain karena power-nya yang paling besar saat ini, yaitu 380 HP, di Jawa sendiri hanya 2 PO yang setahu saya baru memiliki mesin tipe ini.

Pukul 17.45, bus berangkat meninggalkan terminal, dan langsung masuk Tol JORR tanpa 'ngetem' lagi di pinggir jalan. Ketika sampai di Jati Asih, bus ini keluar Tol. Saya juga kurang tahu apakah di daerah ini ada agen atau tidak. Bus berhenti sekitar 10 menit, dan menaikkan 1 atau 2 orang penumpang. Kebetulan bus tidak penuh dan masih tersisa beberapa kursi kosong. Setelah itu, bus berjalan lagi dan masuk Tol Cikampek.
Bus kelas eksekutif ini tentunya dapat fasilitas, selain AC dan toilet seperti Reclining seat, leg rest, bantal, selimut, TV LCD dan musik (saat itu TV musik tidak dinyalakan karna tertulis ada masalah dengan sistem audio-nya), dan yang pastinya saya mendapat servis makan prasmanan. PO ini bekerja sama dengan RM. Barokah Indah yang ada di daerah Indramayu (kalau tidak salah). Menu makanan malam ini cukup enak walau terlihat biasa-biasa saja bagi saya. Saya sampai di rumah makan ini sekitar jam 9 kurang, dan penumpang diberi waktu untuk makan, istirahat, dan lain-lain selama 30 menit, setelah itu melanjutkan perjalanan.

Waktu makin malam, dan bagi penumpang lain ini waktunya tidur yang nyenyak. Perut sudah kenyang, AC cukup dingin, ditambah suspensi udara yang nyaman biasanya akan membuat penumpang tertidur nyenyak, cepat atau lambat. Tapi tahukah Anda, bahwa ketika para penumpang tertidur, para sopir bus akan memacu bus-nya lebih cepat dan kadang lebih gila. Inilah pertempuran malam dimulai. Bus berjalan terasa halus, tapi diam-diam angka di speedometer sudah menujukkan 125 km/jam (angka maksimal di speedo). Bus-bus lain yang berada jauh di depan mampu dikejarnya dan disalip, bahkan bus-bus yang 30 menit lebih berangkat lebih dulu dari terminal Lebak Bulus pun sanggup disusulnya. Tapi, saya melihatnya masih wajar, lantaran mesin bus ini yang sanggung mengeluarkan power 380 HP sementara bus-bus lain hanya sekitar 180 HP, 210 HP, 250 HP, 260 HP saja, ditambah solar yang tidak dibatasi. Alhasil, apa yang terjadi semalam menjadi tontonan yang menarik buat saya.

Kekhawatiran mulai melanda karena sampai di tempat tujuan lebih pagi dari yang saya perkirakan. Jam 3 kurang sudah sampai di Semarang, dimana saya berencana turun di sini. Tapi, saya urungkan rencana itu dan saya lebih memilih melanjutkan sampai Jepara, demi keamanan. Lagi-lagi karena bus yang melaju cepat, Semarang - Jepara hanya ditempuh 1 jam kurang. Akhirnya saya meminta tolong kepada kru bus ini untuk diperbolehkan ikut sampai ke garasi sambil menunggu matahari terbit. Setelah menurunkan penumpang terakhir, bus menuju ke garasi yang berada di daerah Ngabul, Jepara. Saya pun diperbolehkan tidur di dalam bus.

Paginya, saya bangun dan meninggalkan garasi. Saya mengurus pertiketan dahulu untuk saya pulang ke Jakarta sebelum beranjak ke Solo, yang ternyata ujung-ujungnya tidak berhasil dan saya putuskan untuk langsung ke Solo. Saya berangkat dari Jepara jam 11 siang, naik bus 3/4 ke Semarang. Waktu saya naik, bis tidak terlalu penuh, dan saya memilih duduk di belakang, dekat pintu belakang. Bus lambat laun dipenuhi orang-orang yang baru masuk/pulang kerja. Mereka kebanyakan adalah para wanita dari pabrik rokok Djarum, terlihat dari topi khas yang mereka pakai. Beruntung saya memilih tempat duduk yang pas, jadi saya tidak ikutan desak-desakan seperti yang lain, lega dan tidak panas. Kalo pagi tadi naik bus besar, Semarang - Jepara bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 1 jam, lain halnya dengan bus reguler ini. Dari Jepara ke Semarang via Demak ditempuh sampai 2 jam lamanya.

Sampai di terminal Terboyo Semarang jam 1 siang. Kebetulan ada Patas Safari ke Solo yang barusan ke luar terminal, lalu saya berlari dan saya cegat di putaran. Ada pengalaman yang menarik selama naik bus ini. Awak bus ini berseturu dan merasa kesal dengan bus beda PO di depannya yang melayani trayek yang sama, lantaran mereka berjalan lebih dulu. Alhasil jalur Semarang Solo menjadi jalur yang terpanas dari yang pernah saya temui. Mereka saling kejar-kejaran, dan biarpun hujan deras, sopir Safari ini tetap melajukan bus ini dengan kencangnya, yang sempat membuat saya was-was. Kemelut antara dua bus dua PO berakhir di terminal Bawen, saat bus yang saya naiki masuk ke terminal sementara sasarannya jalan terus. Tapi, ternyata hal itu tidak membuat sopir bus Safari ini menjadi tenang, dia tetap 'panas' mengendarai bus ini, bahkan sampai mendahului sesama Patas Safari lain, yang berhasil tersusul di daerah Boyolali. Beruntung, saya sampai di Solo dengan selamat.

Kamen Rider Jadul

Habis nonton film Kamen Rider RX, gw dapet satu episode film ini dari temen gw. Tapi, di film itu varian Kamen Rider RX mulai dari Kamen Rider black, black RX, RX robo, sampe RX bio semuanya nongol... mungkin dengan pemain yang beda. Padahal kalo dulu mikirnya... satu Kamen Rider diperanin sama satu orang, ya si kotaro minami itu.

Kamen Rider RX, kalo dulu gw nyebutnya Ksatria Baja hitam, dan kayaknya itu istilah emang dari stasiun TV yang dulu nayangin film ini. Gw tuh ngerasa lucu aja, ngeliat film ini dari segala hal. Dari pas kotaro minami berubah pake gaya yang khas banget, kayaknya ribet aja gitu loch... kalo dipikir-pikir, musuh pasti udah nyerang duluan pas kotaro minami lagi berubah pake gaya itu... tapi nyatanya, monsternya cuma ngeliatin aja. Aneh banget khan?...

Terus, kalo liat jubah besi yang dipake, bener-bener2 cupu abiiss. Dulu nganggepnya itu jubah besi beneran, tapi kok banyak tekukan-tekukan ya? hahaha... Keliatan banget kalo itu dari kulit atau karet, dan gak ada kesan besinya. Coba perhatiin bagian pangkal ketek, lutut, sikut, paha, leher ama pinggang, gak tertutup kayak di dadanya aau bagian lain alias gak rata. Maksudnya sih biar aktornya bisa gerak bebas. Coba dari ujung kepala sampe kaki dibuat tertutup... ya gak bisa gerak lah...

Teknik kameranya juga pake teknik lama, paling sering pake teknik reserved ama cut scene. Contohnya, pas RX mau pake jurus tendangan maut. Kamera nyorot RX yang masih di atas tanah, trus dia loncat. Tauk-tauk udah ganti scene, pas dia udah di atas, di langit. Padahal kita tauk tuh, ngloncatnya gak tinggi-tinggi banget. Kalo teknik reserved, contohnya pas RX atau monsternya loncat dari bawah ke atas. Padahal tuh cuma diputer balik aja, aslinya dia loncat dari atas dulu.

Kalo dari sisi karakter ceritanya... terlalu didramatisir. Penuh solidaritas, setia kawan. Trus, hampir setiap episode menampilkan cerita yang sama. Monster bikin kacau, datenglah kotaro minami, trus berubah jadi RX, trus monsternya kalah. Kadang gak ada hubungannya antara episode satu dengan yang lainnya. Gak kayak yang sekarang, very complicated... yang kadang permasalahan gak selese dalam satu episode... dan cerita setiap episode selalu berhubungan, jadi kalo gak nonton satu episode, nonton episode berikutnya jadi janggal.

Cara si Baja Hitam ngalahin monsternya juga simple banget. Biar ceritanya lebih seru pasti pertama si jagoannya gak kuat ngelawan monsternya. Tapi kalo udah mau abis ceritanya, gak tau gimana tauk2 tuh jagoan jadi kuat trus bisa ngalahin monsternya. Ibarat jagoan kalah duluan menang belakangan dipake di cerita ini. Trus yang gak kalah serunya pas di ending. Udah ciri khas banget, kalo monster kalah trus meledak trus jagoannya balik arah sambil gaya trus diem beberapa detik. Sumpah konyol abis...

Trus soal belalang tempur, perhatiin deh setiap kalo Baja Hitam naik motor belalang tempurnya... muter dulu sambil diliat, abis itu berdiri disampingnya trus langsung ngangkangin tuh motor. Sett dah, ngangkangnya biasa ja mas... Seru abis. Udah gitu, knalpotnya banyak banget, yang satu knalpot beneran yg satunya lagi cuma corong... wkwkwk. Trus kalo ngebut pasti banyak asep nya alias ngebul... ketawan kalo pake motor 2 tak.

Trus... dari soundtrack... lagunya enak-enak, tapi kebanyakan penyanyinya bapak2, ketawan dari suaranya yang ngebass.

Tapi, hebatnya dari serial ini adalah memang ditujukan untuk anak-anak. Ksatria Baja Hitam yang dulu ceritanya ringan dan adegan perkelahiannya gak brutal. Ceritanya juga inspiratif. Penggemar Tokusatsu di Indonesia kebanyakan dulunya emang seneng banget nonton film ini dan kegemaraannya biasanya berawal dari film ini. Seiring perjalanan waktu, penggemar Ksatria Baja Hitam ini yang dulunya masih kecil sekarang sudah remaja dan dewasa, yang tentunya seleranya sudah tidak seperti dulu lagi. Tapi mereka tetap menggemari serial Masked Rider Jepang dari tahun ke tahun, karena serial Masked Rider jepang semakin berkembang, semakin canggih dan cerita juga tidak sederhana lagi dan bahkan menurut saya sudah tidak cocok lagi ditonton oleh anak-anak.

PENYESALAN

sebuah rasa penyesalan yang tak kunjung hilang... mengapa aku masih memendam rasa itu... ketika waktu tak dapat lagi diputar balik... apa yang harus aku lakukan...
seikat kenangan yang masih menyatu di kepalaku... terlihat masih jelas... dan rasanya pun masih terasa...
sungguh-sungguh aku menyesal... sangat-sangat menyesal...
mengapa aku dilahirkan seperti ini... tak punya nyali sedikit pun...
tak berani bertindak... hanya mampu menatap dari kejauhan...
hingga cinta melayang begitu saja...

aku sakit... aku sakit bukan karena dia...
aku sakit... karena diriku sendiri...
ketika itu...
hanya bisa melihat dari balik kaca...
hanya mampu menyentuh dari seberang daratan...
hanya berani berbicara dengan secarik kertas...
hanya dapat tersenyum saat tak ku terlihat...
semuanya ... tak ada gunanya...


cintaku sangat membekas di hati...
namun sungguh memilukan...

bodoh!! aku sangat bodoh!!
hatiku menyimpan rasa penyesalan diri yang amat dalam
ketika ku teringat semua kenangan itu...

cinta yang tak terucapkan...
cinta yang belum sempat ku sampaikan...
cinta yang tak berani ku perlihatkan...
cintaku ini sungguh2 memalukan...
namun cintaku ini masih membekas...

masihkah ada kesempatan ...
untukku bertindak ...
atas nama cinta...
aku ingin mencoba lagi...
memberanikan diri...
menghadapi cintaku ini...

Serunya Naik Kereta Api Ke Bandung

Salah satu pesona yang bisa kita nikmati saat pergi ke Bandung adalah perjalanannya. Bandung, sebuah ibukota dari provinsi Jawa Barat, terletak di dataran tinggi. Lokasinya dikelilingi perbukitan dan gunung-gunung, makanya jika kita pergi ke Bandung, kita harus mendaki dan menuruni gunung dan kadang membelah bukit. Saya dan teman-teman saya tidak pernah bosan pergi ke kota itu karena selain kotanya masih sejuk, untuk menikmati kota Bandung kita cukup butuh satu hari saja, itu sudah termasuk perjalanan pp. Di antara banyaknya transportasi umum menuju Bandung, saya dan teman saya lebih memilih moda Kereta Api. Mungkin dipikiran kami, naik gunung dengan kendaraan mobil atau bus itu sudah biasa, tapi kalo dengan kereta api... pastinya lebih menyenangkan.

Kebetulan minggu lalu saya pergi ke Bandung dengan kereta api. Harga tiket kereta api dengan bis AKAP ke Bandung tidak jauh berbeda. Untuk kereta api kelas bisnis cukup Rp 30.000, sedangkan kelas eksekutif hanya Rp 50.000. Kelas favorit saya adalah bisnis, karena lebih murah dan kelebihan uangnya bisa untuk membeli oleh-oleh. Pemberangkatan dari Jakarta bisa dari Gambir, bisa juga dari Jatinegara. O iya, nama kereta api ke Bandung sudah berubah. Kalo dulu ada Parahyangan dan Argo Gede, sekarang digabung menjadi satu menjadi Argo Parahyangan.

Umumnya, kita akan mendapatkan nomor tempat duduk di kelas bisnis. Tapi berapa pun nomor tempat duduk yang saya dapat, saya selalu mencari tempat duduk yang kosong di gerbong paling belakang. Biasanya saya menyempatkan untuk tidur sejenak saat perjalanan dari Gambir ke Cikampek. Setelah lewat dari Cikampek dan Purwakarta saya baru bangun dan siap menikmati sensasi perjalanan yang sesungguhnya.

Saat kita sampai di daerah Purwakarta, di sebelah kanan kita akan melihat pegunungan. Di balik gunung-gunung itu, kalau mata kita jeli maka kita akan melihat sebuah danau atau waduk, itulah waduk Jatiluhur. Dari sini pun kita sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa. Dari Purwakarta kita akan melewati Tol Cipularang, dan posisi kita lebih dekat dengan waduk, hanya saja kita sulit melihatnya karena tertutupi gunung. Kalau kita melihat peta, maka di situ ada banyak simbol gunung di sekitar waduk. Tapi ada hal yang cukup memilukan bagi saya, gunung-gunung itu sebagian sudah terkikis karena pertambangan kapur.

Setelah melewati waduk Jatiluhur atau tepatnya setelah melewati Stasiun Plered, kita juga akan melewati Waduk Cirata yang ada di sebelah kanan. Tapi kita tidak dapat melihatnya karena tertutup oleh bukit. Perhatian saya justru tertarik pada liukan-liukan si ular besi ini. Bahkan ada kelokan yang hampir beradius 360 derajat, tepatnya di dekat Stasiun Puteran. Di sini memang terdapat banyak sekali kelokan, karena status kereta sedang mendaki gunung. Biasanya saya sudah tidak duduk lagi di tempat duduk melainkan berdiri di pintu, sambil menikmati udara segar dan pemandangan yang menakjubkan. Tapi, perjalanan masih panjang dan itu semua belum seberapa.

O iya, sebenarnya di daerah ini kita akan melewati sebuah Jembatan yang fenomenal di Indonesia, yaitu Jembatan Cisomang, hanya saya tidak tahu tepatnya di daerah mana. Jembatan Cisomang merupakan Jembatan KA paling tinggi di Indonesia, kurang lebih kedalamannya mencapai 200 meter. Tapi, jembatan ini tidak menyeramkan karena memiliki jalan kecil di sisinya sehingga lebih lebar. Berikutnya, salah satu rekor yang ada dalam perjalanan ini adalah Terowongan Sasaksaat. Terowongan Sasaksaat merupakan terowongan KA paling panjang yang masih aktif di Indonesia, panjangnya kurang lebih 949 meter. Terowongan ini terasa menyeramkan karena "kata orang sekitar" terowongan ini adalah terowongan yang angker. Biasanya saya selalu menutup pintu kereta api jika sedang melewati terowongan ini.

Tidak jauh dari Stasiun Sasaksaat, kita akan melintasi kembali Tol Cipularang, dari bawah kolong. Dari sini kita bisa melihat jembatan yang sangat mengagumkan yang akan kita lewati. Sungguh luar biasa, sangat mendebarkan, kalau kita ada di pintu maka hanya beda satu langkah tingginya sudah mencapai puluhan dan ratusan meter. Jembatan ini tidak mempunyai pembatas dan kita bisa melihat apa yang ada di bawah jembatan ini. Selain itu, kita juga bisa menikmati jembatan Tol Cipularang yang tidak kalah tingginya. Inilah yang saya maksud sensasi itu. Kemudian dari sini kita akan melewati jembatan-jembatan lain yang jumlahnya masih saya belum tahu (mungkin ada 10 lebih), yang semuanya tidak ada pembatasnya.

Akhir dari sensasi yang mendebarkan ini berakhir di daerah Padalarang, karena kita sudah mulai memasuki Kota Bandung. Sekedar tips dan saran, pilih perjalanan di pagi hari dan menjelang sore, karena selain masih bisa menikmati pemandangan, udaranya tidak terlalu panas. Jangan nekat berdiri di pintu kereta yang terbuka, dan waspadalah terhadap pelempar batu yang setiap saat bisa mencelakai Anda (saya saja hampir kena lho...), terutama di jalur Jakarta-Cikampek. Jangan buang sampah di jalan, karena bisa merusak alam.